Berkat akal budinya, manusia dapat mengabadikan kesejarahan dunia ini, baik berupa dunia-luar yang kasat mata maupun dunia–dalam yang ada dalam relung hati, fikiran dan emosi.  Hanya dengan  menggunakan 26 huruf seluruh pengalaman bahkan angan-angan masa depan manusia dapat ditungkan kedalam lembaran-lembaran kertas yang kemudian dijilid. Benda inilah yang kita sebut buku.

Apakah buku itu? Jawaban atas pertanyaan itu sangat tergantung pada ketertarikan kita, apakah pada karakteristik  fisiknya atau kegunaannya. Berdasarkan tampilan fisiknya, sesuatu bisa dikatakan buku apabila terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang disusun dan kemudian dirapihkan pada keempat tepinya serta dilindungi pada bagian depan dan belakangnya dengan sampul yang agak tebal dan bahannya tahan lama. Dalam pengertian sederhana ini, tidak hanya novel atau kitab tafsir saja, namun buku cek, buku kas atau buku nota juga bisa dikatakan sebuah buku.

Berdasarkan kegunaannya, sesuatu dikatakan buku apabila terdiri dari rangkaian informasi atau data yang bermakna yang saling berkaitan sercara sistematis dan bernalar. Buku merupakan komunikasi tertulis yang disusun untuk tujuan presentasi dan pemeliharaan sumber-sumber informasi berharga. Yang membedakan buku dengan berbagai bentuk komunikasi lainnya yang sifatnya tidak abadi, yaitu buku memiliki nilai pemeliharaan,  menyimpan pengalaman, pengamatan, serta pemikiran kritis yang berguna untuk jangka panjang.

Tidak ada catatan sejarah yang mengatakan pada kita kapan budaya keaksaraan mulai masuk di Indonesia. Padahal kalau ada, itu bisa dijadikan sebuah tonggak untuk mengetahui kapan sesungguhnya bangsa Indonesia ini mulai mengenal dan dikenal dunia. Fakta sejarah yang ada hanya menyuguhkan sebuah kenyataan yang memilukan bahwa pada saat Indonesia meredeka  90% jumlah penduduknya buta huruf.  Menelusuri sejarah buku pada hakikatnya sama dengan mengikuti perjalanan peradaban sebuah bangsa.

Pada zaman kuno.

Buku pada awalnya digunakan sebagai pemeliharaan tradisi yg disampaikan secara lisan agar tidak punah. Kepunahan ini diakibatkan karena keterbatasan daya ingat dan daya tampung  memori manusia. Pada umumnya yang menjadi isi buku pada zaman ini adalah ramuan obat, sihir, doa dan ritual, cerita kepahlawanan dan hikayat, silsilah kerajaan atau pemerintahan, hukum-hukum, pengalaman medis, dan pengamatan tentang alam.

Pada mulanya hasil karya ini hanya dibuat satu salinan dari tulisan asli, kemudian salinan ini dapat diperbanyak berdasarkan kebutuhan. Kemampuan untuk memperbanyak tulisan ini merupakan salah satu faktor penting dalam perjalanan sejarah kebudayaan Barat. Pada masa Romawi kuno, ratusan salinan hasil karya penulis terkenal diproduksi dalam waktu yang relatif singkat. Pada zaman Romawi ini juga, alat pencetak hanya mampu mencetak ribuan salinan. Berbeda dengan  era mesin seperti sekarang ini, buku dapat dicetak hingga jutaan kopi.

Tulisan tentu saja usianya jauh lebih tua dari buku. Tulisan awalnya dibuat di atas bermacam permukaan bahan yang mudah rusak. Kemudian beralih pada media yang tahan lama seperti  prasasti yang banyak terdapat di atas batu,  logam, kayu, dan tanah liat, walaupun sedikit jumlahnya. Dalam hal ini kita boleh berbeda pendapat apakah kita akan menggunakan istilah “buku” untuk lembaran-lembaran tanah liat dari zaman Mesopotamia kuno, dimana terdapat kumpulan tulisan kuno mengenai hukum-hukum dan cerita kepahlawanan Gilgamesh dalam bentuk baji. Kita juga pernah mengetahui buku dari zaman Mesir, Yunani, dan Romawi kuno. Buku ini diterima secara menyeluruh sebagai sarana penyampaian nilai-nilai yang bersifat abadi. Buku ini diproduksi dan dijual dalam banyak kopi dengan ukuran yang sudah distandarisasi, dibaca dan dikoleksi sebanyak buku yang beredar pada saat itu.

Buku yang paling terkenal pada zaman Mesir kuno di antaranya adalah buku-buku tentang kematian, yang diperuntukkan sebagai persiapan bagi jiwa-jiwa yang akan pergi untuk membimbing mereka menuju dunia lain dan memberikan penjelasan mengenai pengadilan yang telah menanti mereka. Bahan yang digunakan untuk jenis buku ini—dan  kebanyakan buku kuno lainnya—adalah  lontar , yang banyak terdapat di delta sungai Nil. Tanaman lontar ini dipotong menjadi potongan-potongan yang diletakkan menyilang dan berlapis, kemudian ditumbuk dan digosok menjadi lambaran-lembaran halus yang dianyam sehingga menjadi gulungan-gulungan panjang, yang dibelitkan pada sebuah batang – omphalos (Yunani), umbilicus (Latin), atau pusatnya buku. Pada bagian luarnya, gulungan ini dilindungi oleh sampul perkamen atau pipa, terkadang diberi warna sesuai dengan kode yang telah ditentukan, setiap warna menunjukkan kategori utama  dimana setiap tulisan seharusnya berada. Hal ini mempermudah seseorang untuk mengidentifikasi gulungan tanpa harus melepas ikatannya. Kemudian label yang dibuat dari kulit binatang ditambahkan, yang isinya adalah nama penulis beserta hasil karyanya. Orang Romawi menyebutnya titulus – kita mengenalnya dengan “title”. Orang Yunani dan Romawi menempatkan kolom-kolom tulisan dari kiri ke kanan secara berurutan. Panjang garis atau lebar kolom ditentukan dalam satuan heksameter—yang  memungkinkan dibaca dengan mudah atau dibaca sekilas.

Kebanyakan sampul buku diawali dengan foto penulis—hal  yang menandai munculnya sampul muka, yang usianya 2000 tahun lebih tua dibandingkan dengan halaman judul. Ilustrasi pada sampul buku kuno seringkali diambil secara alami, contohnya diagram-diagram matematis dan astronomi, serta gambar-gambar tanaman untuk obat. Ditemukan bukti bahwa di dalam beberapa buku terdapat syair-syair kepahlawanan Homer dan Virgil yang termasyur, serta ditemukan pula gambar pertunjukan Terence. Dipercaya juga bahwa Homer dan beberapa alkitab merupakan awal mula buku yang berisi banyak gambar dengan sedikit atau bahkan tanpa teks, dimana cerita-cerita ini telah berkembang sebelum murid-murid di sekolah dan keluarga-keluarga berkumpul untuk menikmati gambar-gambar yang ditayangkan di bioskop atau layar televisi saat ini.

Pada masa Hellenistic, jilidan-jilidan kuno ini dikelompokkan ke dalam “tomes”, dari bahasa Yunani yang artinya memotong. Jilidan ini terdiri dari karya tunggal sebanyak sepuluh buah, yang disimpan dalam wadah-wadah khusus berbertuk silinder. Proses yang dilakukan oleh bagian fisik dan editorial ini dikerjakan dengan sistematis di Perpustakaan Besar Ptolemies di Alexandria, dimana di tempat ini banyak ditemukan pula gulungan-gulungan buku yang terbuat dari lontar dalam banyak salinan. Koleksi-koleksi ini dikumpulkan dan dipelihara dari abad 3 sebelum masehi sampai dengan abad 5 sesudah masehi.

Banyaknya jumlah buku yang ada di perpustakaan Alexandria pada saat itu merupakan bukti perkembangan peradaban Yunani sebagai kelanjutan dari kepemimpinan Alexander Yang Agung. Sebelumnya, Athena telah menjadi bukan hanya sebagai pusat perkembangan dunia barat, namun juga pusat penjualan buku yang terorganisir dengan baik, dan memiliki cakupan sistem distribusi sampai ke selatan Perancis, Afrika utara, dan timur dekat.

Penjualan buku Romawi ciri-cirinya adalah dengan sistem produksi dalam jumlah besar bagi karya-karya baru untuk mengantisipasi penerbitan buku setelah abad pertengahan. Gulungan dari lontar diproduksi dalam ukuran dan kualitas standar, yang panjangnya dianggap berpengaruh pada komposisi kesusastraan. Perbanyakan dilakukan dengan mendikte atau mengkopi dari salinan master yang terjaga dengan baik. Penjualan buku dipusatkan di beberapa lokasi yang ada di kota. Terdapat pula toko-toko eceran dan toko-toko barang bekas, serta bisnis ekspor yang berkembang cepat. Dengan adanya disintegrasi  kekaisaran Romawi, perdagangan buku kehilangan banyak kekuatan karakternya. Penerbitan tulisan baru yang tersistematis akhirnya terhenti, namun tetap mampu bertahan di Roma selama abad pertengahan dalam bentuk jual beli naskah.

Naskah Abad Pertengahan.

Tampilan fisik dan  fungsi sosial buku  mengalami perubahan penting pada permulaan abad pertengahan. Gulungan-gulungan digantikan dengan codex,  kumpulan lipatan lembaran yang dilindungi dengan penutup dari bahan kayu yang kokoh dan berat, yang notabene merupakan cikal bakal buku modern. Perubahan dari bentuk gulungan menjadi codex terjadi secara berangsur; berlangsung lebih dari beberapa ratus tahun. Barulah pada abad ke-4 setelah masehi proses perubahan ini selesai. Perubahan ini didorong oleh keinginan untuk menghilangkan ketidaknyamanan buku dalam bentuk gulungan, dimana seseorang tidak dapat membukanya lebih dari satu halaman pada satu waktu, sangat sulit untuk mencari sesuatu secara cepat, dan sangat sulit untuk membolak-balik referensi. Peningkatan penggunaan buku dalam acara kebaktian umat Kristen dan kegiatan-kegiatan resmi lainnya juga ikut mempercepat perubahan ini.

Cara pengerjaan serta bahan yang dipergunakan sebelumnya kemudian dimodifikasi mengikuti tuntutan zaman. Kata “codex” awalnya menandakan sebongkah atau bagian dari  kayu. Dalam perkembangannya, istilah ini telah digunakan untuk buku nota kecil, yang terdiri dari lembaran kayu yang diberi lapisan lilin untuk tempat menulis, dan saling dikaitkan oleh lingkaran (rings), seperti pada ring penjilid buku modern. Seseorang menulis dengan menggunakan jarum/pena yang digunakan untuk menulis di atas stensil, dan spatula kecil yang datar untuk menghapus tulisan, seperti hapusan pada pensil modern. Di antara papan kayu diselipkan lembaran tambahan secara bertahap, biasanya terbuat dari perkamen, yang dapat dilipat dengan lebih mudah dan lebih tahan lama daripada lontar yang rapuh dan berserabut. Pada akhirnya, hanya tinggal dua papan kayu bagian terluar yang tinggal, menopang lipatan lembaran yang saling berkaitan di bagian belakangnya, dan dilekatkan pada sampulnya oleh tali kulit penghubung yang kuat. Penggunaan perkamen sebagai alas untuk menulis sudah  umum digunakan di wilayah timur dekat; contohnya gulungan buku dari zaman Palestina dan Persia kuno yang terbuat dari kulit hewan, baik  diberi warna coklat seperti warna kulit atau diputihkan, diulurkan, dan digosok-gosok sebagai perkamen atau naskah yang ditulis pada kulit binatang. Istilah “perkamen” atau “pergamenum” diambil dari kota Pergamum, pusat pembelajaran, dimana pada abad ke-2 sebelum masehi, Raja Eumenes II mendirikan perpustakaan sebagai tandingan perpustakaan Ptolemies.

Di wilayah timur jauh, buku-buku Cina dan Jepang juga mengalami perubahan yang sama, yaitu dari bentuk gulungan menjadi lipatan lembaran yang dilindungi sampul, akan tetapi proses perubahannya jauh lebih sederhana. Buku yang mempunyai lipatan seperti akordeon merupakan salah satu bentuk perkembangan yang terjadi; yang mana gulungan dapat ditukar menjadi rangkaian halaman yang lebih mudah dibuka hanya dengan melipatnya. Dengan menjahit lembaran-lembaran  sepanjang salah satu sisinya, bentuk buku yang paling sederhana telah dihasilkan, sebuah bentuk yang telah bertahan di Cina dan Jepang dari permulaan hingga saat ini. Jenis buku ini dapat dikenali dengan mudah karena  dicetak (atau ditulis) hanya pada satu sisi, dengan sisi yang lain dibiarkan tidak terpotong.

Buku-buku yang beredar di Barat berasal dari codex. Hingga munculnya keahlian yang memprakarsai munculnya jenis-jenis pencetakan yang lebih dinamis, selama lebih dari seribu tahun. Papan-papan kayu yang berat, biasanya terbuat dari pohon eik tua, masih tetap digunakan oleh umat Kristen hingga era Renaisans. Kebanyakan naskah-naskah penting memiliki papan-papan yang dihias dengan bahan-bahan bermutu tinggi; gading, emas, dan perak, yang dikerjakan oleh tenaga-tenaga pilihan dengan beragam tekhnik pandai emas, ditaburi dengan perhiasan dan batu-batu mulia, serta polanya dirancang sesuai dengan simbol-simbol Kristen. Kulit anak sapi berwarna coklat merupakan bahan sampul paforit yang kemudian dihiasi dengan bahan  yang menimbulkan kilauan, serta cuir cisele (kulit yang dibuat dengan teknik dan alat-alat pandai emas). Pada akhir abad pertengahan bahan-bahan tersebut diganti dengan gulungan, cap hias, dan peralatan dari emas. Kebanyakan teknik yang dipakai di  Eropa ini berasal dari dunia Arab,  sebagai bangsa pelopor dalam  penjilidan yang menggunakan hiasan kulit, sekitar abad ke-6.

Jilidan yang paling sederhana dari abad pertengahan  adalah sarung buku yang dibuat dari  kulit binatang. Sepanjang abad pertengahan, bagian punggung buku tetap dibiarkan tanpa hiasan dan tanpa tanda pengenal. Karena pada masa ini buku masih jarang dan penambahannya pun masih sangat sedikit, maka buku disimpan dengan digelatakan di rak atau meja. Pada saat  jumlah buku semakin banyak dan tempat penyimpanannya menjadi langka, maka buku ditempatkan berdiri tegak dengan hanya bagian punggungnya yang terlihat. Dalam posisi ini, pencantuman nama penulis, judul, serta informasi lain yang terdapat pada punggung buku menjadi sangat penting.

Naskah abad pertengahan tidak memiliki halaman judul. Dimulai dengan incipit (“dari sini dimulai”) diikuti dengan gambaran singkat mengenai isi. Pada bagian akhir muncul explicit, yang berarti (“disini dikembangkan”) atau (“pemaparan sampai akhir”). Codex sinaiticus sangat terkenal di museum Inggris, merupakan naskah alkitab abad ke-4, memiliki tidak kurang dari empat kolom pada setiap halamannya. Peraturan umum yang digunakan saat ini adalah satu atau dua kolom per halaman untuk setiap bentuk codex.

Pada awalnya, setiap bab dan sub-bab pada naskah-naskah abad pertengahan ditampilkan dengan hiasan-hiasan dan bentuk-bentuk huruf yang tidak hanya menambah keindahan halaman tersebut, namun juga mampu memudahkan pembacanya.

Bagi para pembaca zaman modern, yang terbiasa membaca tulisan dengan huruf yang sudah terstandarisasi dalam bentuk roman dan italic, naskah-naskah abad pertengahan dianggap memiliki keragaman kreatifitas yang tak terbatas. Tulisan pada abad pertengahan ini sebagian ditentukan oleh gaya menulis indah (kaligrafi), dan sebagian lagi oleh kebiasaan setempat. Ini juga dipengaruhi oleh perubahan pada struktur abjad. Codex-codex terdahulu ditulis dengan menggunakan huruf-huruf kapital formal, seperti pada gulungan-gulungan buku bangsa Yunani dan Latin. Untuk non formal, digunakan tulisan dengan karakter huruf latin cursive pada zaman Romawi kuno unutk korespondensi pribadi dan catatan bisnis, namun bentuk ini penerimaannya sangat lambat. Barulah  pada abad ke-9, pada masa pemerintahan Charlemagne, huruf-hruf kecil dapat diterima secara umum dan distandarisasi. Huruf-huruf kecil ini merupakan asal-usul huruf-huruf kecil Romawi yang ada saat ini. Huruf kapital Romawi berasal dari prasasti Romawi pada abad ke-1 sesudah Masehi.

Huruf-huruf kecil dan kapital bentuk Gothic berasal dari perkembangan gaya gothic abad 12. Huruf-huruf menjadi lebih tipis tapi kelihatan jelas. Kolom tulisan lebih panjang dan sempit. Hal ini dilakukan untuk menghemat ruang dan bahan yang digunakan untuk menulis, karena pada halaman yang tersedia pada kebanyakan naskah-naskah gothic sering diisi dengan hiasan-hiasan berwarna.

Ilustrasi memainkan peranan penting dalam naskah-naskah abad pertengahan. Biasanya memakai  hiasan yang dibuat dengan menggunakan kuas halus dalam warna-warna yang cemerlang, sering juga sebagai latar belakang menggunakan warna emas berkilau. Beberapa ilustrasi digambar dengan pena dan tinta, dan pada abad 14 dan 15 diwarnai dengan cat air dengan warna yang menyala (terang). Tema dan hiasan buku-buku abad pertengahan bersifat religius. Gambar-gambar yang diambil dari alkitab, lukisan para penginjil, dan legenda orang suci menjadi subyek yang sering digunakan. Gambar-gambar dari perjanjian lama dan baru dipilih, digunakan untuk menunjukkan perjanjian baru sebagai perwujudan dari ramalan atau prediksi lama. Gambar-gambar yang bersifat sekuler ditemukan pada masa-masa awal Kristen, dari mulai abad 13, lalu berkembang hingga menempati posisi penting.

Ilustrasi yang bersifat sekuler mencerminkan kondisi disaat buku diproduksi dan didistribusikan. Dengan jatuhnya kekaisaran Romawi, perdagangan buku zaman Romawi klasik turun sampai angka terendah. Produksi buku-buku non komersil mengambil alih. Kenyataan bahwa proses penyalinan naskah asli dilakukan oleh para biarawan, sangat mempengaruhi proses penyebaran budaya. Salinan dari beberapa penulis yang karyanya dianggap memberikan kontribusi penting terhadap tradisi Kristiani, menjadi bahan yang sangat berpengaruh. Ayat-ayat dalam alkitab beserta penjelasan-penjelasannya, buku-buku tentang tata cara peribadatan, tulisan para pendeta, bahan pembelajaran dari filsuf Keristen yang hebat dan dari para biarawan/biarawati, menjadi penyebab utama produksi naskah-naskah kebiaraan. Kombinasi antara kemampuan ahli teologi, keahlian penulis, dan seorang ilustrator yang merupakan artis dengan tingkat kreativitas tinggi, telah menghsilkan buku dengan nilai dan keindahan yang tak tertandingi. Naskah-naskah ini biasanya dibuat untuk orang-orang penting—seorang  kaisar, raja atau ratu, para pendeta/pastor, dan bangsawan.

Pembaca buku-buku abad pertengahan mulai meningkat sejak abad ke-13. Ketertarikan baru pada ilmu pengetahuan dan filsafat, kemajuan bahasa dan literatur modern, perkembangan baru pada bidang puisi, serta kemunculan studi humaniora dan pendidikan non-ilmiah baik bersifat religius maupun sekuler – telah mempercepat produksi buku-buku abad pertengahan. Pada awal kemunculan beberapa universitas di Eropa, ditemukan peningkatan penjualan buku sekuler. Adalah Stationer, dibawah pengawasan ketat oleh otoritas kampus, yang meyimpan buku-buku pelajaran. Dia menjual salinannya, atau meminjamkan kepada para mahasiswa untuk diperbanyak. Pemunculan naskah-naskah sekuler lainnya dimulai dengan produksi salinan naskah roman-roman populer dan sejarah yang dilakukan oleh notaris, penulis, dan kepala sekolah dengan murah. Aktifitas mereka ini dapat dianggap sebagai awal dari penjualan dan penerbitan buku-buku modern.

Penting untuk diketahui bahwa perkembangan ini diawali dengan peralihan proses penerbitan menuju proses yang lebih dinamis. Kenaikan permintaan akan buku-buku murah ditangkap oleh para pengusaha di luar gereja. Mereka mulai memproduksi dengan menggunakan bantuan penulis dan ilustrator dari luar kota yang terorganisir dalam berbagai serikat kerja. Gereja pada akhirnya menemukan sarana untuk mendorong produksi buku-buku religius populer, yang sebagian besarnya merupakan buku bergambar dan berwarna, seperti the Poor Man’s Bible atau the Mirror of Human Salvation. Buku-buku ini tidak banyak dan diprioritaskan untuk kelas bawah maupun para pendeta yang menggunakannya untuk khotbah dan pengarahan-pengarahan kebiaraan. Buku generasi awal.

Penemuan alat pencetak merupakan momen terpenting dalam sejarah buku. Penemuan yang terjadi pada permulaan era modern ini memungkinkan buku untuk tidak hanya mempertahankan posisi pentingnya dalam transmisi budaya, namun juga untuk memiliki tanggung jawab baru sepanjang 5 abad penemuan dan perkembangan Iptek, serta dalam perkembangan era komunikasi yang sangat cepat. Perubahan yang diakibatkan oleh penemuan alat cetak ini tidak secara cepat dapat dilihat. Memerlukan beberapa abad bagi buku-buku cetak untuk mengembangkan bentuknya sendiri, tanpa didominasi oleh nilai-nilai estetika naskah abad pertengahan. Tujuan alat cetak ini adalah produksi yang lebih cepat dengan harga yang lebih murah dari harga-harga buku yang sudah ada. Tokoh utama dalam penemuan alat cetak di Eropa adalah Johann Gutenberg, seorang bangsawan dari Mainz. Selama tiga dekade, antara tahun 1430 dan 1460, dia mengembangkan alat cetak dari bahan logam yang dapat digerakkan di atas mesin cetak dari kayu. Dia menciptakan alat cetaknya dengan melubangi sebuah logam, mencetaknya dari sebuah matriks, dan dari sini dituangkan cetakan khusus berisi sejumlah karakter yang diinginkan. Tipe ini dapat diatur dengan menggunakan tangan, dan dikunci pada dasar tingkat alat pencetak. Proses ini menghasilkan kesan lembut pada setiap lembar kertas yang dibuat oleh tangan ini, yang menunjukkan keserasian dan keindahan yang jarang ditemukan pada alat-alat cetak berikutnya. Gutenberg tidak harus menciptakan semua elemen dalam penemuan alat cetaknya ini. Kertas telah diperkenalkan di Eropa dari Asia Timur sekurang-kurangnya 250 tahun sebelumnya. Cetakan papan juga berasal dari Cina, dan telah digunakan di Eropa untuk cetakan tekstil, bermain kartu, dan untuk selebaran yang memuat gambar beberapa orang suci. Kombinasi sejumlah papan kayu, masing-masing dengan gambar dan teks, menghasilkan apa yang disebut “block books”. Dicetak hanya dengan menggunakan proses penjiplakan sederhana, buku ini merupakan peralihan dari bentuk selebaran ke buku yang dicetak dari alat cetak yang bisa digerakkan.

Tidak hanya Gutenberg yang bekerja dengan menggunakan alat cetak yang bisa digerakkan ini. Ditemukan bukti bahwa di bagian lain di Eropa juga menggunakan jenis alat ini. Antara tahun 1450-1455 di Mainz, Alkitab Gutenberg yang agung diciptakan. Masih di Mainz, Johann Fust dan Peter Schoeffer memproduksi Psalter yang pertama (1457-1459), dan the Cannon of the Mask (1458). Dua warna serta hiasan pinggir yang indah yang ditampilkan dalam buku-buku ini dicetak dari papan khusus yang diciptakan oleh Gutenberg. Di pertengahan abad 20, ditemukan bukti bahwa Gutenberg juga berkeinginan untuk membuat miniatur dengan bantuan sarana percetakan, dan untuk tujuan ini dia mengembangkan ukiran tembaga. Missale speciale constantiense, yang dicetak dari alat pemotong sederhana yang digunakan dalam Mainz Psalters, dianggap merupakan salah satu eksperimen Gutenberg untuk memproduksi buku-bukunya yang terkenal.

Dari Mainz seni percetakan baru ini menyebar ke Belanda dan Inggris, kemudian ke Strasbourg, Basel, dan Lyon, ke arah barat Paris, dan ke Italia. Akhirnya, menyebar ke seluruh Eropa hingga seluruh dunia.

Sebuah buku yang dicetak pada abad 15 disebut incunable atau incunabulum, dari bahasa Latin yang berarti “pita pengikat” atau “ayunan”. Tipikal buku ini adalah tebal dengan ukuran kuarto besar, diikat oleh kerai kulit anak sapi yang sudah dibubuhi tanda pada papan kayu. Tidak memiliki halaman judul, namun halaman pertamanya sering dihiasi dengan hiasan yang rumit pada tepinya, dan dengan huruf-huruf yang dicetak dari bongkahan kayu dan berwarna, biasanya merah dan biru.

Teks biasanya berbentuk seperti rubrik, dimana permulaan kalimat, bab, dan sub bagian lainnya dicetak dalam warna merah atau biru. Catatan kecil ditampilkan pada halaman terakhir, yang memuat tempat dan tanggal cetakan, serta nama percetakannya. Ketiadaan informasi ini digantikan oleh dekorasi cetakan yang mewakili identitas si pencetak.

Beragam tulisan yang menawan pada buku-buku cetakan awal menunjukkan peningkatan keahlian dalam naskah-naskah tulisan tangan. Jenis Gothic yang merupakan huruf-huruf formal yang besar dan tegas umumnya digunakan untuk  buku-buku peribadatan, dan untuk keperluan urusan yang formal (biasanya di Italia); huruf Gothic yang lebih kecil biasanya dipakai untuk buku-buku teks dan buku kerja bangsa Latin, sedangkan tulisan cursive untuk buku cerita dalam bahasa sehari-hari. William Caxton, menggunakan lettres batardes untuk edisi chaucer-nya, dan beberapa peristiwa penting dari literatur Inggris awal lainnya. Tulisan yang memadukan roman dan gothic disebut free humanistica digunakan untuk beberapa edisi awal buku-buku pelajaran dan buku klasik. Tulisan Roman yang sering digunakan oleh kita saat ini,  dan banyak digunakan di Italia—dimana  “humanistic bookhand” telah dikembangkan pada abad 15. Di Venisia-lah huruf-huruf roman yang terkenal diciptakan, dan nama Nicolas Jenson sering dihubungkan dengan prestasi ini.

Bentuk ilustrasi yang paling banyak ditemukan pada buku-buku cetakan awal bersifat sederhana, dan dihiasi dengan paparan cerita dalam bentuk ukiran kayu yang primitif namun jelas, terkadang diperkaya dengan tekstur dan pola yang rumit. Seniman Jerman dan Belanda memberikan penambahan-penambahan pada beberapa ilustrasi ukiran kayu abad 15 yang sangat berkarakter dan kuat, sedangkan hasil karya Perancis memberikan tambahan dalam bentuk catatan-catatan menarik yang terkadang unik. Ukiran Italia, menampilkan bentuk menarik dengan tingkat kesulitan tinggi. Ukiran tembaga jarang digunakan terkecuali untuk peta dan atlas Ptolemy.

Pada abad ke-15, seorang tukang cetak biasanya juga adalah tenaga pemotong jilidan dan pengecoran, pembuat mesin cetak, editor, penerbit, dan penjual buku. Memerlukan waktu yang agak lama untuk sampai kepada adanya pembagian tenaga kerja atau spesialisasi untuk jenis pekerjaan yang berbeda. Penjilidan dan pembuatan kertas tentu saja muncul lebih awal sebelum alat pencetak muncul. Sebagai tambahan, type founding, dan khususnya penjualan dan penerbitan buku muncul sebagai penjualan yang terpisah pada zaman Renaisans. Secara singkat, kompetisi dan faktor-faktor ekonomi lainnya telah merangsang pertumbuhan jaringan distribusi buku sehingga jauh dan luas. Peter Schoeffer contohnya, mengembangkan pusat-pusat distribusi oleh agen-agen permanen, tidak hanya di Jerman, namun juga ke seluruh Perancis. Anton Koberger, pencetak World Chronicle Nurnberg yang terkenal, memiliki agen di Basel dan Lyon, serta di beberapa kota di Spanyol.

Edisinya dibuat kecil, dengan beberapa ratus salinan. Biasanya, buku-buku yang sangat terkenal muncul dalam 1000 atau 2000 kopi. Program-program penerbitan pada masa-masa cetakan awal sangat  dipengaruhi oleh minat dan  kondisi setempat, serta disesuaikan dengan permintaan umum dari para pelajar dan pengajar baik di dalam maupun di luar gereja dan universitas, seperti dari para pengacara,  dokter, dan dari para anggota istana dan bangsawan. Buku-buku diedarkan dalam bentuk naskah selama berabad-abad. Secara berangsur-angsur, hasil karya penulis saat ini telah diedarkan dalam bentuk tercetak. Banyak faktor yang menstimulasi perkembangan industri percetakan, mulai dari instrumen awal untuk reproduksi naskah-naskah, hingga media komunikasi yang canggih untuk menyampaikan ide-ide dan opini-opini yang ada saat ini. Dari Renaisans ke abad 19. Pada abad ke-16, format cetakan buku muncul setelah melalui berbagai tahapan percobaan dan perubahan, hingga menemukan bentuk standarnya yang bertahan selama tiga abad ke depan. Ciri khas Renaisans, yaitu desain gaya Romawi pada komposisi dan layout diterima oleh setiap negara Eropa, dan akhirnya di seluruh belahan dunia  barat. Budaya Gothic pada abad pertama dihilangkan, dengan satu pengecualian: Huruf cetak Gothic tetap terkenal sebagai huruf-huruf yang digunakan di wilayah Eropa tengah dan utara.

Aldus Manutius, pencetak handal dari Venisia, memberikan kontribusi bagi rancangan buku Renaisans. Ilustrasi indahnya pada Hypnerotomachia Poliphili, sebuah roman kiasan karya Francesco Colonna yang dicatak tahun 1499, dianggap merupakan salah satu contoh cetakan Renaisans yang paling harmonis. Aldus juga memberikan kontribusi penting lainnya terhadap kemajuan produksi buku. Pengalamannya dalam mendesain huruf-huruf Yunani Cursive dengan penuh keindahan, telah membuka jalan bagi terciptanya huruf-huruf cetak italic. Jenis ini menghemat ruang, sehingga memungkinkan untuk memproduksi serangkaian edisi buku ukuran saku. Sebuah langkah awal menuju buku-buku murah dan mudah dibawa. Aldus yang juga salah satu di antara penemu papan kartu sebagai sampul buku, bahan baru yang lebih ringan, yang menggantikan kayu secara bertahap.

Renaisans memberikan perubahan signifikan pada tampilan luar dan tampilan dalam buku. Ketika kulit babi dan kulit hewan lain terus digunakan sebagai bahan penjilid buku selama 1 ½ abad berikutnya, dan kulit anak sapi juga digunakan pada abad ke-9, diperkenalkanlah penggunaan kulit kambing, yang disebut morocco, sesuai asal daerahnya. Diperkenalkan juga teknik inlay yang berkelok dan penuh warna, serta penggunaan emas dari dunia Islam yang dikombinasikan dengan metode blind stamping tradisional untuk menghasilkan seni baru peralatan emas. Teknik-teknik baru ini dugunakan pada buku-buku jilidan Renaisans seperti Jean Grolier de Servierees dan Thomas Mahieu, dalam pola yang mengkombinasikan motif klasik dengan ornamen-ornamen Islam. Beberapa dekorasi yang dipotong dalam stamp jilidan ditransfer menjadi bolongan-bolongan ketikan, yang kemudian disebut fleurons atau cetakan gabungan, digunakan sebagai ornamen indah yang populer hingga saat ini.

Dengan pengenalan ornamen seni cetak, dekorasi dan ukiran kayu mulai menurun. Selama abad pertama percetakan, ukiran kayu berkembang dari penggunaan yang terbatas menjadi kekuatan artistik yang digunakan untuk benyak tujuan. Seniman-seniman yang menggunakan ukiran kayu diantaranya adalah Albrecht Durer dan Hans Holbein di Jerman, Bernard Salomon dan Geoffroy Tory di Perancis, dan masih banyak lagi seniman lain baik terkenal maupun tidak di Itali dan tempat-tempat lainnya. Di tangan mereka, ilustrasi buku tidak hanya merefleksikan harmonisasi dan keindahan, namun juga perjuangan manusia untuk memahami posisi mereka di lingkungan mereka, dan pencarian nilai-nilai dasar. Hampir semua buku-buku pertama yang menggunakan ilustrasi dalam berbagai ilmu alam maupun dalam kesehatan dan teknologi, menggunakan ukiran kayu.

Setelah pertengahan abad ke-16, ukiran tembaga, diikuti segera oleh penggoresan, dan akhirnya proses-proses intaglio lainnya, merajai bidang ilustrasi buku. Pengukiran lempengan tembaga menjadi teknik utama yang tidak hanya untuk ilustrasi halaman penuh, namun juga untuk halaman judul, gambar muka satu sisi maupun dua sisi, bagian atas halaman, bagian bawah halaman, bahkan huruf-huruf cetak. Elemen-elemen arsitektur memainkan peranan penting dalam ilustrasi dan ornamentasi Renaisans.

Pada beberapa masa antara abad 16 dan 17, pusat-pusat penerbit buku yang penting pindah dari Italia ke Perancis, dan dari sana ke beberapa negara kecil. Dari usaha keras beberapa pencetak ulung seperti Aldus Manutius di Venesia, Henri Estienne di Paris, Christophe Plantin di Antwerp, dan Lodewijk Elzevir di Leiden, muncullah beberapa dinasti besar rumah-rumah percetakan dan penerbitan. Selama abad ke 16, hak cipta muncul, utamanya adalah dalam bentuk hak-hak istimewa dan perlindungan terhadap pencetak, penerbit, dan penulis, yang diberikan oleh pihak kerajaan da bangsawan. Karena pers mulai berkembang, dan otoritas sekuler maupun gereja mulai memahami pengaruh politiknya, berbagai pengawasan disusun. Penilaian dan pengawasan ketat dirancang dengan sangat serius. Milton’s Aeropagitica (644) merupakan dokumen penting bagi perjuangan tanpa henti untuk mencapai kebebasan pers. Tidak semua penilaian ini negatif. Pendirian beberapa percetakan resmi seperti Stamperia Vaticana dan Imprimerie Royale juga English University Presses, merupakan dampak yang menguntungkan dengan adanya standar-standar umum percetakan buku.

Pada abad ke-17, stadar-standar ini mulai melemah. Beberapa karya besar kesusasteraan dunia karya Shakespeare, Cervantes, dan Moliere – sering dicetak tidak sempurna di atas kertas yang kualitasnya buruk, dan dengan ketikan yang tidak mencerminkan keindahan zaman Renaisans. Namun terdapat beberapa pengecualian: dua alkitab Poliglot mashyur muncul pada abad ini; Seni penjilidan dan pengukiran peta muncul, contohnya ilustrasi pada buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan alam, baik berwarna maupun hitam putih. Masa ini juga merupakan masa-masa ekspansi percetakan secara geografis.

Tahun 1539, buku tertua dicetak di penerbit Western Hemisphere milik Juan Pablos di Mexico city. Percetakan Inggris-Amerika pertama didirikan di Cambridge, akhir tahun 1638 oleh Stephen Day. Peranan buku di Amerika berbeda dengan di Eropa. Percetaka Eropa pada dasarnya enerbitkan hasil-hasil pemikiran, sedangkan Amerika banyak menerbitkan buku yang berkenaan dengan hal-hal  prkatis. Hampir sejak awal, percetakan di Amerika merupakan agen kolonialisasi utama pada ekspansi bagian barat negara ini. Pada masa ini, George Washington menulis kepada Mathew Carey pada tanggal 25 Juni 1788, tentang majalah – “Saya memikirkan sarana pengetahuan yang mudah, yang lebih diperhitungkan daripada sarana lainnya untuk memelihara kebebasan, merangsang pertumbuhan industri, dan menaikkan moral orang-orang yang berfikiran terang dan bebas.”

Melihat  karakteristik fisiknya, buku-buku di wilayah koloni Amerika menyerupai buku-buku yang ada di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Abad ke-18 merupakan periode penting bagi kemajuan pembuatan buku. Untuk pertama kalinya sejak abad ke-14, seni grafis di Inggris menyamai bahkan melampaui standar yang ada di benua Eropa. Langkah penting diambil dalam hal pembuatan kertas, penjilidan, dan ilustrasi. Teknik pengukiran kayu baru oleh Thomas Bewick telah memperbaiki kualitas dan daya tahan ukiran kayu. Teknik ini bertahan hingga saat ini.

Untuk benua Eropa, abad ini merupakan abad pencerahan. Teknik-teknik ukiran intaglio baru bermunculan, yaitu munculnya cetakan berwarna. Perancis memiliki seniman pengukir buku seperti Francois Boucher, Honore Fragonard, dan Hubert Francois Gravelot, yang menjadi cerminan kaum aristokrat. Masih di Perancis, Padeloup, Derome, dan beberapa penerbit buku lainnya menciptakan beberapa maha karya yang sangat indah, sementara Fourniers dan Didots memberikan kontribusi penting bagi dasar-dasar estetika dan nilai teknis untuk jenis desain dan seni cetak modern. Giambattista Bodoni dari Italia, memberikan kontribusi pada fleksibilitas berat dan ukuran, yang mengakibatkan perkembangan pada seni cetak komersial modern. Akhirnya, abad ke-18 merupakan abad kebangkitan penerbitan modern. Pergantian secara bertahap  dari pola pembelian langsung kepada pola berlangganan  menjadi tonggak baru untuk menjangkau pembaca secara luas. Dengan munculnya era kesusasteraan pada roman modern, majalah keluarga, dan buku anak-anak, maka menulis  menjadi profesi dan sumber mata pencaharian yang bisa diandalkan. Buku pada Era Mesin. Pengaruh industrialisasi pada produksi dan distribusi buku hampir sama besarnya dengan penemuan alat cetak itu sendiri. Selama dua dekade sebelum dan  sesudah tahun 1800, semua cabang seni grafis mulai merasakan pengaruh revolusi teknologi yang merubah pembuatan dan pencetakan buku yang kuno menjadi industri pembuatan buku yang modern.. Dengan adanya produksi massal buku-buku murah untuk pasar yang luas, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan  organisasi perdagangan, pengaturan harga, dan hak cipta internasional, muncul ke permukaan.

Pada akhir abad 19, proses manual yang kuno telah digantikan oleh produksi dengan menggunakan mesin bertenaga tinggi. Mekanisasi satu proses mengharuskan penerapan industrialisasi pada keseluruhan proses agar  benar-benar efektif. Pengenalan silinder pemutar yang cepat dan bertenaga telah menghilangkan kemacetan produksi akibat masih digunakannya proses manual. Kertas tidak lagi dibuat secara lambat dalam lembaran tunggal dari cetakan tangan kuno, namun dalam bentuk gulungan yang secara terus-menerus dihasilkan dalam mesin fourdrinier yang bergerak cepat. Huruf-huruf cetak dihasilkan secara otomatis dari matriks-matriks yang tidak lagi dilubangi dari alat pembuat lubang dari baja yang digunakan dengan tangan, namun telah diukir secara mekanis. Komposisi mesin, yang merupakan masalah paling rumit, telah dipecahkan dengan serangkaian trials and errors yang dilakukan oleh Ottmar Mergenthaler’s Linotype, intertype, dan mesin pencetak Tolbert Lanston’s monotype. Alat pencetak manual dari kayu dan besi digantikan dengan pencetak silinder bertenaga tinggi. Penggunaannya dimulai tahun 1812 di London, oleh Friedrich Konig. Pada tahun 1847 di kota New York, mesin pemutar huruf cetak buatan Richard Hoe mampu menyelesaikan masalah susunan huruf cetak yang menanjak dalam silinder, namun pengenalan stereotyping menawarkan solusi yang lebih praktis. Penjilidan buku, yang dibuat dengan tangan selama 1500 tahun, juga dibuat secara mekanis. Proses pembingkaian dan pengenalan kain sebagai material pembungkus pada awal abad 19 membuat hal ini memungkinkan. Dalam bidang ilustrasi, teknik fotografi yang ditemukan oleh Lois Dguerre tahun 1839 kemudian diaplikasikan terhadap semua proses reproduksi foto – ukiran garis dan warna-warna sedang dalam gambar timbul (relief), klise foto, dan rotografur dalam intaglio, serta fotolitografi, offset, dan collotype dalam pencetakan planografi.

Seperti pada saat penemuannya, mekanisasi alat cetak itu sendiri memiliki pengaruh yang bertahap dan kumulatif. Contohnya, reproduksi foto tidak dapat direalisasikan sampai 100 tahun kemudian, ketika, pada pertengahan abad ke-20, terdapat lebih banyak buku yang dicetak seluruhnya dengan offshet, baik tipe yang diatur secara konvensional, maupun salinan yang dihasilkan dari mesin ketik, dan ketika pengaturan ketikan dengan bantuan fotografi mulai muncul pada tahap percobaan.

Perubahan yang paling mencolok pada awal abad 19 disebabkan oleh kedatangan jilidan kain, yang mencapai puncak kejayaan pada buku Victorian Parlor-Table. Pada abad ini juga ditemukan keragaman dan kemeriahan pada jenis ketikan dan dekorasinya. Abad ini juga mencatat munculnya sekolah ilustrasi di Inggris dan Perancis, yaitu sebuah sekolah satire dan karikatur yang hebat, sebagain kelanjutan dari William Hogarth dan Thomas Rowlandson, kemudian diteruskan oleh sekolah ilustrator George Cruikshank dan Dickensian di Inggris, serta Honore Daumier dkk dan Gustave Pore di Perancis.

Menjelang akhir abad 19, disaat buku-buku yang dibuat dengan mesin tidak menunjukkan tanda-tanda kesalahan pada bidang artistik, kebangkitan yang dipelopori oleh William Morris muncul dan memperbaiki daya tahan ukiran manual tua. Hasil karyanya dapat dilihat dalam buku-buku terbitan Kelmscott. Karya ini memberikan harapan baru pada seni kaligrafi dan desain cetakan, pembuatan kertas dan penjilidan buku dengan tangan, dan pengukiran kayu. Contoh yang dihasilkan oleh penerbit Kelmscott diikuti oleh penerbit-penerbit swasta seperti Doves dan Ashendene di Inggris, dan penerbit Bremer di Jerman. Di AS, contoh penerbit Kelmscott telah memberikan pengaruh yang sanngat besar bagi Daniel Berkeley Updike, pendiri penerbit Merrymount, juga bagi Goudy, perancang jilidan yang paling produktif. Dan bagi Bruce Rogers, tukang cetak yang paling handal.

Patokan-patokan dalam seni dan ukiran juga diaplikasikan pada kualitas karya-karya penerbit Curwen di Inggris, dan di Amerika yaitu penerbit William Edwin Rudgedan Elmer Adler, diikuti oleh penerbit Joseph Blumenthal’s Spiral, dan penerbit Ward Ritchie. Kolaborasi yang baik antara seniman yang hebat dan pencetak yang terlatih terjadi pada abad-20 di Perancis, terutama karena adanya bantuan dari pedagang dan penerbit karya seni, yaitu Ambrose Vollard. Seniman yang juga menghasilkan ilustrasi buku yang indah diantaranya adalah Manet, Toulouse-Lautrec, Rodin, Bonnard, Matisse, Picasso, dan Rouault.

Awal abad 20, kebangkitan seni dan ukiran menyebar pada produksi buku-buku yang diperdagangkan di Eropa. Hal yang sama berlaku tahun 1920 di AS, didorong oleh usaha William Addison Dwiggins, seorang kaligrafer, perancang jilidan, dan ilustrator yang sangat berbakat, dan dengan dukungan Institut Seni Grafis Amerika. Buku-bbuku teks, buku-buku anak, dan buku khusus lainnya telah menunjukkan pengaruh yang menguntungkan dari perpaduan estetis antara penerbit dan desainer.

Pada abad 20, di seluruh dunia khususnya di AS setelah PD II, posisi buku terancam dengan adanya kompetisi media, yaitu munculnya tantangan dari jenis media massa baru—bioskop, radio, televisi, tape recorder, dan komputer.Hal ini mempengaruhi budaya membaca, terutama di kalangan anak muda. Dari sisi positif, produksi massal buku-buku murah, yang didistribusikan secara nasional melalui pemesanan via surat oleh klub-klub buku dan perkumpulan-perkumpulan lainnya, telah membantu buku mempertahankan posisinya, juga kualitas dan isinya.

Pada beberapa bagian, masa depan buku sebagai bentuk komunikasi vital yang sangat diperlukan  dipertanyakan. Media lain, terutama komputer, dalam kapasitasnya sebagai alat penyimpan dan pencarian informasi, dirancang menjadi pengganti buku masa depan. Beberapa anggapan keliru bermunculan dikarenakan hanya menganggap buku sebagai tempat penyimpanan fakta dan asumsi, dan karena ketidakmampuan untuk membedakan antara fakta dan kebenaran, antara pengetahuan dan kebijakan. Anggapan-anggapan ini tidak memasukkan bahwa buku juga menyalurkan nilai-nilai dan ide-ide spiritual, maksud kata-kata mutiara dalam puisi, drama, dan fiksi, dan anggapan ini juga mengacuhkan keindahan buku sebagai hasil karya seni. Termasuk juga kenyamanan secara fisik saat membaca buku, ketika membolak-balik halaman untuk mencari informasi, dan komunikasi informal secara  spontan antara penulis dan pembaca. Oleh karena itu, banyak orang yang memahami keunikan buku ini bersatu dalam upaya melestarikan jati diri dan keindahan buku dalam dunia modern.

Buku Pada Era Digital

Bill Gates pernah membuat prediksi bahwa Internet akan menyatukan dunia, menjadi pemimpin industri media di masa depan dan sekitar 20 tahun lagi media cetak akan mati. Namun, bukan berarti saat itu koran, majalah, buku, tidak ada. Mereka akan tetap hidup namun tidak perlu diprint alias dicetak. Hanya memang kalau user menginginkannya medai-media itu dapat dicetak, bahkan berulang-ulang.

Kecenderungan ke arah tersebut sudah mulai terasa sekarang ini. Melalui bantuan satelit, stasiun televisi dapat menyiarkan peristiwa secara langsung dari tempat kejadian. Kita juga mudah sekali mengakses informasi apa pun melaui Internet dengan search engine yang semakin canggih.

Teknologi seluler pun, berlomba dengan fitur-fitur tercanggihnya dengan biaya yang makin murah. Kini dikenal ada telepon gnerasi ketiga (3G), W-CDMA (wideband code division multiple access), HSDPA (high-speed downlink packet access) dan seterusnya. Jadi telepon genggam dapat berfungsi sebagai televisi, kita pun dapat melihat lawan bicara. Bahkan dengan Communicator atau PDA  buku pun bisa dibaca (e-book) kapan dan dimana saja.

Tidak lama lagi nomor seluler kitapun akan berfungsi layakanya alamat e-mail, lebih dari sekedar push atau pull e-mail seperti yang sudah marak saat ini. Setiap detik kita bisa mendapatkan informasi apa pun dan dari mana pun.

Dengan semua kecanggihan teknologi itu, media cetak—yang untuk mendapatkannya kita harus bayar—akan terasa mahal, dan kuno. Apalagi, jika harga kertas terus melambung. Yang juga perlu diingat adalah media cetak perlu percetakan, armada distribusi, dan sebagainya. Media cetak juga membutuhkan senjang waktu tertentu untuk menyampaikan informasi ke publik. Struktur manajemen media cetak yang gemuk dan sangat terbatas sirkulasinya, memang kerap menyulitkannya untuk bergerak cepat. Padahal publik yang kini kian mobile membutuhkan akses informasi secara akurat, cepat, dan murah. (Wiloto, 2006)

”Tiras koran di Amerika terus mengalami penurunan,” kata Nashin Masha, wartawan Republika yang pada  Pada 10 Agustus hingga 4 September 2006, berkeliling ke Washington, New York, Chicago, Atlanta, Athens, Sacramento, dan San Francisco. Perjalanan itu atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengikuti program International Visitor Leadership bidang media cetak. Di sana ia mengunjungi sejumlah koran.Penurunan itu makin signifikan setelah berita bisa diakses lewat layar komputer. Apalagi media internet bisa melakukan up-dating kapan pun. Berbeda dengan media televisi, up-dating berita internet tanpa harus mengganggu ‘program’ lainnya.

Penurunan paling spektakuler menimpa San Francisco Chronicle. Pada 2005 tiras koran ini turun 15 persen. Yang mampu bertahan adalah The New York Times yang bisa stabil pada tiras 1,8 juta eksemplar. Namun, koran terbesar di Amerika adalah USA Today dengan 2,2 juta eksemplar. Di AS terdapat 1.500 koran harian, enam ribu mingguan, dan 16 ribu stasiun radio dan televisi. Adapun rincian broadcasting ini adalah 13 ribu stasiun radio, 1.600 stasiun televisi, 490 televisi kabel, 930 stasiun radio agama, dan sejumlah stasiun televisi agama. ”Penurunan pada koran itu tak hanya menyangkut tiras, tapi juga jumlahnya,” ujarnya. Sebagai contoh, dari tujuh koran di Manhattan empat di antaranya mati.

Dari 1.500 koran itu,  hanya 20 persen saja yang bagus secara bisnis. Dari seluruh koran yang ada, 80 persen di antaranya hanya beroplah kurang dari 15 ribu eksemplar per hari. ”Tak ada yang tahu masa depan koran,” katanya. Gambaran paling nyata dari penurunan pamor koran di AS juga bisa dilihat dari penjelasan Larry Heinzerling, wakil redaktur internasional kantor berita Associated Press (AP).Menurutnya, pendapatan AP pada 1970 adalah 60 persen dari perusahaan koran, 30 persen dari radio dan televisi, dan 10 persen dari perusahaan komersial. Namun pada 2005 lalu, ujarnya, pendapatan dari koran turun menjadi 30 persen, 35 persen dari televisi, 25 persen dari online, dan 10 persen dari radio. Hal ini diawali pembentukan departemen multimedia pada tahun 2000. Sehingga, berita AP bisa diakses lewat jaringan internet, misalnya di Yahoo.

Judy Milestone, mantan wartawan CNN yang kini menjadi konsultan media mengatakan, para tetangganya heran karena setiap hari mendapat kiriman empat koran. ”Mereka bilang buat apa. Toh semuanya sudah ada di televisi dan internet,” (Republika, 5 Oktober 2006)

Di Indonesia kematian media cetak sempat juga menjadi wacana. Bahkan beberapa pengusaha koran sempat panik karena oplah surat kabar tak bergerak alais stagnan. Bahkan kelompok Jawa Pos mendeklarasikan 20 surat kabar telah mati. Sementara yang lain ’berdarah-darah’ karena ditinggalkan pembaca dan pemasang iklan.  Surat kabar sekaliber Kompas pun, seperti diungkapkan Jacob Oetama, menilai media cetak belum pernah menghadapi tantangan yang bgitu besar, kecuali sekarang. Dia mengingatkan bahwa dunia sedang berubah secara cepat karena revolusi teknologi. Kemajuan teknologi informasi telah membuat posisi media cetak makin tersudutkan. (Bisnis Indonesia, 11 Peburari 2006 .

“Buku sedang sekarat melepaskan nafas terakhirnya ditelan gelombang elektronik,“ kata  Miles M. Jackson dalam artikelnya The Future of Books in Electronic Era. Menurutnya dengan progresivitas transofrmasi dalam bidang teknologi informasi, informasi dalam format tercetak akan diamabil  alih kedalam format elektronik atau digital.

Apakah era media cetak akan berakhir?  Akankah tak ada yang tahu masa depan buku  nanti seperti apa. Yang pasti, dulu ketika televisi hadir, ramalan tentang kematian media cetak sudah didengung-dengungkan. Tetapi hingga kini media cetak tetap menjadi acuan utama publik. Bukan televisi, apalagi internet. Di samping itu juga ada beberapa “kelebihan” buku sebagai kekuatan budaya dibandingkan dengan media lain 1) buku menjembatani jarak sejarah 2) buku memberikan kedalam 3) menyajikan informasi yang terpercaya 4) buku mudah dibaca kapan dan dimana pun.   Setidaknya  itu yang masih dirasakan sekarang ini. Apalagai kalau mengingat masalah perbukuan dan minat baca masyarakat Indonesia. Tetapi, memang, masa depan adalah masa yang  terbuka untuk berbagai  kemungkinan.

From: http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/component/content/article/15-dari-papyrus-ke-paperless?showall=1

About these ads