Angin berhembus kencang dan tiba-tiba menjadi sepoi dengan begitu saja. Demikian pun dengan bunga-bunga. Tak seperti layaknya, mereka mekar berwarna tanpa mengindahkan musim. Wisanggeni sadar, kini ia tak lagi berada di dunia Dresanala, ibunya. Jauh dari Khayangan Daksinageni, tempat ia dilahirkan. Wisanggeni kini mengijakkan kakinya bumi, sebuah dunia yang lengkap dengan bau tanah dan riuh rendah yang terkadang memekakkan telinga.

Ya, wajah dunia telah demikian berbeda. Segala sesuatu bergerak cepat, bahkan ada kalanya melebihi kelebat Wisanggeni maupun Ramaparasu. Dan di dunia itu pulalah Wisanggeni sempat tercekap. Ia terpana ketika memandang sebuah wajah, wajah yang tak lagi ia kenali meski bertuliskan namanya sendiri. “Mengapa aku jadi begini?” gumamnya pelan, masih tak percaya. 

Dunia yang ditemui Wisanggeni adalah dunia yang sama, tempat kita tinggal kini. Dunia yang ramai dengan digit angka, bukan saja angka-angka yang secara material bertebaran di pasar, namun juga angka-angka dalam ruang virtual yang maya. Pergerakan abad ditentukan oleh kecepatan dan ironi percepatan. Gegap-gempita jaman menjadi semacam ruang yang penuh dengan perayaan. Sebuah pesta pora dimana jarak ruang dan waktu menjadi semakin nir. Manusia pun semakin pikuk berusaha melampaui berbagai keterbatasannya.

Dunia tanpa batas ini sebenarnya juga dikenal di Nusantara. Pada jaman berabad lampau, para leluhur kita juga melampaui keterbatasannya ketika berhadapan dengan ruang dan waktu. Namun, proses dan metode yang ditempuh sangat berbeda dengan pengetahuan yang kita miliki kini. Sebab transformasi nilai tak berjalan sebagaimana mestinya, kita, hampir-hampir tak lagi mengenal cara-cara itu maupun banyak peninggalan lainnya dan hanya sanggup menyebutnya sebagai sebuah pengetahuan yang esoterik. Sebagai anak waris sebuah peradaban besar, kita hanya sanggup menoleh kanan-kiri sambil sedikit menahan diri untuk tak terperangah, terjebak di antara percepatan jaman sambil tergagap mengurai masa silam dan sibuk bermain-main dalam ruang antara yang penuh dengan kegamangan belaka.

Ironi percepatan membuat kita, mau tak mau, harus kembali bergulat dengan tradisi dan modernitas; sebuah polemik yang tak pernah kehilangan konteks jaman. Setelah Revolusi Prancis dan Revolusi Industri mendorong berbagai perkembangan mutakhir yang kini menjadi pedang bermata dua, manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan problematis. Era digital tak akan dapat dihindari. Tahun 2018, Indonesia akan meninggalkan televisi analog dan migrasi ke televisi digital akan segera dilaksanakan. Problemnya, kita tidak lagi akan berdebat tentang era digitalisasi tersebut, melainkan mendorong manfaat serta pencapaian positif yang bisa kita cerap dari kondisi tersebut, selain mengeliminir dampak-dampak negative yang menjadi konsekuensi logis dari iklim tersebut.

Demikianpun dengan wayang. Sebagai sebuah peninggalan adilihung, fungsi dan kedudukannya hari ini dipertanyakan. Tak ada yang menampik betapa nilai luhur termuat di dalamnya. Namun pada konteks hari ini, dapatkan wayang (kembali) digunakan sebagai sebuah strategi kebudayaan? Selamanya, percepatan selalu menyisahkan banyak remah yang tertinggal dan tertindas. Kita tentu tak berharap jika seluruh keadaan ini kelak tak membawa perubahan yang cukup berarti. Perkembangan teknologi haruslah berjalan seiring dengan percepatan pemahaman dan kemampuan menakar. Nalar rasional tentu tidak berbanding terbalik dengan perjalanan dunia dalam yang intrinsik. Sebaliknya, bahwa titik terbaik manusia adalah ketika ia memiliki kesanggupan untuk menyinergikan ucapan, tindakan, pemikiran serta niat yang menjadi dasar atau landasan kesanggupannya tersebut.

Wayang, yang kerap dianggap menjadi bagian dari dunia esoterik, ditantang untuk sanggup mengejawantahkan diri dan memainkan peran yang lebih besar sehingga tak sekedar teronggok menjadi benda mati dalam museum kenangan. Wayang memang tak harus tunduk pada pasar. Wayang juga tak harus tunduk pada berbagai gerakan fundamentalis yang berusaha menggerogoti dengan berbagai cara yang mereka tempuh. Wayang dan kejembaran dunia dalamnya justeru seharusnya mampu memberi tawaran-tawaran yang inovatif. Modal utama wayang adalah dunia keserbakemungkinan. Wayang memiliki kesanggupan untuk menampung, mengelola serta memapar pertarungan imajinasi, nalar, hati dan tindakan yang kerap berjibaku. Dan pada akhirnya, wayang mampu menempatkan kisi-kisi itu agar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi: sebuah keadaan yang sangat dibutuhkan Indonesia.

Keresahan ini bukanlah sesuatu yang harus tinggal menetap dalam hati, terlebih jika ia harus tumbuh subur. Hal tersebut sepatutnya melahirkan satu bentuk kesadaran untuk mewujudkan peri kehidupan yang lebih baik bagi kita semua. Percepatan seharusnya tidak lagi menjadi ironi tetapi menjadi sebuah ruang keleluasaan yang memungkinkan kita bergerak saling mendukung. Meretas batas, mencipta karya, berbagi pada sesama.

cin hapsari tomoidjojo

About these ads