Oleh: Cin P. Hapsarin

 

I. Pengaruh Islam di Sumatera

Kepulauan Barus di pantai barat Sumatera diyakini merupakan daerah pengislaman pertama. Hal ini tidak lain bermula dari daya tarik akan hasil alam Barus bagi kepentingan dagang Timur Tengah. Seperti diketahui saat itu Barus dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kapur barus terbaik yang pernah ada dan pedagang-pedagang Timur Tengah membutuhkan barus dalam jumlah besar sebagai bahan pengawet mumi. Periode ini berjalan bersamaan dengan pengislaman daerah Perlak atau yang dalam kronik Cina tahun 650 di sebut dengan nama Ta Sha. Ta Sha merupakan pengistilahan dari Tajik atau panggilan orang Parsi kepada orang Arab yang sudah masuk Islam (Kabilah Taii). Kerajaan ini kemudian menjadi wilayah Kerajaan Perlak dan disebut dengan sebagai Ta Jihan dalam berita Cina. Boleh jadi pada masa itu pengislaman pertama dilakukan oleh pedagang dan pelayar Arab yang berasal dari Yaman (Sumardjo, 2002: 54). Sisa-sisa kejayaan Barus minimal berlangsung terus hingga abad 16. Paling tidak terlihat dari dikenangnya Hamzah Fansuri seorang tasawuf Melayu yang kemudian dianggap heterodoks oleh beberapa kalangan.

Kejayaan Islam kemudian dilanjutkan oleh Perlak. Perlak merupakan negri yang sangat kaya. Menurut legenda dinasti ini dibangun oleh Khafilah. Ia dan anak buahnya kemudian tinggal menetap dan menikahi gadis sekitar. Salah satunya adalah pernikahan puteri meura (anak raja) dengan laki-laki Qurais yang kemudian melahirkan Sayid Abdul Aziz, Raja pertama Islam pertama di Perlak.

Daerah yang terkenal sebagai penghasil kayu peureula, bahan pembuat kapal ini pernah dikunjungi oleh serombongan pendakwah sekaligus pedagang Timur Tengah. Rombongan itu berjumlah 100 orang dan berasal dari wilayah Arab, Parsi dan India. Mereka datang ketika masyarakat atau penguasa Perlak masih menganut agama Hindu-Budha atau sekitar tahun 800 M. Dinasti Islam di wilayah ini berhasil mempertahankan kekuasaan lebih hingga 450 tahun lamanya. 17 raja berkuasa antara tahun 840-1292 M.

Kerajaan ini surut setelah dijadikan wilayah kekuasaan Samudra Pasai tahun 1289 oleh Sultan Malik Al Saleh. Mereka mempertahankan hidup melalui jalur niaga dan perdagangan internasional. Perebutan hegemoni wilayah dagang maritim ini pernah terjadi dan membuat Perlak harus berhadap-hadapan dengan Sriwijaya yang menganut agama Budha. Perang ini terjadi tahun 975-986 dan mengakibatkan Sultan Perlak pesisir gugur. Setelah itu Perlak pesisir dikuasai oleh Perlak pedalaman yang beraliran Ahli Sunnah wal Jama`ah dan perlawanan dilanjutkan oleh Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat.

Sebelumnya, yakni pada masa Sultan Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat berkuasa (956-988), telah terjadi perang saudara yang berlangsung selama 4 tahun lamanya. Kesepakatan damai tercapai dengan membagi Perlak menjadi dua yakni Perlak Utara atau pesisir di bawah kaum Syi’ah sementara Perlak pedalaman di kuasai oleh kelompok Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Perang berakhir tiba-tiba karena pada saat yang sama (1006 M) Sriwijaya mendapat gempuran dari Raja Jawa, Dharmawangça. Sayangnya sedikit sekali peninggalan yang diberikan dinasti ini, terutama dalam bentuk artefak. Peninggalan yang ada hanya dalam bentuk kesusasteraan namun itupun dalam jumlah sangat terbatas.

Berturut-turut kekuatan Islam menancapkan hegemoninya di seluruh Sumatera. Terlebih ketika pengaruh Budha di Sriwijaya mulai mengendur sementara sebaliknya peran para mubaliq ke pedalaman makin meningkat. Selain itu syiar Islam juga mendapat dukungan moril ketika pada tahun 1556 Akbar Agung akhirnya berhasil ‘memenangkan’ pertandingan dengan kaum Hindis dan memploklamirkan diri sebagai raja Islam pertama di India. Saat itu pasukan Gajah yang merupakan pasukan utama kaum Hindis harus bertempur mati-matian dengan pasukan kavaleri kaum Muslim yang dilengkapi dengan pedang bengkok. Namun harus dipahami, kejatuhan Hindu tidak selamanya berasal dari pertentangannya dengan kaum Muslim melainkan karena beberapa faktor lain, seperti, kesibukan pada Brahmana dan para Raja kecil Hindu untuk menghalau kekuatan Budha Hinayana maupun Budha Mahayana. Sementara itu untuk memperkuat legitimasinya, Akbar Agung berusaha menyadur prinsip kerja Açoka (273-232 SM), Raja besar dari Candragupta Maurya yang dikenal sangat toleran dan bijak; seorang Raja besar yang bertobat.

Hancurnya Hindu di barat India dan kebekuan Mongol di timur sendiri setidaknya memperkuat semangat pengembangan sayap dagang sekaligus islamisasi yang akhirnya dapat dengan mudah merembes masuk hingga ke Nusantara.

II. Pengaruh Islam (di) Jawa
Islam diduga masuk ke Jawa sudah sejak awal. Hal ini dapat dilacak dari berita mengenai datangnya Ali Syamsu Zein, ulama Timur Tengah, utusan Bani Abbasiyah, Baghdad pada masa berkuasanya Jayabaya di Daha, Kediri. Dan kedua, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun (dikenal juga sebagai Putri Leran atau Swara) yang meninggal pada 7 Rajab 475 H atau 1082 M di Leran, Gresik dan Malik Ibrahim pada 12 Rabiulawal 822 H (1419 M) di Surabaya. Dipercaya kedua lokasi inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan Islam selanjutnya di Jawa.

Menarik untuk mengamati perkembangan Islam di Jawa. Banyak orang mengira jika berkibarnya Islam adalah karena ‘perpindahan kekuasaan secara paksa’ dari Hindu-Budha ke Islam. Artinya fenomena ini terjadi dengan begitu tiba-tibanya dan sumber masalahnya tidak lain adalah penyerangan Demak Bintara—yang Islam—ke Kerajaan Hindu-Budha terbesar, Majapahit. Namun berdasar data yang dibuat Tome Pires—dalam Suma Oriental—yang menggambarkan keadaan Jawa dikitaran tahun 1515 (dalam de Graaf & Pigeaud, 1986:28) diketahui jika perpindahan kekuasaan ke tangan kelompok Islam di sepanjang pesisir utara Jawa tidaklah dengan serta merta.

Perpindahan kekuasaan itu terjadi dengan dua cara. Pertama, para bangsawan Jawa itu telah pindah dengan kemauannya sendiri. Hal ini tidak terjadi dengan semata-mata namun didorong pula oleh kenyataan terbentuknya kelas menengah baru—dalam hal ini adalah orang Cina dan Islam—yang telah menguasai perdagangan di Nusantara. Pilihan ini praktis demi menjaga kekuasaan para pemangku jabatan otoritas lokal itu sendiri. Tuban adalah salah satu contoh dari keadaan ini. Kedua, orang-orang asing yang telah memeluk Islam konon berada dalam satu pemukiman tersendiri. Mereka membangun kampung-kampung dan membangun rumah mereka sekaligus sebagai kubu pertahanan. Dari sana mereka mulai melancarkan serangan dan merebut bandar. Pengislaman dengan gaya mengambil gaya ini konon terjadi di Demak dan Jepara.

Satu hal yang juga menarik, perkembangan Islam di Jawa sendiri tidak lepas dari apa yang disebut Dewan Wali atau yang lebih familiar disebut dengan Wali Sanga, kelompok dakwah alim ulama.

Di tataran ini tiap wilayah misie biasanya memiliki satu kelompok pemandu iman. Biasanya kelompok pemandu iman ini terdiri dari, sebutlah, satu imam besar yang dibantu oleh beberapa rekan ataupun abdi dan muridnya. Seringkali walau jelas berada di bawah satu induk yang sama, namun pemandu iman ini tidak berasal dari golongan yang sama. Maka tidak mengherankan jika pada banyak kesempatan pemandu iman di satu lokasi dan lokasi lain kerap bersaing untuk menanamkan pengaruh dan mendapatkan simpati massa. Hal yang sama bukan tidak terjadi di Jawa, walau tidak didapati sengketa terbuka macam di Perlak kecuali berkenaan dengan perdebatan kaum ‘mistik’ dan syariatnya saja, namun boleh dikatakan bahwa Jawa memiliki ke-khasan tersendiri, yakni jaringan pemandu iman di Jawa beroperasi dibawah kendali satu otoritas pusat yang secara integral mengelola dan mengendalikan wacana (belum dipastikan apakah kelompok pemandu iman ini rekayasa Internasional ataukah sebuah ’pernyataan tulus’, yang personal dan lokal saja sifatnya, bagi perkembangan dakwah Islam). Puncak pencapaian dari kerja besar ini tidak main-main yakni, berdirinya Kasultanan Islam pertama di tanah Jawa sekaligus ‘Islamnya’ tanah Jawa.

Demak Bintara dan Berbagai Versi Mengenai Jatuhnya Majapahit
Banyak cerita lisan yang menyebutkan bahwa Kerajaan Demak Bintara naik menggantikan Dinasti Majapahit dengan jalan kekerasan. Adapun risalahnya adalah sebagai berikut:

Raden Patah adalah Sultan Demak Bintara, Kerajaan Islam pertama di Jawa. Menurut catatan Tome Pires dalam Suma Oriental yang dikutip oleh de Graaf & Pigeaud (1986: 41-43), kakek raja Demak yang memerintah tahun 1513 adalah seorang budak belian (abdi). Ia menetap di Gresik dan awalnya mengabdi kepada penguasa Demak. Pada gilirannya ia diangkat menjadi Capitan dan ditugasi untuk memimpin ekspedisi melawan kafir Cirebon yang pada akhirnya dapat dikuasai pada tahun 1470. Capiten itupun mendapat gelar Paté dari tuannya. Sementara menurut Hikayat Hasanuddin, asal moyang Cina itu adalah Cek Ko Po dari munggul. Soal Munggul, kata ini dekat dengan moechoel yang disebut oleh Cornelis de Bruin maupun mogael yang dikatakan oleh Hendrick van der Horst, juru bahasa VOC.

Banyak kalangan mempercayai bahwa Patah adalah putera Brawijaya dari selir Cina yang telah diserahkan Brawijaya sebagai hibah kepada Arya Damar, Patih di Palembang. Dalam sejarah lisan Jawa, Arya Damar ini seringkali disebut-sebut sebagai raksasa. Tidak heran dalam Darmo Gandhul penggambaran berbangsa tiga, Jawa dari bapak, Cina dari ibu dan raksasa seringkali menjadi argumen yang diajukan untuk memperlihatkan watak ‘buruk’ Patah. Pernyataan ini paling tidak terlihat dalam perbincangan antara Brawijaya dan Kalijaga. Waktu itu Kalijaga minta diterangkan mengapa Brawijaya hanya ‘mengijinkan Patah menjadi Ratu di Tanah Jawa selama tiga turunan’, dan Brawijaya menjawab “…mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan, amarga si Patah iku wiji têlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wêkasku, anak putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapêsake urip…” (Huda, 2005: 197).

Menurut Darmo Gandhul (2005: 3-4) setelah besar, Raden Patah bersama Raden Husein (saudara seibu berbeda ayah) pergi menghadap pada Brawijaya. Patah—yang mendapat julukan Babah untuk mengingatkan akan asal moyangnya (leluhur ibu dari Cina), yakni lahir di (atau dari?) negeri lain—kemudian diangkat Brawijaya menjadi Bupati Demak dan dinikahkan dengan cucu Kyai Ampel Gading, sementara Raden Husein ditempatkan di wilayah lain.

Mudah ditebak bahwa pada saat itu Islam juga tengah berkembang di sepanjang wilayah pesisir. Hal ini terutama semenjak hadirnya kemenakan puteri Campa, Sayid Rahmat ke tanah Jawa. Atas ijin Brawijaya pulalah Sayid Rahmat kelak boleh tinggal dan menetap di Gresik.

Menurut cerita lisan, bahwasanya Puteri tersebut memiliki ipar yang berasal dari Arab. Ia adalah ulama sohor yang kemudian menyebarkan Islam ke Gresik dan Surabaya. Dari pernikahan dengan kakak Puteri itu, Sang Ulama memiliki dua anak, yang pertama disebut Raja Pandita dan yang kedua disebut Raden Santri atau lebih dikenal dengan nama Raden Rahmat atau Pangeran Ngampel Denta. Dalam Sedjarah Dalem, yang sulung disebut sebagai Sayid Ngali Murtala dan yang muda Sayid Ngali Rahmat. Bersama salah seorang sepupunya, ketiga anak muda itu mengunjungi bibi mereka di Jawa. Sayid Rahmat – Ngampel Denta sendiri adalah satu tokoh tertua dan terkenal di Jawa. Ia adalah salah satu dari Empat Orang Suci Agama Islam pada zaman kuno: a) Jumadil Kubra di Mantingan; b) Nyampo di Suku Dhomas, Dada Petak, Bromo; c) Maolana Iskak—atau kerap disebut juga Syeh Wali Lananng—dari Blambangan, yang dianggap sebagai ayah Sunan Giri I). Lih. Graaf & Pigeaud, 1986: 19-20.

Lewat masa itu, Babad Meinsma menuturkan bahwa Brawijaya telah memperingatkan Patah agar taat kepada kerajaan. Tetapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Patah dengan dukungan Ulama—khususnya Dewan Wali—malahan menggempur kota Kerajaan Majapahit. Kepungan terhadap Kerajaan tua itu tidak menghadapi perlawanan yang berarti, maka tanpa halang rintang naiklah Patah menggantikan kedudukan ayahnya. Gelarnya adalah Ratu, Senapati Jimbuningrat atau Sultan Syah `Allam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri`lmukminin Tajudi`l`Abdu`lhamid atau Sultan Adi Surya `Alam ing Bintara (Huda, 2005:163), atau Senapati Jimbun Ngabdu’r-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata’Gama (Graaf & Pigeaud, 1986: 61).

Pararaton mengisahkan jika setelah wafatnya Sunan Ngampel para santri dan kaum ulama memutuskan untuk menyerang Majapahit, tetapi waktu itu Sunan Kalijaga berusaha menghalangi niat itu. Menurut Kalijaga, Brawijaya tidaklah mengganggu maupun menghalangi Islam. Selain itu, Demak juga masih mengirimkan upeti (seba) tahunan dan belum lagi berencana memberhentikannya. Tetapi serangan tetap dilaksanakan.

Sunan Ngundung, Imam Masjid Demak, bersama pemimpin agama dan santri bergerak menuju Majapahit. Namun pasukan itu berhasil dipukul mundur oleh Patih Gajah Mada di Tuban. Menurut de Graaf & Pigeaud (1986: 165), meski menggunakan Tuban sebagai ‘markas sementara’ tetapi keluarga Dipati Tuban yang telah separuh Islam tidaklah membantu penyerangan para santri itu. Hal ini mungkin untuk menjaga ‘kenetralan’ mereka karena selama ini Tuban memang berada di bawah penguasaan Majapahit selain memiliki kedekatan dengan Maharajanya.

Serangan kedua dilancarakan kembali tetapi kali ini para santri muda sajalah yang dikerahkan. Seluruh panglima besar Majapahit turun ke gelanggang kecuali Gajah Mada. Mereka antara lain Aria Gugur sang putera mahkota, Adipati Klungkung dan Andayaningrat. Peperangan terjadi di Wirasaba (beberapa menyebut lokasi peperangan berada di sekitar Sungai Sidayu). Pihak Majapahit kehilangan Andayaningrat sementara pihak Demak harus kehilangan Sunan Ngundung (rupa-rupanya Antakusuma yang dikenakan Sunan Ngundung, baju ajaib yang diterima Sunan Kalijaga dari ‘langit’ pada sidang permufakatan sebelum penyerangan, tidak kuasa menahan tusukan para Panglima Majapahit). Setelah kejadian itu, Sunan Nurullah atau Gunung Jati segera menetapkan putera Sunan Ngundung untuk mengganti kedudukan ayahnya. Pada serangan ketiga, di bawah kepemimpinan Penghulu Demak inilah Majapahit akhirnya jatuh.

Banyak versi yang menceritakan kejadian pasca jatuhnya Majapahit. Brawijaya sendiri, menurut versi Darmo Gandhul (Huda, 2005: 165), melarikan diri menuju daerah Jawa bagian Timur. Ditemani oleh dua abdinya, Sabdopalon dan Nayanggenggong, ia berencana menuju Blambangan dan Bali guna meminta dukungan sekaligus membangun pusat kekuatan baru untuk memukul mundur pasukan Islam-Demak.

Namun sebelum mencapai tempat itu, Sunan Kalijaga yang mendapat tugas untuk mengejar Brawijaya berhasil menemukan raja itu dalam keadaan yang agak mengenaskan. Setelah mendengar keluh kesah mengenai tak berbaktinya anaknya, Kalijaga berusaha memberi penjelasan maksud segala sesuatunya itu adalah kehendak Allah agar manusia tidak kafir dan menjadi Muslim sejati. Kalijaga berusaha mengislamkan Brawijaya dan dengan beberapa mukjizat akhirnya Brawijaya luluh. Detik itu Brawijaya menjadi seorang Muslim. Kenyataan itu ditentang oleh Sabdopalon, abdi para raja Jawa. Setelah menjelaskan panjang runtut sejarah Jawa dan keberadaannya Sabdopalon berjanji bahwa pada saatnya kelak ia akan kembali, “…ing besuk yen ana wong Jawa ajeneng tuwa, agegaman kawruh, iya iku sing diemong Sabdopalon, wong jawan arep diwulang weruha marang bener luput (…) besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh” (Huda, 2005: 180-193).

Sementara beberapa versi lain menyebut jikalau Brawijaya, ketika masih berada dalam Istana dan telah mengetahui kedatangan pasukan anaknya tetap berdiam diri. Ia menanti dengan tenang sampai kemudian berhadap-hadapan langsung dengan anaknya atau kepala pasukan yang ada. Setelah pertemuan yang sejenak itu Brawijaya beserta seluruh pengikutnya moksa. Maka menyesallah Patah dalam hati kecilnya ketika mengetahui kebenaran itu dan bahwa ia telah diperdayai Dewan Wali.

Patah kemudian digantikan oleh Sabrang Lor atau Dipati Unus. Lepas masa itu Trenggana naik tahta hingga wafatnya dalam ekspedisi menaklukan Panarukan, 1546. de Graaf & Pigeaud mengutip Mendez Pinto dalam Peregrinacao mengatakan, wafatnya Trenggana disusul oleh pecahnya kerajaan karena perebutan kekuasaan antar anggota dinasti. Ibukota Demak hancur. Delapan raja yang mempunyai hak untuk menentukan raja memilih meninggalkan Demak. Pembesar kerajaan yang masih tinggal tanpa sepengetahuan ‘kelompok delapan’ pergi menuju Surabaya, dan menetapkan “Pate Sudayo yang berkedudukan di Pisammanes” sebagai raja. Dalam sembilan hari ia muncul di Demak dengan bala tentara besar dan segera memulihkan ketertiban. Sunan (dari Gunung) Prawata atau Sunan Mukmin kemudian naik menggantikan Trenggana, setelah sebelumnya tanpa alasan yang diketahui, membunuh Seda Lepen, saudara Trenggana. Pada masa berkuasanya—karena kekuasaan pemerintahan sebenarnya telah beralih tangan—Sunan Prawata tak kuasa menahan pergerakan nagari-nagari setengah merdeka di Jawa Barat, macam Cirebon dan Banten, maupun di Jawa Timur, Gresik-Giri dan Surabaya. Hal ini agaknya sudah mulai terjadi pada pertengahan abad 16.

Sunan Prawata sendiri kemudian tewas ditangan Arya Panangsang dari Jipang yang berusaha menuntut balas kematian ayahnya, Seda Lepen (menurut Babad Giyanti keduanya meninggal pada 1549 atau 1471 J). Selain membunuh Prawata, Arya Penangsang juga membunuh Adipati Jepara, Pangeran Kalinyamat karena diduga masih memiliki pertalian darah dengan raja Demak. Arya panangsang juga berencana membunuh Jaka Tingkir. Akibatnya, Arya Penangsang mendapat perlawanan dari berbagai penguasa di wilayah lain. Namun akhirnya Arya penangsang dapat dikalahkan oleh Djaka Tingkir, anak Kebo Kenanga sekaligus menantu Prawata. Diduga Ratu Kalinyamatlah yang menggerakkan Jaka Tingkir untuk menghancurkan Jipang dan menundukkan Aria Panangsang. Bagi Jaka Tingkir sendiri pembalasan ini tidak semata ‘demi’ Sunan Prawata, karena dengan demikian ia telah membalas kematian Kebo Kenanga, ayahnya, yang tewas ditangan Sunan Kudus, guru Arya Panangsang (lih. profil Sunan Kudus).

Setelah itu dapat dikatakan kewibawaan Demak runtuh dan digantikan oleh kota pelabuhan Jepara. Mulai saat itu kekuasaan sepanjang pesisir utara pada perempat ketiga abad 16 ada ditangan Ratu Kalinyamat di Jepara. Di sana ia juga mengasuh anak-anak saudaranya yang telah tewas terbunuh. Dengan demikian pemerintahan Prawata (1546-1549) adalah anti-klimaks dari kejayaan Demak dimasa sebelumnya.

Demikianlah sekilas urutan pemangku kekuasaan dalam Dinasti Demak hingga Mataram Islam:

1. Raden Patah
2. Sabrang Lor* (&/ Patê Unus)**

* Adapun menurut Pires, raja kedua Demak adalah Paté Rodim Sr, ‘persona de grande syso “orang yang tegas mengambil keputusan” dan cavaleiro “seorang ksatria” bangsawan dan teman tertua Paté Zeynall dari Gresik—Patih tertua di Jawa.’ Konon ia memiliki armada laut yang terdiri dari 40 kapal jung.

** Paté Unus adalah penguasa Jepara yang mendapatkan kedudukan itu ketika ia berusia 17 tahun (atau sekitar tahun 1507). Konon kakek Paté Unus adalah buruh asal Kalimantan Barat yang berhasil mengadu nasib ke Malaka setelah berdagang dengan pedagang Jawa. Tak lama kemudian ia menetap di Jepara. Tahun 1470, ia menyuruh membunuh Patih Jepara hingga akhirnya membuat ia dapat berkuasa secara penuh. Keluarga Paté Unus disebut De Barros, seorang penulis Portugis, bekerja dengan cara bajak laut. Pires sebenarnya hidup sejaman dengan tokoh yang disebut sebagai Paté Rodim Jr. Menjadi bias keterangan berdasar Suma Oriental, apakah yang dimaksud dengan Pangeran Sabrang Lor adalah sama dengan Paté Rodim Sr.? Sejarah mencatat (paling tidak ambilah Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sebagai referensi) setelah penyerangan Paté Unus ke Malaka dihancurkan Portugis (1512-1513), kekuatan maritim setelah itu menjadi kolaps. Jika demikian Pangeran Sabrang Lor bukan tidak mungkin adalah Paté Unus, terutama mengingat asal usulnya, sementara Paté Rodim Jr yang dimaksud Pires pastilah Trenggana, karena Trenggana—dalam Arus Balik—berkuasa setelah kekalahan Paté Unus. Atau jika tidak demikian, sekurang-kurangnya kekuasaan Demak setelah Raden Patah memang berada di tangan Pangeran Sabrang Lor, dan secara ‘tidak resmi’ dijalankan oleh Paté Unus (Ingat! Menurut data Pires, Paté Unus menikah dengan puteri Paté Rodim Sr. Selisih umur Paté Unus dan Paté Rodin Sr adalah lima tahun, dengan demikian Paté Unus tetaplah kerabat dekat Demak. Disamping kenyataan itu, faktor lain yang tak boleh dilupakan adalah kedudukan Demak dan Jepara. Demak adalah penguasa bagian selatan Pegunungan Muria dan Jepara mengendalikan sisi barat pegunungan. Keduanya menjadi dwitunggal terutama setelah Jepara menjadi pelabuhan bagi Demak dan Juwana yang pada abad sebelumnya, abad ke-15, memegang kendali penimbunan beras berhasil dihancurkan oleh Panglima Besar Kerajaan Majapahit. Menjadi masuk akal hubungan antara Sabrang Lor dan Paté Unus, jika seandainya keduanya bukan orang yang sama, walaupun sejarah Jawa mempercayai cerita sebaliknya). Baru setelah itu Trenggana naik ke atas pentas, melanjutkan masa emas Dinasti Demak yang tinggal sejenak.

3. Trenggana

Menurut Serat Kandha, Trenggana adalah saudara Pangeran Sabrang Lor (keduanya putra Patah). Ada tokoh yang disebut Paté Rodim Jr. oleh Pires. Ia seringkali digambarkan sebagai orang yang senang menghabiskan waktu di keputren, hidup dalam kemewahan dan selalu berfoya-foya. Ia tidak menggagas masalah kenegaraan. Pada tahun 1513, 40 kapal jung pada masa Paté Rodim Sr sudah berkurang menjadi 10 jung saja.

4. Prawata
————————————————
Arya Panangsang – Jipang
————————————————
Djaka Tingkir – Pajang
————————————————
Senopati – Mataram

Setelah Djaka Tingkir mengalahkan Panangsang segera ia Keraton dialihkan dari Demak menuju Pajang hingga ia dikenal sebagai Sultan Pajang. Melalui beberapa periode kesemrawutan paska kekuasaannyalah akan terbangun kemudian salah satu Dinasti terbesar yang pernah bertahan di Jawa, Mataram.

Djaka Tingkir, kelak Hadiwijaya menurut kepercayaan adalah anak Kebo Kenanga (anak dari putri Brawijaya yang menikah dengan Andayaningrat dari Pengging—sebagai tanda jasa karena ia berhasil mengalahkan Blambangan dan Bali. Andayaningrat sendiri adalah keturunan dari Raja Buaya dari Semanggi dan ibu dari trah Raden Juru, keturunan Gajah Mada) yang dititipkan kepada penguasa Tingkir sehingga ia disebut dengan nama jejaka dari Tingkir. Kelahirannya bertepatan dengan pertemuan “Empat Serangkai Suci” pada pagelaran wayang beber hingga ia juga disebut dengan Mas Karebet. Masyarakat Jawa menganggapnya sebagai orang ‘Jawa asli’ sama halnya dengan Senapati Mataram. Anggapan ini mengacu pada mitos yang mengelilinginya, seperti persekawanannya dengan buaya—yang boleh jadi berasal dari leluhurnya (sejenis hubungan rahasia antara Senapati dengan Ratu Kidul). Bagi orang Jawa kisah macam ini menunjukkan asal sejatinya ia. Terutama setelah Islam berkembang kisah macam ini jarang lagi terdengar karena mungkin dianggap bi’dah.

Sekedar melengkapi catatan mengenai kehidupan sosial yang terjadi saat Demak berkuasa, berikut cuplikan Graaf & Pigeaud (1986: 75-81):
1. Sultan Demak pertama sempat membuat Undang-undang di bidang pelaksanaan hukum yang dikenal sebagai Salokantara.
2. Istilah pra Islam masih banyak digunakan, macam: pengadilan pradata, dharmadhyaksa dan Kertopapatti (pemimpin rohani yang menjadi anggota Mahkamah Agama Kerajaan).
3. Fiqh sebagai hukum tertinggi Islam yang seharusnya digunakan dimana tempat yang mengaku Islam, tidaklah pernah digunakan secara penuh. Sejauh ini fiqh seringkali hanya digunakan untuk menyelesaikan kasus yang berkaitan dengan masalah perkawinan dan tata cara ibadat.
4. Pola arsitektur Kraton Majapahit pada abad 14-15 tetap digunakan pada masa Demak, Pajang, Mataram Islam bahkan hingga pada masa kini: Surakarta dan Yogyakarta.
5. Sekularisasi disegala bidang. Pada abad 15-16 semua cara kafir harus ditinggalkan, termasuk juga pada bidang kesenian (ingatlah bagaimana perilaku Sunan Bonang dalam Darmo Gandhul digambarkan: ia menghancurkan arca peninggalan masa pra-Islam, menyumpahi perawan dan tiap laki-laki disebuah desa di Kediri karena tak diberi air bersih untuk wudhu, membelokkan aliran sungai, dll sampai-sampai Buta Locaya, Raja Lelembut di kaki Gunung Wilis turut mengomentari kelakukannya itu). Sebagai akibat, misalkan saja berkurangnya nilai sakral gamelan dan wayang. Tidak hanya itu sekularisasi juga terjadi pada bidang lain macam sastra.
6. Lahirnya kelompok ‘penghulu bersenjata’, yang dipimpin oleh Kudus. Fanatisme barang jadi lahir sebagai wujud kecintaan dan bela ‘negara’ terutama ketika kelompok tersebut berhadapan dengan kafir lama. Sebagai contoh, sejak abad 17, para suronata menjadi kelompok rohani yang dipersenjatai dan biasanya mereka memiliki kedekatan lebih dengan Raja. Mungkin hal ini pulalah yang menyatukan banyak kekuatan Islam ketika mereka—di bawah kepemimpinan Demak Bintara—mengepung dan menyerang Majahit. Menurut de Graaf & Pigeaud pengerahan pasukan ini dapat terjadi karena

“pertama, keimanan kelompok-kelompok alim ulama Islam, yakni golongan menengah, dipimpin oleh para pemuka yang semula merupakan imam-imam di masjid; kedua, cita-cita politis yang mengarahkan ke perluasan wilayah kekuasaan dan kemerdekaan kerajaan-kerajaan Islam muda di Jawa Tengah” (de Graaf & Pigeaud, 1986: 61.)

Mataram
Tak berapa lama setelah beberapa kericuhan terjadi paska wafatnya Sultan Pajang, Senapati akhirnya berkuasa di Kota Gede. Senapati adalah putera Pamanahan, keturunan Ki Ageng Nis (yang tinggal di Laweyan) dan Ki Ageng Sela asal Grobogan, penangkap petir yang terkenal itu. Kota Gede ditempati Pamanahan tahun 1577 setelah ia melakukan babat alas mentaok. Baru setelah wafatnya Pamanahan (1583), sekitar tahun 1584 Senopati naik tahta hingga wafatnya, 1601.

Ia berhasil menduduki tahta berkat keberhasilan Pamanahan, ayahnya dan Panjawi yang waktu itu sempat menjadi angota korps tamtama Demak dan bekerja untuk raja yang berkuasa. Setelah membantu Sultan Pajang mereka memperoleh hak memerdekakan diri karena Demak sendiri telah runtuh. Panjawi mendapat lokasi di Pati sementara Pamanahan di pedalaman Mataram (secara sosial Pati lebih besar dari pedalaman Mataram, ini menunjukkan ‘posisi’ Panjawi dan Pamanahan dimata Sultan Pajang).

Sultan Pajang sendiri wafat tahun 1587 di taman kerajaannya dan dimakamkan di Butuh (nama salah satu daerah dari kelompok ‘Empat Serangkai Suci’). Entah oleh sebab penyakit tua, kecelakaan ataupun tindakan dari “Juru Taman”. Tidak diketahui secara pasti siapakah Juru Taman ini kecuali bahwa ia adalah seseorang yang ingin dianggap berjasa oleh Senapati Mataram. Setelah tewasnya Sultan Pajang, Babad Meinsma menceritakan Pajang dalam keadaan kacau. Raja Demak dan sejumlah pasukan (sebagian adalah budak belian asal Bali, Bugis dan Makasar) muncul di Pajang untuk menuntut hak raja. Tetapi pasukan ini dapat dihalau oleh pengikut bersenjata raja Mataram yang telah bersekutu dengan Benawa, anak Sultan Pajang dan calon raja. Pada waktu itu, dengan hormat Senapati mengantar kembali Raja Demak yang sudah tua, kembali dengan tandu yang dikawal ketat dan tangan diikat cinde – selendang sutera saja. Raja Demak ini, yang hanya disebut Adipati Demak saja, rupanya ia menikah dengan anak perempuan Sultan Pajang. Benawa sendiri sempat menjadi menduduki tahta Pajang, 1587-1588, di bawah perlindungan Senapati.

Senapati terkenal sebagai agresor. Ia berhasrat menundukkan seluruh raja pesisir yang telah tercerai berai sejak runtuhnya Demak juga raja-raja di pedalaman Jawa. Selama masa berkuasanya boleh dikatakan ia berhasil dalam bidang politik dan kemiliteran. Namun demikian ia tidaklah diakui sebagai raja yang sejajar oleh raja-raja lain karena cara-cara berpolitik, perilaku maupun status sosialnya yang dianggap tidak setara. Hal ini sangatlah kontras terutama jika dibandingkan dengan pengakuan yang diterima Sultan Pajang tahun 1581. Pada Musyawarah Khikmad di Giri Kedaton Sultan Pajang memperoleh pengakuan sebagai Raja Islam sekaligus Sultan dari raja-raja penting di Jawa Timur maupun Pesisir Timur. Mengenai cara berpolitik dan perilaku yang tidak dapat diterima adalah ketika ia mengalahkan Madiun dengan ‘cara kotor’, mengumpankan Nyai Adisara (kelak isterinya sendiri, ibunda Pangeran Puger), membuat berita bohong-tidak dapat dipercaya, sekaligus ‘merampas’ Puteri Madiun, Retno Dumilah. Perkara inilah yang pada gilirannya memicu sengketa dengan Adipati Pati, Pragola. Pragola merasa Senapati telah melecehkan keberadaan saudarinya (Dipati Pragola adalah anak Panjawi. Saudara perempuannya, Putri Pati adalah isteri Senopati yang kelak menjadi neneknda Sultan Agung).

Rupa-rupanya masa itu memang secara total digunakan untuk mengkonsoldasikan kekuatan politik, menggarap lahan yang cenderung tandus sehingga tidak ada satupun kegiatan mengembangkan sastra atau bidang kesenian lain. Ini tentu berbeda dengan masa Pajang. Paling tidak waktu itu kegiatan pada bidang sastra, tasawuf, agama dan arsitektur berkembang maju. Baru setelah Sultan Agung, Raja ketiga Mataram berkuasa, perkembangan seni dan budaya kembali berkembang pesat.

Kekuasaan Mataram setelah wafatnya Senopati berada ditangan Raden Mas Jolang. Pada waktu itu raja muda ini sempat mengangkat kakak sulung tidak sekandung, Pangeran Puger sebagai Adipati Demak, pada tahun 1601. Pangeran ini adalah putra dari Nyai Adisara yang telah membantu Senopati menaklukan Madiun. Menurut Sedjarah Dalem, dengan kecantikannya Nyai Adisara menggoda Adipati Madiun. Ia membawa surat Senopati yang mengatakan Mataram akan takluk kepada Madiun. Surat itu adalah tipuan belaka. Tetapi Adipati Madiun sudah keburu menarik pasukannya. Akibatnya Senopati dapat masuk Madiun dengan mudah.

Pangeran Puger tidak berpuas hati dan karna pengaruh Yang Dipertuan di Gending dan Panjer (mungkin Jawa Timur), ia mengangkat senjata menyerang Mataram. Pangeran Puger dapat dikalahkan di Tambak Uwos dan ditawan oleh prajurit Mataram yang dipimpin oleh Sang Raja langsung. Sebagai hukuman ia bersama sanak saudaranya, tanpa pengikut, diharuskan menetap di Kudus. Demak kemudian diberikan pada Tumenggung Endranata I atau Ki Gada Mestaka. Tapi rupanya ia juga tidak bebas dari pengaruh politik pesisir yang berbeda dengan pedalaman Mataram. Tahun 1627 ia terlibat pertempuran antara Adipati Pati, Pragola II dengan Sultan Agung. Akhirnya, ia dibunuh dengan keris sebagai pengkhianat oleh perintah Sultan Agung. Sayang kekuasaan Raden Mas Jolang begitu singkat. Tahun 1613 dikabarkan ia tewas di Krapyak dan sejak itu ia dikenal sebagai Pangeran Seda ing Krapyak. Posisinya digantikan oleh Sultan Agung, Raja Mataram yang liat – yang telah dimenangkan sekaligus dikalahkan oleh jaman.

Sultan Agung menandai era emas Dinasti Mataram. Namanya terus dikenang hingga hari ini, antara dipuja sebagai pahlawan sekaligus dipertanyakan. Terutama berkenaan dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat, yang dianggap banyak kalangan akademisi maupun para peneliti, telah mencederai kekuatan maritim Nusantara. Lombard maupun de Graaf sama-sama menganggap masa-masa keperintahan Sultan ini adalah titik balik Nusantara dan bukan sekedar sejarah Jawa. Bukan hanya itu, Sultan Agung dan Mataram dianggap sebagai salah satu pilar utama, selain VOC – kaum Kolonial Belanda, yang merenggut kekuatan Jawa itu sendiri. Termasuk perluasan kekuasaan yang secara terang-terangan terus dilakukan ke wilayah pedalaman selama masa berkuasanya: 1615 Mataram merebut Wirasaba, 1616 menaklukan Lasem, 1617 menyerang Pasuruan, 1619 melumpuhkan Tuban dan sebagai puncaknya adalah penaklukan Surabaya 1625. Walaupun sempat menghadapi kekuatan Demak, Pati dan beberapa wilayah di daerah pesisir, namun tampaknya hanya Blambangan dan Banten, yang tidak dapat dikuasai Mataran secara penuh. Hampir seluruh Jawa berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan ini.

Meski demikian, ekspansi-ekspansi yang dilakukan Agung dapat dikatakan terbayar dengan prestasi atau katakanlah dengan usahanya untuk menundukkan VOC di Batavia, 1628 dan 1629. Walaupun gagal, penyerangan dari laut maupun darat itu menjadi catatan sejarah terakhir bagi perlawanan Jawa sebelum akhirnya ditutup oleh Perang Jawa yang kelak dikomandani oleh Dipanegara, 1825-1830. Antusiasme Agung terhadap perkembangan dunia, teknologi, kesenian maupun sastra sangatlah tinggi. Atas perintahnya, dibuat beberapa babad yang menceritakan kronologi Dinasti Jawa. Ia sendiri sempat menciptakan Sastro Gendhing yang berisi mengenai paham-paham moral. Selain itu pada masanya tercipta satu tokoh wayang, yakni buto cakil. Raksasa bertaring dengan rambut terurai berwarna kuning, yang mungkin dibuat sebagai representasi kaum kolonialis pada masa itu. Agung juga dikenal sebagai arsitek yang cakap. Istana di Pleret yang sepenuhnya terbuat dari kayu, walau kini tak bersisa diduga adalah rancangannya. Satu bukti kebesaran peninggalannya adalah Makam Raja Imogiri yang dibangun atas perintahnya kurang lebih sekitar tahun 1630-an.

Tak dapat disangkal bahwa legitimasi kekuasaannya menjadi semakin terangkat terutama ketika pada tahun 1633, ia berhasil memadu-madankan perhitungan tahun Caka, Hijriah menjadi tahun Jawa yang dititahkan berlaku secara umum setelah masa itu. Kedudukannya Agung menjadi makin mantap ketika tahun 1641 ia mendapat gelar Sultan Abdul Muhammad Maulana Matarami dari Mekkah.

Pengganti Agung adalah Mangkurat Agung / Mangkurat I (1646-1677) atau juga dikenal sebagai Sunan Seda Tegalarum yang bertahta di Kartasura, selanjutnya Mangkurat Amral / Mangkurat II (1677-1703), yang kemudian digantikan oleh Mangkurat Mas / Mangkurat III (1703-1704). Pangeran Puger / Sunan Pakoeboewono I (1708-1719) berkuasa dan kemudian digantikan oleh Mangkurat Jawi / Mangkurat IV (1719-1727), dan dilanjutkan oleh Pakoeboewono II (1727-1745) dan memindahkan karaton ke Surakarta (1745-1749). Pada masa Sunan Pakoeboewono III (1749-1788), berdasar perjanjian Giyanti, 1755 yang dibuat dengan persetujuan Belanda akhirnya Mataram terpecah menjadi 2 (dua): Surakarta diperintah Pakoeboewono III, sedang Jogja diberikan kepada pamannya sendiri yang bergelar Sultan Hamengkoeboewono I (1755-1792). Setahun kemudian Putra dari pangeran Mangkunagara (salah satu putra Mangkurat IV) yaitu raden mas Said atau dikenal dengan julukan pangeran Sambernyawa, memperoleh kekuasaan serupa raja, tapi dengan beberapa pengecualian. Ia mendirikan Pura Mangkunegaran. Jejak sama terjadi di Jogja. Tahun 1813 Kasultanan Jogja terbagi dua dan sebagian kecilnya menjadi milik Pangeran Paku Alam I.

Banyak hal terjadi terutama pada rentang setelah wafatnya Agung hingga meleburnya kerajaan-kerajaan Mataram di bawah yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu dua hal yang patut dicatat adalah berlakunya cultuurstelsel yang mengakibatkan bertambah luasnya peran Kyai di pedalaman akibat kewenangan yang diberikan Belanda kepada para elite dan priyayi. Menurut Magnis-Suseno (2001: 35) tampaknya hal ini melahirkan anggapan bahwasanya elite / priyayi sama dengan penjajah. Islamlah yang kemudian dianggap menjadi basis pertahanan rakyat. Selain itu kegagalan perang Jawa dan dibukanya terusan Suez memberi dampak pada perkembangan Islam. Pembaharuan Islam menjadikan Islam di Jawa cenderung mengikuti corak Arab. Keadaan ini menjadikan polarisasi antara abangan dan santri makin mengerucut, terus bergerak pada masa-masa selanjutnya.

back to   [part i] [part ii]