Gambar ini adalah gambar “mandala” milik Mbak Niki Saraswati yang saya unduh dari link ini. Sistem mandala sudah dikenal sejak berabad-abad lamanya. Ia berdiri sebagai konsep geografi suci yang menjadi acuan dibentuknya ruang-ruang yang ada, tidak saja dalam artian metafisik, melainkan juga ruang fisik. Ia sekaligus merangkum titik makro maupun mikro kosmos untuk selanjutnya mensinergikannya dalam gerak triad dialektika hidup: manusia, alam dan Sang Hyang. Dengan pola ini kota-kota lama dibuat, karya-karya besar diciptakan, dialektika-antagonistik (pilihan ataupun ketetapan hitam-putih, baik-buruk, benar-salah) diharmonikan. Peradaban besar tidak akan langgeng tanpa mengikutsertakan hukum ini karena ia adalah keran bagi terbentuknya tubuh sosial yang sehat.

Pembangunan tubuh sosial yang tepat kiranya harus memperhatikan enam prinsip ekologi dari sistem hidup yang kompleks, yakni (1) kesalingbergantungan-interdependency, (2) kedaurulangan-cyclicity, (3) kemitraan-parthnership, (4) keluwesan-flexibility, (5) keanekaragaman-diversity, (6) keberlangsungan-sustainability sebagaimana menjadi pergulatan Fritjof Capra.

Maka, sebagai sebuah pengetahuan yang diturunkan oleh leluhur kita, sudah sepantasnya kita kembali mengurai pola-pola ini menjadi sebuah gerak; daya hidup.