Tadi malam kulihat sepoci cuka keluar dari kepalamu. Rupanya malam telah merebus sendirimu. Dan kunang-kunang lukamu hinggap kemana ia mau. Sunyi memotret tua pohon wajahmu yang beku. Tapi bolamatamu syahdu menggelambirkan asma. Surut asam menggelantung pada hujan. Bumi berserak-kata mengotek. Segitiga menerjang lingkaran. Sudut melukai hatinya. Siapa menanggung segala ada. Pada kotak waktu akhirnya Kamu tiada. Tapi kita masih hidup. Bersama jutaan poci cuka yang keluar dari kepala.

 

Ps. Sembah-yanglah pada malam.

Karna ia setia merebus tiap sendiri yang ada.