Patung Laksamana Zheng He atau yang lebih mendunia dengan nama Cheng Ho, yang berada di Taman Sahabat (Friendship Park). (foto: lilduckling/flickr.com)

“Berdasar catatan-catatan selama tujuh kali muhibah Cheng Ho ke selatan, dari tahun 1405-1433 Masehi diketahui bahwa Agama Islam masih dianut penduduk Cina dan Arab serta Persia. Ma Huan dalam Ying-Yai Sheng-Lan mencatat, penduduk pribumi di kota-kota utara Jawa masih memuja batu-batu dan ruh-ruh. Dan sepanjang muhibahnya itu, Cheng Ho di sejumlah tempat seperti Semarang (Wang Jing Hong), Karawang (Syekh Qura), Kalapa (Soei Soe) meninggalkan anak buahnya untuk melakukan dahwah Islam kepada penduduk yang belum menerima Agama Islam” Jejak-jejak Cheng Ho, Agus Sunyoto (sejarahwan)

*

Minggu lalu, 30 Januari 2011 adalah hari kedua pementasan Lesbumi. Sudah pasti ini menarik, mengingat betapa panjangnya sejarah tidur Lesbumi sebelum kembali dibangunkan pada Multamar NU ke-31 di Solo tahun 2004 lalu. Tugas Lesbumi adalah mengembangkan berbagai bentuk kesenian yang bisa dijadikan sebagai sarana mengaktualisasikan ajaran Islam, dan pada kesempatan ini, kebesaran Cheng Ho yang dianggap sebagai peletak dasar strategi kultural dalam penyebaran Islam, diangkat naik ke atas pentas.

‘Pagelaran Laksamana Cheng Ho’ yang juga diusung dalam rangka harlah NU ke-85 itu berlangsung selama dua jam. Dalam rentang itu, penonton diajak mengikuti alur hidup Cheng Ho, termasuk sejarah kekuasaan yang melatarbelakanginya. Hiruk pikuk perseteruan Yong Le dan Jianwen, para kaisar pada masa Dinasti Ming, tampil dalam bentuk pertunjukan wayang golek yang dibawakan dengan apik oleh Ki Enthus Susmono. Mengadopsi gaya Potehi, Enthus berdiri menjadi partisi sekaligus prolog bagi sebuah babak. Diceritakan pula di sana, bagaimana Yong Le berhasrat untuk mengubah catatan sejarah yang ditolak oleh Guo Cong Le, yang berakibat pada pembunuhan dirinya dan seluruh keluarganya. Adegan pembunuhan ini diwakili oleh Enthus. Tampil pada adegan itu beberapa golek yang merepresentasikan penguasa hari ini, Barack Obama, Esbeye, dan tak ketinggalan GT Man alias Gayus Tambunan. Dapat ditebak jika sepanjang pertunjukan ini Enthus asyik membuat sentilan kanan-kiri yang dituangkan dalam bentuk komedi dan tak sulit diterka, jika saban penonton tak kuasa menahan diri untuk tak larut di dalamnya. Praktis, Enthus Susmono yang pernah meraih predikat sebagai dalang terbaik se-Indonesia pada 2005 lalu, mengukir rekor Muri sebagai dalang kreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak dan meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Missouri U.S.A Laguna College of Bussines & Art, Calamba, Philippines ini, tampil mendominasi jalannya pertunjukan.

Sayangnya, kerenyahan Enthus memang tak diimbangi oleh penampil lain. Cheng Ho, yang diperankan oleh artis kawakan Ray Sahetapy, tampil dengan dialog sangat normatif. Dikisahkan, Zheng He, atau lebih di kenal dengan sebutan Cheng Ho adalah seorang kasim atau laki-laki yang dikebiri. Ia lahir tahun 1371 di prefektur Kunyang, selatan Kunming, Yunnan Tengah dan mengawali karier sebagai pemimpin pasukan sida-sida. Pada awalnya Ma Ho, nama kecilnya, adalah tawanan pasukan Ming yang masuk menyerang Yunnan untuk menghabisi sisa-sisa laskar Dinasti Yuan-Mongol. Setelah mengabdi pada Dinasti Ming, Ma Ho mendapat tugas sebagai tentara pengiring Pangeran Zhu Di, kelak bergelar Yong Le. Beberapa tahun kemudian Ma Ho mendapat gelar Cheng sebagai balas jasa Kaisar ketika ia mengalahkan Wen. Ma Ho sendiri adalah anak ke-dua dari Ma Haji. Ia berasal dari Suku Hui dan ibu dari Marga Wen, sementara moyangnya merupakan keturunan bangsa Se Mu.

Pertunjukan sendiri kemudian mengisahkan keberatan hati seorang perempuan muda yang akan ditinggal Cheng Ho. Namun, pengabdian membuat Cheng Ho teguh memilih jalan yang ia tempuh. Hampir sepanjang hidupnya, Cheng Ho membaktikan diri pada penguasa Ming. Kebesaran Ming pada periode ini memang tak mungkin tanpa menyebut nama Cheng Ho. Sayangnya, seluruh latar belakang itu tak tergambarkan dengan apik dalam lakon ini meski pertunjukan ini diisi oleh pemain sekaliber Rieke Diah Pitaloka, Dorman Borisman, Fuad Idris dan Soeltan Saladin.

Seperti diketahui, Ming yang mengubah pendekatan militeristik Yuan dan menggantikannya dengan inisiatif diplomatik, akhirnya mencatat keberhasilan melalui ekspedisi pelayaran. Angkatan Laut Ming, disebut-sebut, bahkan lebih besar dari seluruh armada laut Eropa pada jaman yang sama. Dalam kurun waktu sebelas tahun pertama masa pemerintahan Yong Le, ia mengirim 9 misi pelayaran ke Campa, 8 ke Siam, 6 ke Malaka, 6 ke Pasai dan 10 ke Jawa. Ekspedisi ini memang menekankan terbentuknya jalinan kerjasama, sebagai jaminan tukar menukar upeti secara berkala dan perdagangan. Relasi Kekaisaran Cina dan Jawa—Majapahit dalam hal ini—terjalin dengan baik. Utusan Majapahit terhitung kerap datang sampai-sampai pada tahun 1443, dan sekali lagi diulangi tahun 1453, Kaisar Cina meminta misi dagang dikurangi menjadi satu kali per tiga tahun termasuk di dalamnya mengurangi jumlah awak kapal.

Ekspedisi sekaligus show force yang dibangun untuk mengembangkan pengaruh politik dan militer di Asia-Afrika mulai terasa sejak ekspedisi ke-4 (1413-1415). Rupa-rupanya Yong Le berhasrat menjadi ‘polisi Asia’ sekaligus ‘the son of heaven’ (Reid, 2004). Hasrat ini ditengarai lahir untuk menjawab perlawanan yang dibangun oleh gerilyawan Yuan di sepanjang wilayah kedaulatan Ming, sekaligus kanalisasi bagi berdirinya kerajaan otonom macam Campa, Siam, Cyelon, Thai juga Vietnam yang tak mau tunduk kepada Ming.

Cheng Ho sendiri, di tengah tugas yang diembannya, melakukan syiar selama perjalananannya. Bukti paling otentik dari Islamisasi itu menurut Qurtuby (2003: 43) dapat dilihat dari penempatan perwakilan dagang, konsul politik dan duta keliling Muslim Cina beserta gudang-gudang Cina di tiap daerah yang disinggahinya. Supremasi ekonomi & politik pada masa Ming nampaknya bertemu sudah dengan semangat misionaris Islam, yang cenderung lahir dari inisiatif pribadi Cheng Ho. Kita tentu bertanya, apakah motif ini salah satunya lahir karena keberadaannya sebagai minoritas yang tertindas? Bagaimanapun, meski Dinasti Ming tampak akomodatif dengan perkembangan Islam, namun sebenarnya mereka juga memberi aturan yang ketat pada Kaum Hui-hui. Mereka dilarang untuk menggunakan bahasa, pakaian maupun nama asli mereka. Selain itu mereka tidak boleh menikah dengan sesamanya, hal mana justru menguntungkan karena dengan demikian populasi mereka meningkat drastis (sebab barang siapa menikah dengan laki-laki maupun perempuan Hui akan menjadi Hui).

Lesbumi yang sejak awal berpretensi menampilkan wajah Islam yang santun, tampaknya terjebak pada pembangunan sosok Cheng Ho yang tanpa noda. Lagi, dan lagi, Cheng Ho ditampilkan sebagai ’juru selamat’ bagi ’tuan-nya’ sekaligus laki-laki satria yang sanggup menggemban tugas termasuk memegang teguh etika yang diyakininya, seperti pada adegan penangkapan Chen Zhuji dan keberadaannya sebagai mediator sekaligus inisiator resolusi konflik antara Majapahit & Blambangan (?) Sedikit sekali, kalau tak boleh disebut tak ada, gambaran bagaimana seorang Cheng Ho membangun nilai-nilai ke-Islam-an yang rahmatan lil’alamin di Bumi Nusantara ini.

Sisanya, selain dialog yang cenderung berdiri sendiri dalam tiap babaknya, pagelaran ini juga disesaki oleh jumlah penari yang terhitung besar untuk kapasitas Teater Kecil yang tak seberapa. Alhasil, gerak para penari menjadi demikian terbatas. Sementara, dalam beberapa adegan lain, disiplin tubuh tampaknya memang belum sepenuhnya terjaga. Minimal, hal ini terlihat pada adegan para prajurit yang jumlahnya cukup menyedot mata. Tata panggung dan lighting pun belum sepenuhnya tergarap. Hampir sepanjang pertunjukan, panggung berhawa datar. Pada background hanya tampak screen yang menampilkan permainan wayang Enthus, meski sisipan gelegar ombak yang menemani perjalanan Cheng Ho berusaha ditampilkan lebih atraktif. Tak ada kemewahan merah atau rona emas yang menggoda. Tak ada ornamen khas Tiongkok yang melambangkan kebesaran Dinasti Ming yang melegenda itu. Merah hanya sebentar menunjukkan diri pada kostum para penari yang lebih mirip penari Padang ketimbang penari Tiongkok. Beruntung, selain Enthus, para pemusik tampil memikat dan menyelamatkan seluruh jalannya pertunjukan. Gamelan yang terkadang berkelindan dengan cengkok Jawa Enthus dan alat musik khas Tiongkok macam yang qin, er hu, guzheng, gehu dan dizi, berhasil melahirkan sensasi tersendiri.

Teater Kecil, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta yang menjadi lokasi perhelaan, malam itu memang tampak berat menanggung kapasitas penonton. Entah bagaimana sistem ticketing yang diatur panitia tapi banyak penonton mengeluh tidak mendapat mendapat tempat duduk. “Harusnya jumlah ticket disesuaikan dengan jumlah tempat duduk”, begitu kata yang berulang kali terdengar sebelum pentas dimulai. Dan nyata, memang banyak penonton yang harus rela berdiri hingga pertunjukan berakhir dan ditutup dengan sambutan Ketua Umum PB NU, Bapak Said Aqil Siradj, yang lagi-lagi, menekankan pentingnya dakwah Islamiyah melalui jalan kultural.

Sebagai wacana yang menolak digunakannya jalan-jalan kekerasan untuk mencapai satu tujuan, tentu pementasan ini patut kita apresiasi. Tetapi sebagai sebuah pertunjukan yang memiliki kaidah-kaidah estetika tentu kita berharap jika Lesbumi sanggup menghasilkan kualitas pertunjukan yang sepadan dengan nama besar NU maupun inteletual Muslim yang mengawalnya. Semoga, pagelaran yang akan kembali dipentaskan pada 10-11 Februari di Graha Bhakti Budaya, TIM ini mampu menjawab keterbatasan yang ada. Dan semoga, saya tak perlu mendengar celetuk dari seorang kawan muda NU yang yang berkata, “ah, ini cuma bisnis, sekedar ambil pangsa pasar Imlek!” Nah, Selamat berkarya!

Penulis adalah penikmat seni (pertunjukan).

Referensi

Al Qurtuby, Sumanto. 2003. Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI. Yogyakarta: Inspeal Ahimsakarya Press.

Murata, Sachiko. 2003. Gemerlap Cahaya Sufi dari Cina (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Sufi.

Yuanzhi, Kong. 2005. Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (terjemahan). Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Reid, Anthony. 2004. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara: Sebuah Pemetaan (terjemahan). Jakarta:

LP3ES.

** Naskah ini juga diterbitkan di Indonesia Art News, Minggu 06 Februari 2011.