OBAT DARI LERENG MERAPI

Tawa anak-anak dalam Festival Senyum Merapi - Pic by Mel Damayanto

Purnama telah usai beberapa hari lalu. Alunan gendhing yang berasal dari radio tua di kamar Lik Kenty terselip diantara kerisik daun bambu. Keduanya seakan berlomba untuk memberi nuansa senyap bagi malam yang membuat gigil. Ya, malam ini, siapapun pasti memilih berangkat tidur lebih cepat dari biasanya. Tak ada yang tak mengeluh dengan hawa malam itu. Demikian pula dengan Rhea. Meski kerap mendaki gunung, perempuan asal Jakarta itu tak kuasa untuk menahan diri. Ia melapisi tubuhnya dengan empat kaos plus satu jaket tebal. Itu belum ditambah dengan kantung tidur dan beberapa helai selimut yang digunakan sebagai alas tidurnya.

Rhea tak sendiri. Bersamanya terdapat beberapa kawan yang sengaja datang ke Diwak, sebuah dusun di Lereng Merapi. Kehadiran mereka bukan yang pertama. Sebelumnya, Rhea dan kawan-kawan Kartika Persada sempat tinggal beberapa saat untuk membantu para penyintas yang tergabung di Lumbung Merapi. Mereka membawa ram pump tanpa solar yang diberikan untuk menjaga ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan MCK maupun lahan pertanian warga. Diwak dan dusun lain di daerah Sumber memang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III bagian sisih barat daya Merapi. Banyak lahan dan pengairan warga rusak selama masa erupsi. Jika tak segera diperbaiki, warga akan kesulitan untuk bercocok tanam dan akibatnya, rawan pangan menjadi hantu di depan mata.

Selama masa itu Rhea tinggal di Padepokan Prasetya Budya dan itulah, untuk kali pertamanya, Rhea mulai mengenal Komunitas Palguna. Kini, meski tanpa ram pump, Rhea dan kawan-kawan kembali datang untuk mendukung Festival Senyum Merapi, sebuah gelar budaya yang ditujukan bagi para penyintas Merapi. Festival ber-tag line ‘Mari, Berbagi Senyum!’ itu telah disiapkan sejak jauh hari sebelumnya. Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 24 juli 2011, memang dilaksanakan untuk memperingati hari anak. Selain ditujukan untuk memotivasi anak-anak di Lereng Merapi, acara juga dimaksudkan untuk mengembangkan semangat kemandirian warga yang tinggal di dalamnya.

Kegembiraan terpancar selama proses persiapan acara. Baik remaja maupun anak-anak bergotong royong. Bersama warga dan kawan-kawan yang datang dari berbagai daerah, Mas Tedjo, Mas Hendra, Mas Ting-ting memasang tratag atau tenda, Lik Kenty membersihkan saron dan menata gamelan, Mas Agus mempersiapkan keperluan sajen dan kawan-kawan lain seperti Mas Deta mengkondisikan para pengisi acara. Tak kalah ramai dengan situasi dapur yang dipenuhi ibu-ibu, Mas Un, Mas Doyok, Anjang dan adik-adik Sanggar Sapu Lidi pun bermain-main dengan kuas dan cat. Mereka sibuk membuat dekorasi dari styrofoam dan kertas berwarna. Gambar awan, wajah adik-adik dan wayang pun segera menghiasi pendapa.

Hari yang dinanti pun tiba. Sejak ayam berkokok, kawan-kawan Palguna dan warga sekitar telah bersiap. Rombongan terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kawan-kawan yang berasal dari berbagai dusun dan adik-adik yang berasal dari sekolah sekitar. Mereka berkumpul di pertigaan Balai Desa Sumber untuk menanti kehadiran kawan-kawan yang bergerak dari pelataran halaman Padepokan Prasetya Budya. Setelah kedua rombongan bertemu, Surip, salah seorang pemuda Desa Sumber, mengawali prosesi dengan mencabut gunungan kertas yang tertanam di tanah. Gunungan menjadi simbol diawalinya itikad warga Desa Sumber untuk saling bahu membahu dalam menciptakan kehidupan yang jauh lebih baik bagi kepentingan bersama. Di tengah situasi yang khusuk, gesekan biola tiba-tiba terdengar mengalun mendayu. Nada, gadis kecil yang duduk di kelas dua SD Kanisius Kalasan itu berdiri di tengah rombongan arak-arakan sambil membawakan lagu ‘Ibu Pertiwi’. Semilir angin pun membuat suasana menjadi demikian syahdu.

Beranjak dari lokasi tersebut, arak-arakan yang diiringi dengan Qiro’ dari Dusun Suruh, kesenian Grasak Dusun Dukuhan dan wajah-wajah ceria dari anak-anak serta warga sekitar, segera menuju lahan Pakdhe Mulyaredjo. Di sana, seluruh rombongan melakukan ritual wiwit panen sebagai hunjuk syukur atas anugerah yang telah diberikan Yang Kuasa. Karena, meski di tengah situasi yang kurang memungkinkan, toh mereka masih diberi kesempatan untuk panen. Lepas dari acara tersebut, ditemani tabuhan rebana dan shalawat warga Dusun Ngentak Tegal, arak-arakan bergerak menuju pendapa Padepokan Prasetya Budya, tempat berlangsungnya acara.

Dalang cilik Probo menerima kedatangan rombongan arak-arakan. Pendapa pun menjadi riuh oleh gelak tawa anak-anak. Setelah semua rombongan berkumpul, sambil menikmati jajan pasar, anak-anak dan para warga disuguhi oleh penampilan yang memikat dari Probo. Hari itu, Probo yang telah beberapa kali menjuarai festival dalang cilik baik di tingkat lokal maupun nasional, membawakan pakeliran padat dengan lakon Kangsa Lena. Suasana meriah itu dilanjutkan oleh penampilan PM Toh alias Bang Agus Nur Amal. Bang Agus yang baru saja kembali dari tour ke beberapa negara Eropa membuat anak-anak di sana tersenyum geli. Tak ada putusnya mereka tertawa ketika menyaksikan kisah penciptaan manusia yang dibawakan dengan jenaka oleh Bang Agus. Property khas Bang Agus berupa peralatan dapur macam gayung berwarna, ember plastik hitam, bola dan berbagai macam pernak-pernik lainnya benar-benar mengundang tawa. Suasana makin bergairah ketika Nicole, seniman asal Australia yang mengenakan seragam merah-putih SD, turut naik ke atas panggung. Nicole yang masih belum faseh berbahasa Indonesia menyanyikan lagu ‘bangun tidur kuterus mandi’ dengan nada terbata-bata. Aksi panggung ini tentu membuat anak-anak dan warga makin terpingkal-pingkal.

Bapak Prasetyadi Wibawa, selaku sesepuh Padepokan Prasetya Budya yang menjadi penggagas acara ini mengungkapkan jika idiom ‘Senyum Merapi’ berangkat dari sesuatu yang sangat kecil dan mungkin sangat sederhana. Katanya, “seutas senyum adalah wujud nyata dari ketulusan untuk menerima keadaan. Senyum juga merupakan medium sederhana namun syarat makna. Senyum mampu menjadi panglipur. Senyum sanggup mencairkan kebekuan dan ia dapat menjadi simpul silaturahmi. Selain doa, senyum adalah obat mujarab bagi hati kita! Dengan senyum kita dapat berbagi. Bahkan dengan senyum kita juga dapat mengawali segala aktivitas dengan hati yang lapang…”

Semakin siang, acara semakin ramai. Di bawah langit yang memancarkan sinar cerah, warga menyaksikan berbagai macam atraksi kesenian lapangan seperti Topeng Ireng dari SD Kanisius Sumber, Dayak Grasak Dusun Sumber, Macapatan Dusun Ngentak, Gelap Ngampar Mbangun Jiwa Dusun Gejiwan, Tari Gambyong Parianom, Angguk Rame Dusun Argo Tontro, Seni Campur Dusun Tutup Duwur, Wayang Bocah Dusun Tutup Ngisor, Reog Dusun Gumuk, Topeng Ireng & Kuda Lumping Dusun Diwak dan performance Bambu Wukir & Joel. Mas Bambang Erbata Kalingga, seorang sahabat yang datang dari Jakarta, hanya dapat menggelengkan kepala ketika menyaksikan semua itu. Ia berdecak kagum dan sambil tersenyum pias berkata, “betapa kaya Indonesia itu… Sayang, kita sering tidak sadar…”

Acara yang dipandu oleh Mbak Frasiska Firla, Mas Y. Untara dan Mbak Rachel Saraswati ini juga memberi permainan disela-sela acara. Bagi siapa yang berani tampil dan dapat menari, Mbak Rachel akan memberi hadiah. Beberapa anak, awalnya tampak ragu. Mereka terlihat malu-malu ketika harus berdiri dan menari di tengah halaman padepokan. Berkat ‘kenylenehan’ Mbak Rachel akhirnya anak-anak ini berani unjuk gigi. Mereka tertawa lepas dan tampil demikian merdeka. Untuk meramaikan suasana, puteri WS Rendra ini juga ‘menggaet’ para ibu-ibu. Mbak Rachel memberi PR untuk melafalkan kalimat ‘lor rel ono regol madep ngalor’ dengan tempo cepat. Hasilnya, suasana pun menjadi bertambah hangat dan Merapi yang petang itu tersibak keemasan pun seakan benar-benar turut tersenyum.

Kesenian dan kebudayaan memang menjadi simpul yang mengikat aktivitas warga di Lereng Merapi. Dengan penuh kesadaran mereka mencoba menerima sekaligus menelaah fenomena gunung berapi, tempat dimana mereka hidup selama ini. Bagi para warga erupsi adalah bagian siklus alam. Erupsi bukanlah bencana. Melainkan, sebuah fase ketika manusia diminta untuk kembali melakukan retrospeksi dan membangun sistem serta langkah-langkah yang jauh lebih baik ketimbang sebelumnya.

Jauh di masa sebelum ini, wilayah Sumber adalah wilayah yang kaya. Terbukti bahwa di wilayah ini banyak ditemukan candi. Diwak sendiri berasal dari jarwo dosok candi kawak atau candi besar. Berangkat dari tradisi lisan yang ada, candi-candi ini dipercaya berasal dari jaman Hindu dan berusia lebih tua dari Borobudur. Meski belum dibuktikan secara akademik atau ilmiah, tetapi sepenggal peninggalan ini telah menyatakan bahwasanya daerah-daerah di sekitar Sumber dan Muntilan-Magelang pada umumnya, merupakan bagian dari pusat peradaban dari wangsa-wangsa besar yang turut mengharu-biru perjalanan sejarah Nusantara. Kini, meski jaman telah bergulir, para warga berharap dapat menghidupkan kembali ruh dan semangat kejayaan itu. Mereka mulai merencanakan pertanian organik, membangun sistem pendidikan yang lebih tepat bagi anak-anak, menolak penambangan pasir dengan alat berat dan tak lupa, tetap nguri-nguri kabudayaan.

Malam hari, acara dilanjutkan dengan sarasehan yang mengangkat tema Ekologi Budaya. Hadir dalam kesempatan tersebut, Susilo-Den Baguse Ngarso, Sitras Anjilin dari Padepokan Tjipta Budaya, dan Agus Nur Amal sebagai pelaku kesenian asal Aceh. Warga demikian antusias terlebih ketika Calung Donald Duck Sanggar Sapu Lidi yang baru saja menelurkan album perdana mereka, Bocah Merapi Andum Esem Sumringah berkolaborasi bersama Andrew, seniman musik kontemporer asal Australia. Seluruh rangkaian acara hari itu ditutup dengan pementasan ketoprak PS. Bayu.

Mas Subandoko, selaku korlap acara ini, sangat bahagia. Ia tak menyangka jika para warga demikian antusias menyambut acara ini. Festival Senyum Merapi bukanlah sekedar pentas dalam artian unjuk gigi, tetapi Festival Senyum Merapi merupakan gelar budaya yang mengikat serta menyatukan masyarakat untuk mencapai cita-cita yang diharapkan. Ke depan, warga berharap jika acara ini dapat menjadi agenda tahunan.  Kegembiraan senada juga terdengar dari Rhea. Perempuan yang ‘buta’ dengan Jawa meski lahir dan besar di tanah ini, bersorak senang. Dengan bahasa Jawa yang sangat minim, kalau tak bisa disebut sangat-sangat kurang, ia berkata, “horeee, sesuk aku iso dolan mrene meneh…

Rhea memang lebih faseh berbahasa Inggris, tapi semangatnya untuk berbagi dan belajar bersama tidaklah dapat kita pandang sebelah mata. Inilah obat dari Merapi, “Mari, Berbagi Senyum!”

Cin Hapsari Tomoidjojo