Festival Dalang Remaja 2011 resmi dibuka. Ki Ardhi Purbo Antono hadir menyemarakkan acara dengan pakeliran padat bertajuk ‘Jabang Tetuko’. Ditemui selepas acara, dalang muda yang tengah melanjutkan pendidikan magister di ISI Yogyakarta ini mengatakan bahwa regenerasi dalang muda yang dilakukan oleh Pepadi dan Sena Wangi dapat dikategorikan berhasil.

Regenerasi dalang muda memang menjadi fokus atau isu sentral yang dimainkan PEPADI dan Sena Wangi. “Hal tersebut sesuai dengan visi dan misi PEPADI maupun Sena Wangi dan indikator bagi keberhasilan sebenarnya tampak dari tiga hal, yakni regenerasi dalang muda, hadirnya promotor dan sistem manajemen yang baik, serta regenerasi penonton. Dari ketiganya justru point terakhirlah yang patut mendapat perhatian. Sulit membayangkan bagaimana situasi duapuluh tahun mendatang jika regenerasi penonton wayang tidak dikelola dengan baik mulai dari hari ini.”

Belakangan waktu, pertunjukan wayang memang makin marak tetapi perkembangan ini bukan tanpa distorsi. Fenomena ini menarik perhatian dalang asal Malang ini. “Kita tak akan bisa menolak perkembangan yang ada,” ujarnya. “Justru hal tersebut patut mendapat apresiasi tetapi memang sayangnya, ada distorsi yang tak terelakkan,” jelasnya lebih lanjut. Ardhi mengatakan jika pertunjukan wayang kini kerap diselingi campur sari atau banyolan. Sayangnya, wayang kadang kehilangan greget ketika selingan itu tidak dihadirkan. “Rasanya kok kurang tepat ya…karna bagaimanapun ada banyak nilai di dalam wayang. Seharusnya wayang dapat menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang cerdas. Komersialisasi dapat menggerus banyak hal, termasuk esensi dalam wayang.”

Untuk menyiasati hal tersebut, Ardhi sependapat dengan pernyataan Ketua Pepadi Pusat, Bapak Ekotjipto, yang mengatakan jika dalang harus memiliki idealisme. “Kuncinya ada pada dalang. Dalang harus berani membuat batasan yang tegas ketika berhadapan dengan keadaan tersebut dan kita membutuhkan maestro. Sayangnya, hingga kini hal tersebut masih sulit tercapai.”

Ardhi menambahkan, biar bagaimanapun, fenomena hari ini dapat menjadi jalan pembuka bagi perkembangan wayang Indonesia kemuka. Komik wayang, cerpen wayang, film wayang atau apapun juga akan mempermudah transformasi. “Biarlah wayang dikenal dengan tampilan dan bahasa demikian. Kedepan, minimal anak-anak itu telah memiliki bekal untuk lebih mengenal wayang.”

Satu hal yang tak kalah penting bagi Ardhi adalah peran aktif PEPADI maupun Senawangi untuk mengawal dan mendampingi anak-anak maupun komunitas-komunitas pecinta wayang meskipun mereka tidak berasal dari lingkungan pedalangan. “Justru sinergi antar berbagai kelompok itulah yang kita butuhkan,” ucapnya sambil menutup obrolan.

Cin Hapsari Tomoidjojo untuk http://www.pepadi.com