metro-sunday review dari “Pertemuan Dua Hati”

Hari ini 19 April 2009, teman saya memacu motor lebih cepat. Langit mulai gelap dan yang pasti kami sudah terlambat ke Swargaloka. Untunglah hari ini hari Minggu dan tidak ada macet seperti biasa. Mengenai swargaloka itu, jangan cepat membayangkan yang tidak-tidak… Surga ini adalah bagian dari pentas drama wayang yang digelar oleh The Indonesian Opera – Yayasan Swargaloka bekerja sama dengan Sena Wangi di TMII, judulnya…ah, bahkan sampai memasuki tempat pertunjukan saya tidak ingat apa judul pentas kali ini. Saya hanya antusias datang karna mendapat undangan di Facebook. Satu-satunya bekal saya adalah jadwal alias waktu serta tempat, sementara sisanya—sinopsis, dll—saya abaikan. Sudah pasti jika di kepala saya wayang urban Nanang Hape atau Sandyakala Kurusetra Bambang Asmorolah yang menjadi referensi, tapi ternyata…

Memasuki ruang jelas saya langsung terhadang masalah karna datang tanpa undangan. Waduh, saya pikir undangan Facebook itu cukup tapi ternyata yaa… Berhasil melewati masalah itu saya langsung diantar Mas Prapto Panuju masuk ke gedung pertunjukan. Saya tidak tahu saya duduk di baris ke berapa kerna ruangan cukup gelap. Berhasil memperoleh tempat yang cukup nyaman saya mulai mengamati pertujukan. Komentar pertama yang saya dengar dari seorang kawan adalah…”aduh, tidak bawa kamera…bagus ni…lumayan buat masuk rubrik lifestyle.” Saya tak hirau karena harus segera merangkum jalannya pertunjukan untuk menjembatani keterlambatan tadi. Di panggung tampak Kunti tengah bersenandung untuk mengantar Karna anaknya, larung pada sebuah sungai. Dan sebelum masuk ruang saya coba melihat judul pentas, “Kunti: Pertemuan Dua Hati”.

Saya terkesima. Di latar belakang tampak aliran sungai yang dibuat dari plastik bergelombang mengalir dengan riap-riap kecil. Beberapa penari mengitari ibu para Pandawa, menarikan kemelut hati ibu yang harus merelakan kepergian anaknya. Cahaya dengan berbagai warna bergerak mengiringi langkah mereka. Balutan apik kostum para pemain tampak menonjol menghasilkan sebuah perpaduan indah. Lain itu, telinga saya benar-benar dimanjakan dengan musik garapan Dedek Wahyudi yang ’penuh gairah’. Nada-nada itu berhasil menggelitik ingatan sekaligus kerinduan saya pada sebuah pentas dan laku di sebuah dusun di kaki Merapi. Saya merasa duduk di tengah-tengah kitaran pohon dan orang-orang berkalung sarung dan kupluk penghangat kepala, meskipun tidak semua alat musik yang digunakan pada pertunjukan ini berasal dari Jawa. Sebuah Nusantara kecil berlompat-lompatan dari balik kepala saya…

Sambil bermain-main dengan imaji itu, tak lama muncul Gendari di atas pentas. Ibu 100 Kurawa ini tengah resah. Ia tak ingin tahta jatuh pada anak-anak Kunti. Destrastra yang cemas dengan obsesia Gendari hanya mengatakan kalau perempuan itu harus meniadakan iri hatinya. Tapi apa mau dikata, hasrat telah mengalahkan segala sesuatunya. Diri menjadi silau dengan keinginan-keinginan si sumber penderitaan.

Dalam pandangan sekilas saja saya segera tahu…pentas ini bukanlah pentas berbudget rendah. Semua ornamen, meski tidak selalu sempurna, selalu berusaha ditampilkan semaksimal mungkin. Tata panggung, lighting, kostum, terutama musik pengiring tentulah tidak dipersiapkan a la kadarnya. Semua didesain sedemikian rupa. Bagi saya pribadi ini adalah pertunjukan termewah yang saya saksikan setelah sekian waktu lamanya. Kilau ini membuat saya cepat memaklumi satu, dua hal kekurangan—teknis maupun non teknis—selama jalannya pertunjukan, yang secara keseluruhan dikomentari seorang kawan sebagai ’kegamangan pertemuan tradisi dan kontemporer’.

Di panggung cerita terus bergulir. Karna si anak yang hilang kemudian tumbuh bersama para Kurawa. Pada suatu kesempatan diceritakan pula bagaimana Durna yang menjadi guru bagi para Pandawa dan Kurawa menolak Karna. Penolakan itu membuka jalan bagi pertemuan Karna dengan Rama Bargawa alias Parasu di sebuah hutan, yang pada gilirannya membuat Karna menjadi murid pendeta gila itu. Parasu pulalah yang kemudian memberi tanda mengenai hubungan darah antara Kunti dan Karna. Pada adegan sebelumnya memang telah digambarkan keheranan Karna ketika Kunti justru membela dirinya ketika ia sempat berhadap-hadapan dan hampir saja bertarung dengan Arjuna. Tokoh Parasu yang dimainkan oleh Kodok (?) hadir dengan sangat eksentrik. Gaya bicara yang blak-blakan dan gestur yang cenderung seronok dalam arti seenaknya namun tetap berkepribadian benar-benar memikat hati pengunjung. Terutama ketika ia membawakan beberapa tembang Jawa ngoko, ingatan saya segera terlontar pada sountrack Before Sunset.

Perjalanan panjang yang ber-ending pada pertemuan Karna dan Arjuna di ladang Kurusetra digambarkan melalui penggal-penggal adegan beralur maju-mundur. Adegan dimulai ketika Duryudana menolak menyerahkan Indraprasta pada Pandawa setelah mereka menyelesaikan hukuman selama 13 tahun. Adapun pertemuan Kunti dan Karna sebelum pertarungan dua bersaudara nampaknya menjadi lakon puncak yang menggambarkan bagaimana hati kedua sosok manusia yang saling mencintai sebagai seorang ibu dan anak ini. Karna, dengan segenap kenyataan sejarah tak terbantah, pada gilirannya menolak permintaan Kunti, ibunda tercintanya, untuk berpihak pada para Pandawa yang sebenarnya adalah saudara-saudaranya. Karna teguh menyelesaikan dharmanya dengan memilih jalan peperangan walau pada cerita sebelumnya, menurut Nanang Hape sang penulis naskah, Puntadewa sebenarnya telah menawarkan tahta Amarta pada Karna apabila Karna mau bergabung dengan para Pandawa.

Dalam pentas kali ini, Irwan Riyadi sang sutradara rupanya ingin mengingatkan bagaimana keadaan anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Keadaan itu jika tidak disiasati akan menghasilkan luka yang berpengaruh pada faktor lain yang lebih luas sifatnya. Sementara Nanang Hape membawa pesan jika kemuliaan Karna yang tidak berpihak pada tawaran material dan tetap setia melaksanakan dharmanya adalah suatu hal yang tidak terjadi pada dunia politik hari ini. Nanang rupanya ingin menyoroti perkara koalisi partai yang hangat dibicarakan belakangan waktu ini; yang hanya sibuk mengusung kepentingan masing-masing dan segalanya bermuara pada tampuk kekuasaan.

Pertemuan dua hati kemudian lebur dalam sebuah pertarungan antar saudara. Di atas panggung Kunti undur untuk tafakur. Dari balik tirai-kelambu ia menerima takdir di hadap muka, menyaksikan kedua anaknya menunaikan dharma. Pertarungan Karna dan Arjuna ditampilkan dengan menawan. Pertarungan dengan segenap hormat dan cinta dihaturkan pada ibunda. Ronce melati dari kedua belah keris yang digunakan keduanya jatuh menebar aroma di segenap penjuru ruang hingga akhirnya Pasopati Arjuna menjemput takdir Karna. Laki-laki yang sepanjang hidup tak merasakan belai ibunda, akhirnya tergeletak dipangkuan Kunti untuk pertama sekaligus kali terakhir dalam hayatnya. Sementara sosok Kunti yang dibawakan oleh Dewi Sulastri hadir menginspirasi. Dengan serta merta ia menarik saya pada momentum Kartini dan Hari Bumi yang jatuh pada 21 dan 22 April ini. Saya tidak bicara mengenai ’emansipasi’ a la Kartini, tetapi mencoba menjenguknya sebagai Garba Hidup: relung yang dapat menanggung segala bentuk kehidupan yang datang padanya, setragis apapun ia – persis seperti Ibu (Bhumi) yang mengandung, membesarkan serta merawat anak-anaknya dan dengan ketabahan-keikhlasan luar biasa, rela berkorban untuk mereka.

Usai pertunjukan beberapa teman mengeluhkan hilangnya ‘sense’ ketika tuturan yang biasanya dibawakan dengan Jawa harus diwakili dengan bahasa Indonesia. Dialog dalam pentas ini memang dibawakan dengan bahasa Indonesia meski tidak seluruhnya karena pada beberapa kesempatan tembang-tembang Jawa tetap terdengar dilantunkan. Saya pribadi, yang tidak dibesarkan dengan kultur Jawa, sebenarnya merasa senang dengan kemudahan ini, lebih-lebih di samping panggung juga disediakan screen yang berisi sinopsis per-adegan yang dibuat dalam bahasa Indonesia dan Inggris (walau harus diakui, terkadang janggal juga menyaksikan layar berukuran lumayan besar lantaran ia berhasil mencuri sudut pandang mata).

Bahasa Indonesia yang sengaja digunakan untuk menggaet pangsa pasar usia muda ini sendiri memang menjadi cukup mengganggu ketika ia lepas dengan konteks lainnya. Apa yang saya maksud dengan konteks pada ruang ini adalah ketidakmenyatuannya dengan panggung sebagai sebuah keseluruhan. Intonasi, pilihan kata pada beberapa titik terdengar sangat kaku dan menghasilkan jarak yang nyata. Seperti ada yang lepas antara apa yang dituturkan, karakter tokoh maupun situasi panggung yang ada. Jika saja situasi ini berhasil dijembatani, saya membayangkan, bukan tak mungkin permasalahan ’sense’ yang dibicarakan teman tadi bisa segera teratasi. Tapi salah seorang panitia kemudian menjelaskan jika permasalahannya tidaklah sesederhana itu. Bukan hal yang mudah misalkan menyiapkan seorang yang biasanya hanya menari kini sekaligus harus melakukan dialog. Olah vokal menjadi senjata wajib yang harus dipersiapkan secara matang dan hal itu membutuhkan waktu yang tidak pendek. Persiapan pentas ini sendiri terkendala waktu. Irwan mengakui jika masing-masing unsur terutama tafsir terhadap pola adegan belum sempat tergarap dengan matang. Masalah ini masih harus ditambah dengan kenyataan mendatangkan para pemain yang sebagian besar berasal dari Solo. Irwan harus mencari pola gerak dan menyusun kebutuhan iringan di Solo.

Pentas kali ini juga bertepatan dengan 10 tahun Gedung Pewayangan Kautaman dan pertunjukan yang mengkolaborasikan unsur drama, tari, wayang dan teater sengaja disuguhkan kepada mereka yang berusia di bawah 30 tahun. Walau saya tidak melihat daftar hadir, tampaknya sosialisasi bagi generasi 90-an ini tidak berjalan sesuai yang direncanakan. Saya yakin, tidak sampai setengah dari total pengunjung yang memang berusia di bawah 23 tahun, atau bahkan jumlahnya bisa jauh lebih rendah dari pada itu. Sisanya, seorang teman wartawan mengatakan jika ikatan antar tiap elemen pada pertunjukan ini belum tergarap cukup apik. Ia berkomentar kecil, ”kalau mau kontemporer sekalian aja, jangan tanggung! Ini tadi terasa ada yang tertahan, nggak lepas! Sayangkan…”

Saya sendiri, seperti sudah saya ungkapkan di atas, mulai terbiasa dengan ’keadaan’ yang ada. Saya memilih jalan memaklumi kerna sejak beberapa tahun lalu—hingga hari ini—masih tetap menyaksikan permasalahan dan komentar yang sama di ruang-ruang pertunjukan macam ini. Ya, ini akan selalu menjadi catatan tersendiri bagi pertunjukan-pertunjukan tradisi yang dibalut dengan pendekatan metro atau urban lifestyle…tetapi kita tentu tak akan menghasilkan apa-apa juga bila tak ada upaya untuk terus melakukan uji coba. Jadi…terus berkreasi adalah satu-satunya jalan. Saya yakin akan selalu ada kesempatan selama sabar masih sanggup menandai dan menamai sebuah proses sebab bukankah tidak ada yang pernah benar-benar terlambat?!

Cin Hapsarin
catatan seorang penunjung