Puisi Banowati diadaptasi ke dalam teater mini kata. Di sini, gerak dan ekspresi dimaksimalkan.

Adakah cinta yang tak menyisakan tragedi? Ah, bukankah pada titik terhablurnya cinta tanpa tragedi bagai hidup tak bercerai dengan kematian; dan ia tak kan genap termaknai tanpanya…

Cinta tanpa tragedi yang pasti bukan cinta milik Banowati! Entah kenapa hidup menggariskan kematiannya sekejap setelah ia kembali bertemu dengan pujaan hatinya, sekaligus kehilangan suaminya. Dan, entah kenapa hidup juga menggariskan kematiannya di tangan Aswatama; salah satu lelaki yang mencintainya selain Arjuna; kekasih hatinya seumur hidup, dan Duryudana; lelaki yang dinikahinya. Banowati tewas dengan mulut tersobek-sobek.

Adaptasi
Di bawah cahaya temaram empat perempuan bergerak anggun di atas panggung. Lamat namun tegas, bibir mereka mengucap kata bak mantra, ”Bahkan Tuhan pun lupa: kenapa aku mencintaimu; aku lupa: ini cinta atau alpa, ini cinta atau apa.”

Raung Kuda Piatu yang dipentaskan oleh Teater Tetas, 13-14 Mei 2009 lalu merupakan adaptasi puisi Gunawan Maryanto yang berjudul Banowati. Bukan tanpa sebab jika Ags. Arya Dipayana (Ags) yang juga berlaku sebagai sutradara memilih lakon tersebut. Dalam pengantarnya Ags mengatakan, “Cinta membutuhkan ruang yang memadai, membutuhkan kesempatan untuk dinyatakan. Jika tidak, ia akan terlahir sebagai anarki.” Dan, Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki pun menjadi saksi dari ketakberdayaan anak manusia ketika berhadap-hadapan dengan cinta: sebuah cinta yang sangat, sebuah cinta di simpang jalan, sebuah cinta yang melahirkan debu dari api nan lembut namun berhati jumawa.

Aswatama putra Pandita Durna, guru para ksatria Hastina, memang berbeda. Ia dilahirkan oleh Wilutama, bidadari yang menjelma menjadi kuda. Namun justru hal itu yang membuatnya menarik. Tumbuh di lingkungan yang sama, Aswatama berkenalan dengan Banowati yang dikuntitnya dengan mata sejak ia remaja. Waktu berjalan. Bulan berganti. Ada yang tumbuh dan ada yang mati tetapi perasaan Aswatama tetaplah sama. Ia tetap mendamba dengan setia hingga ketika kabar pernikahan itu datang. Bak disambar petir, Aswatama mengetahui jika pada malam pernikahannya dengan Duryudana, Banowati justru memadu kasih dengan Arjuna, sang penengah Pandawa. Demikian pula dengan catatan yang pernah ditemukan Aswatama… Salah, jika Aswatama mengira catatan itu ditujukan bagi dirinya karena catatan itu hanya menyebut nama Arjuna seorang.

Puncaknya, Baratayudha membawa kabar, para Kurawa habis sudah. Di bawah panduan malam, Aswatama yang bergelar panglima perang Kurawa, dengan galau memimpin Krepa dan Kartamarma menuju perkemahan. Tak perlu menunggu lama, Aswatama segera membabi-buta. Ia memuntahkan segala kobar dan cinta yang menikamnya, ia menghabisi Drestayumena, Pancala, Banowati dan Srikandi hingga akhirnya Pasopati yang menjaga Parikesit menghabisi dirinya sendiri. Cinta tanpa rambu, ia berbelok kemana mau.

Kekuatan Sunyi
Pada pentas Teater Tetas malam itu sebagian besar gerak merupakan simbolisasi teks. Wiwiek HW, sang penata tari, berhasil membuat pentas nan sunyi ini menjadi sarat warna. Kesakralan kisah cinta nan tragis terasa sangat membekas. Sepanjang pertunjukan hanya terdengar pekik kecil Pandita Durna yang diperankan oleh Hari Prasetyo atau suara tawa para prajurit Hastina ketika menggoda Aswatama. Tak kalah dari itu, puisi Gunawan Maryanto pun dibawakan dengan syahdu oleh beberapa pemain wanita. Suasana pementasan menjadi demikian menggetarkan, pun bagi mereka yang tak memahami lakon wayang.

Tak hanya minim kata, desain panggung pun dibuat dengan demikian sederhana. Tak ada perangkat apapun di atas panggung kecuali sebuah tumpeng yang digeletakkan begitu saja di atas lantai serta beberapa anak tangga dan sebuah pintu di salah satu sudut ruang. Sisanya, hanya terlihat panggung berlatarbelakang ruang remang yang terkadang digunakan sebagai sekat peristiwa yang tersembunyi dibalik sebuah tirai halus dan tembus pandang. Jose Rizal Manua yang menggawangi team artistik berhasil membuat panggung menjadi demikian dramatik. Suasana makin menggigit berkat balutan gamelan yang dipadu dengan saxophone, piano dan biola yang diolah oleh Nanang Hape cs. Malam itu, sebuah mini kata justeru bicara lebih panjang dari pada sebuah kitab yang dibawakan dengan pengeras suara.

Pada akhirnya, pentas ini tetap meninggalkan jejak. Di luar panggung orang berkomentar bahwa pertunjukan ini adalah refleksi atas sekian peristiwa di negeri ini termasuk peristiwa Mei 98 dan kelelahan Ags atas kata: sebuah pentas protes atas semrawutnya silang kata. Kata tak bersarang. Makna menjauhi hakikatnya sabda, dan bagai dongeng murahan ia dijual pemimpin negeri ini dalam pesta demokrasi penuh cacat. Ags meneriakkan geliat Aswatama, “Tapi kau terlanjur menggodaku. Bau tubuhmu telah melekat di paru-paruku. Menjelma radang di malam-malam panjang…”

Siapa yang tahu apakah ini sekadar buah dari spontanitas estetika Ags ataukah di dalamnya larut doa karena keyakinan bakal terjadinya hal serupa di waktu-waktu mendatang? Siapa yang dapat menjawabnya jika bukan ruang dan waktu? Yang pasti Ags telah menguatkan sinyal kuning. “Berhati-hatilah,” katanya lirih dari atas panggung. Sebab, bukan kali ini saja mereka tertangkap tangan sedang merayah tumpeng.

Raung Kuda Piatu juga akan digelar untuk kedua kalinya pada  pekan British International School World Theatre di Raffles Stage, British International School, Tangerang, 6 Juni 2009. Pada pementasan ini Raung Kuda Piatu dialih-bahasakan menjadi Cries of A Motherless Horse. 

* Catatan
Berikut “Banowati”, Puisi Gunawan Maryanto

bahkan tuhan pun lupa:
kenapa aku mencintaimu

aku lupa:
ini cinta atau alpa
ini cinta atau apa

tapi kau telah menggodaku
semenjak kali pertama melintas
di ruang rias
melintas, sebenarnya mengeras

lalu tinggal lagu-lagu senja
mengekalkan pagi-pagi hastina

kita pernah melewatinya, bukan
hanya lupa; kapan

cinta, atau suka, berkembang
layaknya ilalang
membelukar hingga luar pagar
pagar rumahmu
lalu jalan kecil yang memanggil-manggil
kecil, seperti cinta, hanya pas buat berdua

ya, kita bukan tukang kebun
yang awas dengan warna daun-daun
tahu-tahu: sudah bertahun-tahun

perang besar telah lewat
menghancurkan rumahmu
-seluruh kesepianmu
-seluruh yang pernah kaumiliki
wajah dan suaramu segera menua
layaknya logam berkarat
memberat
-kau belum setua itu, kau tahu
kau hanya terlalu lama mencinta
orang yang tak kaucinta

aku ingin mengajakmu duduk di sebuah malam
bercakap banyak hal sambil menikmati angin
memain-mainkan rambut ikalmu yang tak tebal
tapi batok kepalamu tak berisi apa-apa
hanya prasangka
perasaan-perasaan berlebihan
bagaimana aku bisa membuatmu bahagia
aku bahkan tak bisa membuatmu ketawa
-satu-satunya yang mungkin kulakukan
-satu-satunya hal yang kuinginkan kaulakukan

aku benar-benar tak tahu
bagaimana harus mengakhiri ini
selain dengan meninggalkanmu
sendiri malam ini
tapi jelas aku tak bisa bertahan
dengan seluruh ledakan-ledakan
kemarahan dan keputusasaan
-aku tak ingin tubuhku kering dan berkeping-keping
setelah seluruh penyamaran dan pertempuran
yang melelahkan dan menghabiskan

seluruh tanya-jawab kita berhenti sebagai upaya
membangun hubungan yang banal dan mokal
tanya-jawab kita sekadar menunggu senja
dengan lintasan-lintasan burung yang tak pernah kekal

surem-surem dewangkara kingkin ooo suramnya matahari yang berduka
lir manuswa kang layon oooooo.ooooo seperti manusia mati
ilang sirna denya memanise oooooooo hilang sudah keindahannya
ooo ooooooooooooooooooooooooooooo ooo

tapi kau telanjur menggodaku
bau tubuhmu telah melekat di paru-paruku
menjelma radang di malam-malam panjang
bagaimana bisa aku meninggalkanmu
-dalam keadaan seperti itu
bagaimana aku bisa meninggalkanmu
-dalam kesedihan serupa itu
bahkan tuhan pun lupa:
kenapa aku mencintaimu

Jogjakarta, 2008

———

Cin Pratipa Hapsarin
Penikmat seni pertunjukan, tinggal di Jakarta.
Tulisan ini dimuat dalam Rubrik Panggung, Majalah Gong, Edisi 119/XI/2010