Kemarin malam, atau tepatnya sore pk. 14 lewat sekian, saya memutuskan untuk mandi. Seperti biasa, hal itu saya lakukan dengan setengah hati. Alasannya, bukan karena habit anti air saya. Melainkan, karena saya harus meninggalkan beberapa pekerjaan yang sebaiknya saya selesaikan saat itu juga, kalau saya tak mau menimbun hutang. Siang itu, saya juga harus meninggalkan Marthin, sahabat saya. Padahal, dia sudah menyempatkan diri untuk datang di tengah acara keluarga yang sedang berlangsung.

Waktu bergerak. Saya mandi secepat mungkin dan Marthin bertanya pendek, “mau ke gereja mana?”. “Entah”, jawab saya cepat. “Gerejanya orang rumah”, lanjut saya sama cepatnya dan hanya jawaban itu yang terlontar dari mulut saya. Terus terang, sudah sejak lama pergi ke gereja tidak menjadi agenda rutin saya dan saya pun tak ingat masuk ke dalam paroki mana wilayah saya ini. Kami berpisah begitu saja. Marthin membawa motor dengan wajah lelahnya. Saya kembali berdandan seadanya dan mulai berkeringat. Orang tua saya sudah jalan lebih dahulu karena kebetulan mama bertugas koor. Saya mendapat jatah bermotor dengan adik perempuan saya.

Seperti biasa, jalanan macet. Sesenggrukan dengan motor yang tak biasa saya bawa dan sempat berhenti untuk mengencangkan rantai yang kendur, akhirnya kami sampai di gereja yang sudah padat. Tak heran, karena pasti banyak orang yang macam saya. Datang hanya karena natal, atau datang hanya karena ini bagian dari merawat hubungan dengan keluarga. Nah, karena gereja penuh, natal kali ini kami sekeluarga tak bisa duduk bersama. Papa saya tak pernah suka menyiapkan jatah duduk bagi keluarga jika memang tak berangkat bersama. Tanggungjawab pribadi, begitu katanya, dan kasihan yang sudah datang lebih dulu, tambahnya kemudian. Saya pikir papa saja cukup bijak untuk hal ini dan syukurlah saya dan adik masih bisa mendapat tempat duduk meski posisinya di belakang, persis di sebelah ruang yang kelihatannya sudah lama tak digunakan. Ada air mengembang di lantai di dekat tempat duduk saya. Tempat itu bukan pilihan orang. Setengah jijik karena membayangkan jangan-jangan ruang sebelah itu adalah wc yang tak terpakai dan takut kalau-kalau aroma tak sedapnya dapat kami endus, untunglah hal itu hanya bayangan di kepala. Kekhawatiran akan kebocoran karena hujan pun tak terjadi. Kami mengikuti prosesi sampai selesai.

Selama misa, saya lebih banyak duduk. Tak mengikuti alur liturgi yang ada. Saya bahkan tak memperhatikan liturgi sabda dan kotbah setelahnya. Nada pastor pembawa misa masih saja sama seperti tahun lalu. Mendengar intonasi dan gaya bicaranya saja sudah membuat saya protes berat. Bagi saya, sang pastor muda selalu gagal menyampaikan pesan. Ntah, tapi saya duga dia tidak mendapat kelas komunikasi budaya atau publik sehingga tak tanggap terhadap medan yang ia hadapi. Pun sekedar menggunakan microphone, dia tak faseh. Pada misa tahun lalu, suara tak sedapnya meraung-raung kencang. Ia tak sadar jika dihadapannya ada sebuah alat yang dapat membantu massa dalam jumlah besar mendengar apa yang dikatakannya tanpa ia perlu berteriak. Ya, pastor muda ini tak pernah sedikit pun berhasil menarik minat saya untuk meresesapi sabda atau informasi lain yang ia sampaikan. Saya lebih suka memandang natal dari ramainya celoteh anak-anak yang hilir mudik selama misa.

Ya, duduk memunggungi tembok jelas berkah bagi saya. Orang tak akan terlalu mengawasi apa yang saya lakukan. Seperti kemarin, seorang anak perempuan dengan rok hitam megar menarik perhatian saya. Anak tersebut lalu-lalang sepanjang misa dan baru dipertengahan misa saya paham yang mana orang tuanya. Saya takjub. Mereka duduk persis di depan saya. Enam buah bangku berjajar mereka gunakan. Rupanya, ada tiga orang anak lain, selain anak perempuan dengan rok hitam megar itu dan usia mereka sepertinya tak terpaut jauh. Semua masih SD terkecuali si bungsu yang badung itu. Weuww, saya tak membayangkan bagaimana keseharian keluarga itu, terutama di tengah himpitan ekonomi yang macam inilah. Dari apa yang mereka kenakan atau cara komunikasi mereka, tampaknya mereka bukan berasal dari kalangan berada. Saya masih gumun, tapi ternyata keluarga itu bukanlah satu-satunya keluarga yang berhasil membuat saya geleng-geleng kepala. Masih ada sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang anak perempuan. Si sulung balita, sementara si adik batita dan si bungsu, sepertinya belum lagi genap satu tahun.

Ya, ampun. Saya garuk-garuk. Ketiga kakak beradik itu sepertinya akur-akur saja. Tidak terlihat nada kecemburuan diantara mereka. Satu sama lain saling menggoda dan tertawa. Menyenangkan, apalagi ditambah rupa mereka yang memang menawan. Pada beberapa kesempatan, saya bahkan melihat orang-orang harus menahan tawa karena menyaksikan kelakukan kakak-beradik itu. Jelas hal itu indah karena tak banyak kakak beradik dengan usia tak bertaut jauh bisa akur macam itu. Tapi masalahnya bukan itu. Si sulung yang aktif selalu menjadi perhatian adiknya. Adik kecil ini melulu mengikuti apa yang dilakukan sang kakak. Tentu ini tidak mengherankan, karena memang demikianlah fase yang harus dilalui. Masalahnya, pautan usia yang tak terlalu jauh itu bagi saya dapat membawa dampak yang bukan main. Si adik ini tanpa pikir panjang mencontoh apapun yang dilakukan si sulung dan pada beberapa kesempatan hal itu termasuk hal yang membahayakan seperti duduk di lingir bangku yang tak seberapa lebar dan tidur di bangku dengan tubuh lekat menghadap ke bawah. Saya cuma berpikir bagaimana kalau misal ada hal yang tak diinginkan seperti terjungkal atau terguling? Dan ketika mereka melakukan semua itu, tidak ada pengawasan dari orang tua. Sang ibu sibuk dengan bayi kecilnya sementara saya tidak melihat sang ayah duduk diantara mereka sepanjang misa berjalan. Sang ayah baru berada di tengah keluarga ketika upacara berkat penutup misa dilangsungkan. Hebat! Ibu dengan tiga orang anak perempuan yang semuanya berusia di bawah lima tahun!

Dua keluarga itu membuat saya bertanya-tanya, apa manfaat dari kursus perkawinan? Saya belum pernah mengikuti kursus itu dan rasanya memang tak berniat mengikuti tapi tidakkah mereka diajarkan untuk menjaga jarak antar kelahiran, membuat pola hubungan yang sehat antara suami-isteri dan bagaimana mendidik anak di sana? Dimanakah sekian ajaran; cinta, kasih dan pengharapan yang dijadikan tag-line Sang Putera Allah itu ditambatkan dalam hidup keseharian para ummatnya? Atau gereja terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal macam itu? Anak-anak tanpa pengawasan menjadi puncak natal kemarin. Anak perempuan dengan rok hitam megar sempat melempar buku panduan liturgi dan mengenai seorang ibu. Di lain kesempatan ia membakar bangku duduk yang terbuat dari kayu dan melempar lilin natal ke samping saya yang kebetulan memang kosong. Yang menyebalkan dari semua itu adalah, hal itu dilakukannya tanpa takut. Anak itu sempat memandang saya sebelum melempar lilin dan setelah kejadian itu, tak ada kata maaf yang terlontar dari si anak maupun kedua orang-tuanya. Dan tampaknya, si orang-tua pun tak merasa perlu memaksa anak bungsu mereka untuk meminta maaf. Kelewatan! Sungguh terlalu!

Anak-anak memang sepantasnya memiliki ruang bebas untuk berkreasi. Tetapi orang tua juga memiliki kewajiban untuk membimbing. Agar, minimal, suara lengking dari perempuan paruh baya yang saya dengar setelah misa tidak kembali terulang. “Ini anak bapak? Anak-anak bapak telah mencelakai ibu saya! Ibu saya itu orang tua! Dia sampai jatuh gara-gara ulah kedua anak bapak ini. Tolong ya, jaga anak bapak apalagi saat misa. Sedari tadi saya perhatikan anak bapak lari saja kesana-kemari!” Perempuan paruh baya itu tampak naik pitam. Dia bicara dengan nada tinggi. Dan anak-anak yang dia bicarakan adalah anak-anak lain, bukan dari keluarga yang saya singgung di atas. Boleh jadi, anak-anak tanpa pengawasan, bimbingan dan pendidikan yang layak adalah potret umum yang terjadi dimana tempat, dan tak terkecuali di dalam gereja ini.

Malam natal kemarin saya tak sempat berdoa apalagi bersalam-salaman dengan para sahabat, kecuali pada adik saya. Saya hanya mengamati anak-anak itu. Maka malam ini biarlah saya memasang lotere; “Tuhan, kalau kau bisa mendengar tolong berilah kesempatan kepada anak-anak ini agar dapat pendidikan dan hidup yang layak. Janganlah mereka menjadi anak-anak yang hanya dapat bermimpi, kalau Santa Klaus pasti datang untuk membawa kado-kado nan indah untuk hidup mereka tanpa mereka pernah berusaha. Demikian pula dengan orang tua dan bangsa ini. Amien.”

Saya menarik nafas dan melempar dadu, dan huuuuppp… Saya tidak tahu apakah saya harus tersenyum atau menangis.

Cin Hapsari Tomoidjojo
Untuk Natal-natal yang masih di depan mata