Belakangan waktu kemarin, hampir tiap orang kenal dengan deretan angka ini sekaligus sibuk meributkannya: 2012. Bukan suatu yang berlebihan mengingat wacana di balik deretan angka itu menyinggung tentang hari akhir manusia alias kiamat. Bangsa manusia yang cenderung menjaga jarak dengan ‘kematian’ pun, meski dapat dikatakan sebenarnya juga’ tidak benar-benar sangat mencintai kehidupan’, seakan terkesirap dengan deretan angka itu. Ulasan disekitar fenomena itu pun bermunculan. Mulai dari Kalender yang digunakan Bangsa Maya, yang dipercaya telah memprediksi kejadian tersebut ribuan tahun lalu, sampai Hollywood yang memproduksinya menjadi sebuah film dengan judul senada, dan setidaknya berhasil menarik keuntungan finansial dari isue tersebut, semua berlomba untuk menampilkan kajian yang komprehensif-selain menggelitik.

Imbasnya, sungguh di luar dugaan saya, beberapa kawan yang saya kenal mulai merombak cara hidup mereka. Hebat? Ah, saya pikir ini justru lucu karena kalau ada yang bertanya macam apakah perubahan yang terjadi pada mereka, saya hanya dapat berkata, sekarang ini mereka menjadi lebih rajin beribadah (pada saban Minggu-nya). Di luar bahwa hal itu patut diapresiasi sebagai sesuatu yang positif, saya justru melihatnya sebagai keberhasilan media memasang chip-set sekaligus kengerian bahwasanya, kita, manusia ternyata masih saja terbelenggu dalam kegagapan ketika berhadapan dengan otoritas besar di luar diri. Suatu yang patut disesali karena kehendak untuk ‘kembali memahami fitrah diri’ sebagai manusia itu lahir dari sistem punishment dan bukan dari kesadaran, kehendak bebas ataupun pertobatan misalkan. Sudah pasti jika pertobatan yang saya bicarakan di sini adalah sebuah dinamika untuk memahami Alam (sebagai representasi ke-Maha Kuasa-an) serta itikad untuk merubah sikap hidup agar menjadi selaras dengan Alam. Saya tidak menyederhanakan hal ini tetapi saya pikir ini sederhana dan bisa dimulai dengan membangun disiplin tubuh yang sesuai dengan konteks masing-masing dan di sisi lain, secara holistik, terikat dengan hukum alam itu sendiri.

Untuk memulai kesesuaian dengan hal itu saya kira kita butuh instrument dan instrument yang paling representatif adalah sejarah. Bagaimanapun sejarah adalah ‘kaca spion’ yang akan membantu menyelamatkan ‘visi’ hidup kita ke muka. Dan dengan sejarah itu pula kita berkesempatan untuk memahami bagaimana triad dialektika: eksternalitas, internalitas dan objektifitas, membangun kerangka Hidup kita sebagai seorang individu ataupun otoritas lain di luar diri. Pemahaman ini sangatlah penting mengingat darinya kita akan mampu menemukan ‘pola’ sebagai dasar acuan untuk melakukan re-konstruksi, dekonstruksi ataupun mencipta fusi horison baru (baca: re-kreasi), sebagaimana diungkap Ricoeur.

‘Pola’, sebagai sebuah dasar yang otentik, disebut Jakob Sumardjo sebagai elemen statis yang cenderung tetap dan tak berubah dan oleh karenanya bersifat sinkronik. Ia menjadi dasar bagi terbentuknya ‘struktur’ dan ‘wujud’. Soemardjo mengatakan jika wujud adalah “dunia tampak yang rentan perubahan dan selalu berubah dalam sebuah proses panjang. Perubahan wujud mempengaruhi perubahan struktur tetapi polanya tetap” dan oleh kerna itu wujud bersifat diakronik – plural.

Dalam perkembangan ilmu fisika, konsep pola berbanding lurus dengan apa yang dinamakan fraktal. Walaupun berusia sangat muda, mulai berkembang pada dekade 1980-an, tetapi konsep ini mencapai klimaksnya ketika ia menjadi demikian fungsional. Mengutip penjelasan Bandung Fe Institute, fraktal adalah sebuah bentuk yang tidak teratur, namun memiliki sifat kemiripan dengan diri sendiri. Sudah pasti jika konsep yang berangkat dari teori chaos ini berbeda dengan geometri yang pada gilirannya menjadi inspirasi dari berbagai disiplin ilmu lainnya, macam aljabar, aritmatika, logika, fisika, biologi kimia, astronomi, ekonomi, statistika, sosiologi, psikologi, seni, dan lain-lain, yang mengukur segala sesuatunya berdasar keteraturan yang sempurna. Pemahaman akan fraktal justru berangkat dari upaya mempertanyakan apakah pengetahuan dan kebenaran hakiki dapat dicapai semata-mata melalui kesempurnaan bentuk.

Berkait dengan hal tersebut, belum lama ini terbit “FISIKA BATIK”. Karya ini menjelaskan bagaimana pemahaman akan fraktal dapat digunakan untuk ‘membaca’ pola yang terdapat pada batik Indonesia. Dari sistem pembacaan tersebut lahirlah modifikasi batik yang beragam jumlahnya. Sudah pasti ini sebuah pencapaian yang membanggakan. Tradisi kawin dengan teknologi (langsung maupun tidak langsung kemudian juga dengan ekonomi) dalam arti yang sangat elegan! Lebih dari itu pencapaian ini bukan saja menjadi titik balik bagi pengembangan sektoral tetapi akan segera menjadi lintas sektoral apabila wacana tentang pola atau pendekatan fraktal ini segera disosialisasikan dan dijadikan mahzab. Saya pikir ini bukanlah tindakan yang berlebihan lantar paradigma usang berkenaan wujud dan struktur yang dibaca secara parsial dan positivistik sudah cukup membutakan kita.

Untuk mengupayakan hal tersebut kiranya kita patut menimbang tawaran Jakob Sumardjo untuk melakukan model pembacaan terbuka dimana kebudayaan sebagai penampang wacana haruslah diberlakukan dan dipahami sebagai teks (atau organisme) yang hidup. Berangkat dari pendapat Capra mengenai lapisan medan energi dan pandangan ‘struktur realitas yang hierarkis’ pada masyarakat dengan tradisi religiusitas, Sumardjo menyimpulkan bahwa realitas sebagai fenomena sosial yang beragam itu dapatlah dipandang sebagai suatu keutuhan. Atau jika mengutip Einstein, sesuatu yang berserak tetaplah memiliki pola, oleh karena itu,

“Yang plural itu akan mendapatkan sumber dan akar tunggalnya, yakni pola berpikirnya. Pola berpikirnya adalah pola kosmos, yakni totalitas holistik dari semua realitas yang ada. Totalitas holistik itu merupakan suatu kesatuan pengaturan diri. Pengaturan diri itu mempunyai sifat dasar tritunggal, yakni pola, struktur dan wujud” (Sumardjo, 2006: 19).

Sebagai negara bekas jajahan yang amat getol mengekor kemana modernitas dikejawantahkan, kita memang sering kali terjebak: memandang (wujud) tanpa kedalaman. Tetapi kekacauan cara padang ini (sebutlah demikian) tentu tidak terjadi serta merta. Sejarah panjang kita sebagai bangsa adalah sejarah ‘matinya ingatan’ yang gilirannya melahirkan ‘tubuh yang patuh’ (the docile body), sebagaimana diilustrasikan Foucault. Pada titik inilah kita ditantang untuk tidak lagi lupa menempatkan pemahaman akan ‘pola’ sebagai sebuah rujukan utama dari strategi kebudayaan. Dengan ingatan ini paling tidak kita akan mengerti bagaimana memaknai beribu 2012 yang hadir dalam Hidup!

Cin Hapsari Tomoidjojo