Masih kisah seputar Natal. Kebetulan moment itu mempertemukan saya dan beberapa kawan. Agar sedikit serius, kami menyebutnya forum silaturahmi. Singkat cerita, kami ngobrol ngalur-ngidul tentang banyak hal. Situasi bertambah ramai ketika adik saya dan pasangannya turut dalam obrolan. Tiba-tiba, percakapan kami sampai pada kisah seputar gereja. Awalnya, tanpa sengaja saya menanyakan kabar pasangan salah seorang kawan yang ada di sana. “Bagaimana, sudah dapat berapa banyak ummat?”, tanya saya dengan lugas. Pertanyaan saya dijawab dengan raut wajah kecut diiringi dengan senyum yang jelas dipaksakan, “maksudnya apa?”. Saya menjawab enteng, “loh, katanya sedang memilih lokasi syi’ar, berartikan harus memperhitungkan faktor seberapa ummat yang loyal kepada mbok wedhok-nya sampeyan to?” ujar saya tanpa berpikir apakah hal itu menyinggung perasaan atau tidak. Tanpa sadar, di kepala saya terbentuk konstruk jika kualitas hidup pendeta –sudah pasti dalam perhitungan sangat material dan pragmatis— selalu terkait dengan loyalitas ummat kepadanya. “Bajigur!”, ucapnya setelah mendengar penjelasan guyon a la saya. “Bukannya itu kenyataan?” tukas saya membela diri sambil mengingat-ingat beberapa pengalaman senada yang seakan-akan membenarkan asumsi saya. Seorang kawan juga ikut meledek, “pinter juga cari bojo…tapi dari pada punya bojo pendeta mending dulu sekalian milih sekolah teologi aja ya…soalnya jaminan hidupnya lebih panjang daripada jadi PNS!” Kami pun tergelak bersama.

Di luar kebenaran dan ketersinggungan yang mungkin terjadi, tiba-tiba kawan saya yang asal Bantul itu bercerita tentang pengalamannya semasa sekolah. Dia ingat jika pada masa-masa tertentu dalam hidupnya, mengepalkan tangan ke atas diiringi teriakan ‘in nomine Jesu’ atau ‘ad majorem dei gloriam’ adalah sebuah kebanggaan tak terkira baginya. “Guru agama di sekolah saya dulu selalu menyarankan kami untuk mengunjungi kawannya dan ada beberapa anak yang selalu rutin main ke sana, termasuk saya. Kami diajarkan banyak hal, termasuk ayat-ayat yang membuat kami sangat yakin jika jalan yang kami tempuh ini adalah jalan keselamatan. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Bahkan kami juga dipersiapkan untuk menjadi Tentara Allah dalam arti sebenar-benarnya” jelas kawan saya panjang lebar. “Sebenar-benarnya?” “Iya! Karna kami dipersiapkan untuk bertempur secara langsung dengan orang-orang yang menghalangi kami. Rencana bai’at itu memerlukan beberapa tahapan tapi syukurlah waktu itu rencana gagal!” “Apa sebab?” tanya adik saya dengan roman penasaran. “Hehehe, orang yang ngajarin itu mendadak mati!” Jawaban itu mengundang tawa dan adik saya dengan konyol berseloroh ringan, “jebul disersi templar to… Wah, bejo kowe, mas. Nek ra pasti wes mlebu tv saiki…”

Kisah di balik tembok gereja ternyata bukan milik sahabat saya seorang. Kekasih adik saya juga dengan antusias menceritakan pengalamannya. Persis sama, ketika setingkat SMU, dia sempat bergabung dengan persekutuan karismatik. Seperti lazimnya anak muda yang bersemangat, apa yang diimaninya itu menjadi panduan hidupnya. Berdoa tak kenal lelah, tak kenal wayah, aktif dengan berbagai kegiatan gereja, dll. Tidak ada yang mengerikan dari aktivitas itu tapi dia sempat bercerita jika pada masa-masa itu dia sangat takut memegang kartu remi hanya karena ada beberapa gambar di sana yang diyakininya melambangkan kegelapan bagi dunia dan merupakan wakil Gereja Setan di dunia. Dia juga diajarkan untuk tidak membuka ruang dengan segala sesuatu yang menyangkut adat. Kembang, dupa, makam, caosan adalah hal terlarang yang baginya. Musrik, begitulah kira-kira anggapan yang melekat di kepala calon adik ipar saya.

Perasaannya sendiri menjadi sangat kalut ketika sampai suatu ketika dia harus bersinggungan dengan komunitas budaya yang dikenalkan adik saya. Ia melakukan penolakan keras dan hampir berujung pada keretakan hubungannya dengan adik saya. Syukurlah, perlahan demi perlahan dia bisa melakukan pembacaan ulang atas segala sesuatunya yakni ketika ia mengambil jarak sekaligus mengasup banyak pengalaman. “Sebenernya aku kasihan sama temen-temen yang ikut. Kalau nggak dapet pengetahuan dan pengalaman lebih pasti jadinya fanatik gak jelas. Harusnya ada yang kasih tau mereka tapi aku bingung gimana caranya, apalagi ada beberapa temen yang katanya sekarang udah ikut Gereja Setan. Biasanya yang ikut Gereja Setan itu orang-orang yang sempet hidup susah terus ditolong. Tapi ternyata ada udang di balik batu. Setelah mereka masuk, mereka memang dapet barcode yang bikin mereka bisa ngambil barang apa aja di supermarket asal merk-nya sesuai dengan kelompok mereka. Tapi setelah itu mereka harus cari massa dan gak bisa lepas dari jaringan itu karena terus dikuntit sepanjang hidup. Dulu aku banyak dapat cerita begini dari pengalaman salah seorang Hamba Allah yang dimintai tolong, tapi dia juga gak berhasil nolong karena jaringan itu emang serem. Kemarin-kemarin aku sempet ketemu temenku itu di fb tapi terus tak remove karena aku takut banget.” Kata-kata ‘Hamba Allah’ membuat kami terkekeh dan boleh percaya, boleh tidak, tapi itulah kesaksiannya malam itu.

Hal yang menarik bagi saya justru keputusannya untuk keluar dari persekutuan itu. Masalahnya sepele, dia sempat bertandang ke rumah salah seorang ‘seniornya’ di persekutuan. Di rumah itu dia menyaksikan bagaimana perilaku sang senior kepada mbahnya. “Aku nggak suka sama orang yang nggak sopan sama orang tuanya sendiri, apalagi mbahnya itu sudah sepuh. Waktu itu aku bentak dia, aku bilang, kamu ngajak-ngajak orang ke gereja tapi sama mbahmu sendiri kurang ajar!” Sejak itu mulai luluhlah hati calon adik ipar saya karena kenyataan yang dihadapinya tak seindah ‘sabda’ yang kerap dilantunkan.

Soal adat, mengutip kata-kata pendetanya, seorang teman saya yang orang Batak pernah bercerita kalau agama dan adat adalah dua dari tiga hal yang identik dengan orang Batak, sementara yang ketiga adalah…kisruh! Boleh jadi hal itu sekedar guyon, tapi bagi saya dan kawan saya, guyon itu adalah guyon yang perlu dikritisi. Dia tertarik membicarakan hubungan agama dan masyarakat lokal, terutama bagaimana persilangan diantaranya dapat melahirkan sebuah optimisme baru dalam hidup. Lebih-lebih di Indonesia yang punya keragaman luar biasa ini. Di luar panjang lebar penjelasannya yang bagi saya sangat wellcome terhadap kedudukan agama, saya pribadi malah berpikir terbalik. Yang timbul di benak saya justru kecurigaan akut! Kalijaga dapat kita pandang sebagai salah satu wali yang berhaluan moderat hingga akhirnya mampu mempertemukan Islam dengan Jawa, khususnya melalui syiar yang dibungkus dengan wayang maupun bentuk kesenian lainnya. Di satu sisi, tentu hal itu menyenangkan karena kita mungkin tak akan dapat bisa membayangkan bagaimana wajah Islam tanpa Kalijaga. Tetapi dari sudut lain kita juga harus mengingat bahwa ‘penghijauan’ yang dilakukan Islam telah mengubur hidup-hidup pusaka, pusara, pustaka yang berasal dari periode sebelum kehadiran mereka. Dan jauh sebelum saya terhipnotis cerita Perkins dalam Confessions of an Economic Hitman, saya kadung kuciwa dengan cara kerja para misionaris.

Beberapa tahun lalu, ketika saya dan beberapa kawan-kawan membuat dokumenter mengenai Ganjuran, terlihat dengan jelas bagaimana kekuasaan menggunakan pengetahuan lokal untuk mendukung kerja-kerja mereka. Selain memberikan gamelan bagi para pegawainya dan memilih kawasan yang secara ‘genograph’ memiliki kedekatan dengan trah Mataram di bawah kekuasaan Senopati dan Agung, Joseph Schmutzer, salah satu pemilik pabrik tebu sekaligus pendiri Gereja Candi Hati Kudus Jesus, Ganjuran adalah Mentri Daerah Jajahan yang direkomendasikan oleh van Mook. Meski tidak menjabat lama, tetap terlihat bagaimana perkawinan agama dan kekuasaan saling mengukuhkan. Selain itu, jauh pada masa sebelumnya, paska hancurnya kekuatan Diponogoro dalam Perang Jawa 1825-1830, Javanologi dibuat pemerintah kolonial lagi-lagi dengan maksud mengkanalkan kekuatan rakyat. Rakyat dininak-bobokkan dengan aktivitas seni budaya dan agama turut bermain-main di tengahnya. Saya tidak paham, apakah persenyawaan macam ini (baca: agama dan kekuasaan) yang kemudian membuat pengetahuan lokal macam Marapu, Parmalim, Kaharingan, Kejawen, dll menjadi bersifat laten, di luar kemungkinan bahwa mereka sendiri memiliki aturan mengenai model transformasi nilai yang bersifat sangat terbatas kepada penerusnya. Mereka terpaksa mindik-mindik untuk tidak terserap kekuatan dominan yang tengah merajai haluan.

Saya tidak menolak persenyawaan agama dan budaya jika memang dilandasi oleh semangat yang sehat dan itikad yang benar. Tetapi hari ini, di tengah kompleks historis, seperti yang diungkapkan alm. Sartono Kartodirdjo, tentu kita harus cermat dalam membaca sekian peristiwa. Agama tentu akan sangat mengerikan jika mewajibkan kita untuk menjadi Tentara Allah. Boleh jadi mereka yang tertarik menjadi Tentara Allah membayangkan diri jika mereka telah menjadi seteru si Empunya Jagad. Dan mungkin ini juga yang membuat orang rela berbondong-bondong menempelkan plakat di jidat maupun sekian atribut lain untuk sekedar menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari ummat yang sholeh sekaligus keluarga inti dari Yang Kudus. Kebanggaan ini jelas absurd! Sama absurdnya ketika pada jaman sekolah dulu seorang kawan saya bernyanyi dengan nada tinggi, “dalam Jesus kita bersaudara…” sementara tangan kanannya merogoh clurit dari dalam tas. Di tengah jerit ketakutan penumpang bus, samar-samar saya mendengar raungan “Allahu Akbar” bergema disertai dengan lemparan batu ke arah bus. Tiga tahun di sekolah dengan label ‘Israel’ saya mengisi hari-hari dengan kejadian macam itu. Saya tidak tahu, apakah motif kemiskinan (di segala tataran) yang melahirkan ketertindasan yang melatarbelakangi kebanggaan untuk berjihad atas nama Tuhan ataukah sebuah surga yang dijanjikan bagi mereka yang mau melakukan penebusan dosa dan berikrar di jalan Allah. Tapi saya yakin kalau kawan-kawan saya pasti belum mendengar komentar Gus Dur jika Tuhan Tidak Perlu Dibela!

Di tataran pribadi, Iman-kepercayaan boleh jadi tidak dapat diganggu gugat. Tetapi ketika hal itu sudah memasuki area publik, kita perlu kejelasan cara bermain. Bahwa yang utama dan nyata, dasar negara kita adalah Pancasila dan maqom kita sebagai manusia adalah memanusia(wi)kan manusia.

Salam.
Cin Hapsarin