Lewat karya dan tawamu, kini semua orang tengah mereka-reka perjalananmu dan tiap keping kenangan yang perlahan tersusun makin menegaskan bagaimana bentuk wajahmu; perjuanganmu; tangis dan cinta dalam jalan sejarahmu; mozaik hidupmu; pencapaianmu…

Seorang sahabat saya resah. Ia berkata jika sudah lama ia tidak menghasilkan sebuah karya; tulisan. Dalam perbincangan lewat telepon itu kami tertawa bersama, sebab keluh kesah ini bukanlah keluh kesah pertama. Kami sudah melewati beribu-ribu malam dengan keresahan yang sama. Apakah pentingnya menulis? Apa yang bisa ia berikan? Apakah menulis adalah jawaban diantara sekian kepenatan dan pergulatan hidup yang dialami manusia? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi yang pasti setiap hati pastilah memiliki jawaban yang berbeda dan jumlah ini tentu sebanding dengan banyaknya pandangan dari wilayah teoritis yang berusaha mengupas hal tersebut.

Soal tulis menulis ini, sudah lama saya ketahui jika seorang kawan saya yang lain, sempat mengutip kata-kata Pram dan melekatkan dalam blognya. Katanya, “tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? karena kau menulis. suaramu takkan padam ditelan angin, akan jauh, sampai jauh, jauh di kemudian hari ….” —pramoedya ananta toer. Dan setiap kali saya membaca rangkaian kalimat itu, saya selalu tertegun. Dalam kepala saya, kalimat itu seperti sengaja dituliskan Pram untuk kawan saya tersebut. Benar-benar sebuah pesan personal yang menggambarkan bagaimana bentuk kedekatan dan iman mereka, dalam perkara tulis-menulis itu. Sekali lagi, itulah yang terpampang dalam rekam benak saya.

Saya mafhum, kawan saya itu memang demikian mencintai dunia tulis-menulis. Jika orang lain butuh makan dan bernafas, mungkin kawan saya telah menggantikan kedua konsep itu dengan menulis. Ya, ia menulis apa saja dan seperti dapat diduga, kemampuan jari jemari dan struktur dalam kepalanya beradu cepat dengan angin. Tentu bukan soal kecepatan itu yang membuat saya terkesima, tapi lebih pada dedikasinya, bentuk perjuangan yang ia pilih-tuangkan lewat tulisan dan beberapa buku yang telah menjadi bukti kuat upayanya.

Apa yang istimewa dari hal itu? Bukankan tak hanya satu dua orang saja yang menulis, bahkan telah menghasilkan ratusan karya dalam berbagai bentuk selama rentang hidupnya jika hanya dibandingkan beberapa buku milik kawan saya itu? Benar, mungkin. Saya pikir, saya tak sedang membandingkan proses hidup satu dengan lainnya. Saya juga tak sedang menjadi hakim bagi nilai sebuah karya. Saya hanya ingin mengungkapkan bagaimana sebuah pilihan yang diyakini dan dipertanggungjawabkan dapat menjadi cermin bagi kita. Bagi saya, itulah yang membedakan seorang penulis dengan penulis lainnya. Seorang penulis yang baik adalah seorang creator sekaligus author. Ia memiliki tujuan lebih dari sekedar menghasilkan sejumlah karya dalam perhitungan kuantitas. Penulis yang creator dan author melibatkan diri dalam pergumulan yang hidup, yang sejalan dengan konteks sosio-historisnya, dengan berbagai bentuk perwujudan. Ia adalah yang berjarak sekaligus sangat dekat dan hidup dalam gerbang kemenduaan yang melahirkan benturan-benturan panjang dalam hidupnya. Dan sebagai creator sekaligus author, ia juga memiliki kesanggupan untuk menggarisbawahi tujuan dan cita-cita yang diperjuangkannya. Otoritas dan totalitas pertanggungjawaban dalam dunia yang hidup inilah yang menempatkan ia dan karya yang dihasilkannya tak larut dalam euforia pasar (penerbitan). Setidaknya, pasar bukanlah hal yang mutlak menggerakkan proses penciptaan itu.

Keluar dari nilai sebuah karya, proses pencapaian seseorang memang sebanding dengan kata “pencapaian” itu; sebuah capai yang lelah, sebuah capai yang diperjuangkan, sebuah capai yang tiba di titik tujunya. Femi Adi Soempeno saya kira ada titik itu. Meski saya tidak memiliki kedekatan yang lebih dari cukup, tetapi sebuah persinggungan kecil pada kurun waktu tertentu membuat saya berani mengungkapkan hal tersebut. Dedikasi Femi dan sejarah panjang hidupnya, termasuk keramahan yang terpancar dari jiwanya yang berbalut dengan kisah tragis Sukhoi Super Jet 100, tentu tak dapat diabaikan. Bagi saya, ia adalah salah satu musafir yang telah mempersiapkan jalan (kematian)nya dengan sepenuh hati; pen’capai’an penulis.

hidup-mati
sebatas tali senyum
diantara rimbun pekat
dan gelap menyengat.
para musafir kata ialah ia
yang menutur hidup-mati
tuk lahirkan cercah cahya
dan ruh yang bicara
bukan sekedar
baginya.

[] Cin Hapsari Tomoidjojo
* Atribute to Femi Adi Soempeno dan (pencapaian) penulis lain