surat untuk para Adityas di tiap Gua Garba

Tidak seperti April-april lainnya dimana kami ikut sibuk bicara tentang Perempuan atau Al-Masih Agung, tahun ini kami sibuk dengan kabar hadirmu, setelah kisah mengenai kakakmu yang sangat singkat beberapa waktu lalu.

Adityas yang kusebut Shri Lanang, menjadi ibu sudah pasti sesuatu yang sangat sulit untuk kubayangkan. Memang mudah untuk mengiranya di dalam pikiran, tetapi seperti kata orang, you know the story but not the pain. Ya, kau selalu merasa mengerti jalan ceritanya, tapi aku yakinkan, kau tak akan pernah benar-benar dapat mengerti bagaimana sakitnya, rasanya. Di sini, pengalaman telah melumpuhkan kata yang bahasa.

Adityas yang kusebut Shri Lanang, sulit bagiku untuk mengira-ira apa yang sebenarnya terjadi denganmu atau apa yang tengah terjadi dalam gua garba itu. Orang sering berpikir jika gua garba itu adalah tempat yang gelap tanpa cahaya dan lembab. Jika begitu, kubayangkan kau pasti sedang asyik memejamkan mata dengan tenang; seperti Budha. Tak merasa malang meski akan berjumpa dengan masa depan, tak merasa takut ketika dihadapkan dengan masa lalu dan tak harus merasa murung untuk menjalani hari ini.

Tapi aku juga pernah bermimpi tentang gua garba yang berbeda. Gua garba yang kutemui berwarna terang. Saat itu ingatanku justeru terlontar pada Warhol dan Basquiat, atau sesekali pada Picasso. Semua sudut yang ada di dalam gua garba itu demikian ranum dan ceria, seakan itulah surga dunia yang sanggup menampung gegapgempitanya sukacita. Aku bertemu dengan keserbakemungkinan di sana. Aku tahu, siapapun yang tinggal dalam dunia itu akan selalu merasa dikelilingi harap dan siapapun yang tinggal di sana akan merasakan nyanyian kemerdekaan yang tiada duanya. Kuduga, kau pun pasti senang di sana. Kau akan sibuk menyusun puzzle-puzzle aneka warna dan aneka rupa untuk melengkapi indera dan organ-organ tubuhmu. Kau akan membongkar pasang karma dan dharma sambil menyanyikan nada-nada asing yang tak dikenal dunia.

Adityas yang kusebut Shri Lanang, sungguh, aku tak tahu bagaimana engkau dapat tercipta, bergerak dan kelak merasa. Aku juga tak tahu bagaimanakah sesungguhnya gua garba itu meski aku sendiri pernah tinggal di dalamnya. Yang aku tahu kini bagaimana sebuah rahsa tengah berupaya untuk menjaga dan membesarkanmu sampai kelak waktunya untuk melepaskanmu…

Adityas yang kusebut Shri Lanang, dan sungguh pun padaku melekat ilmu, aku juga tak tahu dunia macam apakah yang dapat kubangun dan kuberikan padamu. Aku bahkan tak paham dunia macam apakah yang kelak akan kau hadapi dan kau jalani. Meski begitu, aku tahu satu hal, dan kuyakin kau pun pasti pernah mendengar senandung  Phil Phillips ini, “Just know you’re not alone; Cause I’m going to make this place your home.”

Wellcome home, Shri Lanang…
dariku, (bukan) perempuan dengan rahim

Cin Hapsari Tomoidjojo