Seperti lazimnya orang Indonesia, membicarakan sebuah peristiwa ataupun sesosok manusia alias ngrasani adalah hobi bersama. Hal ini tak mungkin dipungkiri mengingat kita memang dibesarkan dalam tradisi tutur yang kuat ketimbang tradisi tulis menulis. 

Meskipun terdengar seperti alih-alih, ada seorang kawan saya, Dul Somad, yang sempat menulis perkara ngrasani ini dalam status facebooknya dan sepenuhnya saya sepakati. Tulisan berjudul ‘Harmoni Kontradiksi’ itu berbunyi begini,

“Dalam tradisi jawa ngrasani atau menggosip merupakan upaya untuk menjaga harmoni dalam masyarakat. Biasanya ngrasani berisi pembicaraan tentang seseorang yang nyleneh dan tidak sesuai dengan norma masyarakat, sehingga seseorang tersebut menjadi isin atau malu. Sayangnya, tradisi menjaga harmoni tersebut membuat kecenderungan orang menjadi munafik dan bermuka dua. Sekarang, jaman sudah berubah, orang sudah mulai kehilangan rasa isin atau malu tetapi belum kehilangan kebiasaan ngrasani, sehingga kebiasaan ngrasani sudah kurang begitu efektif untuk memperbaiki keadaan, tetapi masih cukup efektif untuk menjaga ketentraman bathin masyarakat.

Pada titik tertentu, ketika ngrasani sudah tidak mampu lagi menjadi harmoni masyarakat, biasanya akan terjadi ontran-ontran atau huru-hara. Karena orang yang dirasani sudah tidak punya rasa isin atau malu sehingga mau merubah perilaku yang tidak sesuai norma masyarakat tersebut. Ontran-ontran atau huru-hara akan selalu memakan korban sehingga perlu sebisa mungkin dihindari.

Tradisi ngrasani atau menggosip mungkin perlu dimodifikasi agar bisa lebih efektif untuk bisa merubah keadaan sekarang yang masih kurang baik. Mungkin bisa dilakukan misalnya dengan membuat forum gosip nasional anti korupsi, paguyuban gosip nusantara anti poligami dan lain-lain. Mungkin kita bisa membuat perubahan justru dengan kontradiksi.”

Saya kira teman-teman juga pasti sarujuk dengan Dul Somad. Bahkan dengan atau tanpa facebook ataupun media sosial lain, tradisi ini tak kan lekang oleh jaman. Orang Indonesia selamanya akan sangat menikmati ngrasani liyan. Tak peduli yang dirasaninya dikenal secara langsung atau tidak, berhubungan dengan dirinya atau tidak dan tak peduli ini jam minum teh atau bukan, yang pasti perilaku ini selalu menjadi hobi bersama. Bagi para pekerja yang jatuh bangun lebih dari delapan jam sehari pun, tradisi ini rasanya tak boleh alpa barang sekejab. Tidak percaya? Coba tanya, pekerja mana yang tidak mengikuti gossip hari ini.

Pada dasarnya, orang Indonesia memang menyukai cerita. Jaman dahulu sebagian cerita-cerita itu menjadi kanon sastra seperti yang kita kenal saat ini. Separuhnya lagi terukir indah dalam ribuan atau bahkan jutaan batu candi yang tersusun sangat apik. Sisanya, cerita menyebar lewat berbagai bentuk pertunjukan maupun tradisi lisan dimana tarian, permainan anak, pantun, masakan, rajah, dll termaktub di dalamnya. Seluruh cerita itu akhirnya memang menjadi warisan kita, tapi sayangnya Indonesia hari ini bukanlah Nusantara yang diduga gilang-gemilang itu. Hari ini kita adalah bangsa yang jumud; jumud dengan masa lalu, jumud dengan hari ini dan akhirnya jumud dengan masa depan.

Kembali pada ngrasani di hari ini, tiba-tiba saja, meski tak saya undang, prasangka datang menghinggapi saya… Ah, jangan-jangan tradisi ini justeru tumbuh subur lantaran kepenatan kita ketika berhadapan dengan situasi kerja yang terus menerus dan tak pernah berpihak kepada kita sebagai pekerja. Jangan-jangan pula, tradisi ini memang berkembang-biak justeru lantaran kejumudan menghadapi realitas yang beku, kaku dan telah meluluhlantakkan gairah hidup. Ketika segala sesuatunya telah demikian menyesakkan dada sementara Tuhan pun telah diperdagangkan dengan berbagai rupa dan cara maka ngrasani adalah jalan keluar utama. Adakah hiburan dan perlawanan lain yang lebih murah dan demikian menggairahkan ketimbang ngrasani?

Wah, ngrasani ini memang nikmat tiada dua. Saya benar-benar asyik tenggelam ngrasani tulisan yang isinya bicara soal ngrasani. Hebatkan si ngrasani ini?! Nah, kalau begitu ada beberapa rekomen dari hasil ngrasani ini. Rekomen ini penting agar setidaknya hasil ngrasani saya ini terbilang menjadi ngrasani yang baik dan benar meskipun hingga hari ini kaidah ngrasani yang baik dan benar belum pernah dibahas dengan sungguh-sungguh apalagi dijadikan sebagai materi oleh para wakil rakyat maupun para kaum intelektual dan akademisi. Selain itu rekomen ini penting saya buat agar setidaknya mengikuti sabda Nabi yang mengatakan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang membawa manfaat bagi orang lain, maka ada baiknya pula kita membuat ngrasani ini bermanfaat bagi orang lain.

Adapun rekomen saya berkait dengan ngrasani ini adalah,

Pertama, adalah sangat baik dan perlu jika kita tidak meletakkan ngrasani sekedar sebagai hobi paruh waktu yang tidak berguna apalagi bermanfaat. Ngrasani seharusnya dapat dikategorikan sebagai sebuah terapi kejiwaan sekaligus wacana tanding yang efektif.

Kedua, seharusnya pemerintah secara serius menggodok persoalan ngrasani ini dan menuangkannya dalam peraturan pemerintah. Isi dari PP ini adalah kewajiban bagi setiap WNI ataupun WNA yang bermukim di wilayah Indonesia untuk menaati jam ngrasani yang diambil dari alokasi waktu 24 jam yang diberikan kepada manusia setiap harinya. Dengan cara ini tradisi ngrasani dapat terbangun secara kualitatif dan tidak memakan waktu kerja yang seharusnya digunakan semaksimal mungkin untuk mendorong produktifitas nasional.

Ketiga, seharusnya ngrasani dijadikan hari besar nasional yang wajib diperingati seluruh rakyat Indonesia. Pada hari ini semua boleh saling ngrasani atau bahkan menuding liyan jika memang dianggap perlu. Silakan berpesta, hari ini anda merdeka dari ‘dosa’ ngrasani. Tumpahkan semua kegembiraan anda selama telinga anda tak merah dan kepala anda tetap dingin saat ada yang ngrasani anda dengan toa. Selain mendukung demokrasi, niscaya langkah ini berguna sebagai terapi sosial yang akan membawa bangsa ini keluar dari kemuakan; hal sederhana yang sangat didamba bangsa ini.

Nah, jika begitu, kapan jadwal ngrasani kebudayaan kita selanjutnya? :D

[] Cin Hapsari Tomoidjojo