Makin hari makin banyak orang yang membuat blog atau tagline “Menolak Lupa”. Ya, bangsa ini memang pelupa maka boleh jadi kata-kata itu sengaja dibuat agar bangsa ini tidak pangling dengan dirinya sendiri.

Satu minggu lalu, bangsa ini baru saja memperingati hari lahirnya Pancasila. Keluar dari sekian perdebatan berkenaan dengan hari itu, semua segera berbondong menulis hal tersebut, pun sekedar lewat status Facebook atau lini masa Twitter. Hari ini, Jumat, 8 Juni 2012, tepat satu minggu kemudian, bangsa ini sudah lupa tentang apa yang baru saja dibicarakannya. Euforia King of Euro menggelambir dimana-mana dan menggeser hampir semua masalah. Demikian pula dengan 6 tahun kasus Lapindo, Antasari Azhar, penggelembungan suara pada pemilu lalu dan masih banyak kasus-kasus lainnya.

Kita tentu sudah bosan dengan kalimat “pengalihan issue” tetapi apakah kita sadar jika pada dasarnya selain terjebak dalam politik media sebenarnya kita sendiri tengan memerangkapkan diri pada ketidakmautahuan? Kita semua! Anda, saya dan ya, kita semua! Kita memang tinggal dalam dunia yang bergerak cepat tapi bukan berarti ingatan kita juga boleh berlalu begitu saja tanpa pernah termaknai dengan tepat.

Tadi pagi editorial Metro membuat saya tersenyum kecut. Dalam dialognya dengan Prita Laura, Suryo Pratomo mengatakan jika kasus korupsi yang lagi-lagi melibatkan seorang pegawai pajak menegaskan jaman gelap bagi Indonesia. Tidak ada hukuman yang cukup berarti bagi para koruptor dan terlibatnya oknum-oknum diberbagai lapisan yang seharusnya menjadi tulang punggung Indonesia disinyalir sebagai sebab utama. Tetapi yang lebih penting adalah kenyataan bahwa fenomena korupsi lahir dari watak tamak yang terbangun karena tolak ukur keberhasilan hidup memang kerap dinilai sekedar dari materi. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ini setali tiga uang dengan penyebab-penyebab lain masalah korupsi di Indonesia. Tingginya tingkat konsumerisme yang berbanding terbalik dengan produksi membuat bangsa ini terbiasa untuk menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan.

Jika masalahnya adalah gaya hidup dan cara pandang maka perkaranya akan lebih rumit. Sebagai contoh, masyarakat Eropa, Cina atau Jepang memiliki gaya hidup sebagaimana diidam-idamkan bangsa ini tetapi proses hingga mencapai titik tersebut ditempuh dengan jalan yang panjang dan cukup berliku. Mereka harus membangun kesanggupan bertahan lewat revolusi dan etos kerja tinggi. Berbeda dengan Indonesia, gaya hidup yang mensyaratkan ketahanan finansial ini dicapai tanpa seluruh proses itu. Indonesia mungkin pernah berada di ambang batas itu tetapi peristiwa 65 bukan sekedar meluluhlantakkan banggunan yang belum genap itu melainkan juga memberangus nilai-nilai yang berusaha dibangun sebagai dasar landasan negeri ini sampai ke akar-akarnya. Sebagai akibatnya, kini instan adalah agama baru bangsa ini dan sila pertama Pancasila pun segera berubah menjadi “keuangan yang maha esa”.

Dunia yang instan adalah dunia yang serba cepat. Proses menjadi nomor kesekian dalam dunia macam itu. Media sosial cukup menjadi bukti. Eksistensi seseorang seringkali dinilai dari status, jumlah jempol, jumlah followers dan pernak-pernik lainnya. Tidak penting dari manakah asal muasal status itu ataukah apa esensi dari status itu. Lagi-lagi, yang terpenting adalah gaya!

Bangsa yang banyak gaya ini tentu tak peduli dengan konsistensi, tentu ia juga tak peduli jika ingatan bukanlah sekedar kata yang diungkap lewat pernyataan sambil lalu dalam sebuah status. Bangsa yang banyak gaya ini tentu tak ingat jika Kamus Besar Bahasa Indonesia belum menghilangkan kata dedikasi ataupun disiplin. Ukuran dari hal tersebut tak lain adalah tindak-tutur atau sikap hidup sehari-hari, dimana yang kata-kata harus sejalan dengan aksi. Dan jika Suryo Pratomo menyebutkan dibutuhkan keteladanan dari satu orang manusia dalam skup nasional yang dapat mengeluarkan bangsa ini dari jaman gelap, saya tetap yakin jika bangsa ini lupa bahwa sesungguhnya ia telah benar-benar lupa; lupa jika ia adalah sekumpulan manusia dan wajib berlaku selayaknya seorang manusia yang telah dianugerahi akal, pikiran juga nurani.

Ada yang berkata, “always remember pain makes people change, So don’t hurt them when you don’t want them to change.” Tentu kita tak ingin sependapat dengan dalil itu dan masih berharap hal itu tak terjadi. Jadi, mari berubah hingga kita tak perlu saling menyakiti!

[] Cin Hapsari Tomoidjojo