Tags

, , , , , , , ,

“Yuk, nonton Soegija!” Teman saya berkata dengan antusias sementara saya masih berusaha menangkap maksud dibalik ajakannya. “Harus nonton?” tanya saya pada akhirnya. “Iya, donk…” jawabnya sambil tertawa. “Karena Katholik atau???” Teman saya kembali terkekeh menanggapi pertanyaan saya. “Karena yang bikin film Garin! Udah lama kan Garin gak bikin film yang pasar minded gini…Alias film yang gampang dingerti banyak orang… Plus iseng, pengen ngecek kayak apa sih film yang ditonton bokap sama nyokap itu… Pasti filmnya keren banget donk, sampe bokap-nyokap yang seumur-umur gak pernah nonton film di rumah aja bisa nyangkut ke bioskop!”

Percakapan itu terjadi sekitar tiga minggu lalu, tepatnya ketika seorang kawan saya tiba-tiba mampir di rumah petak tempat saya tinggal. Alhasil, kami pun bercakap-cakap secara serampangan, sampai akhirnya kami tiba dipembahasan soal film. Nah, berhubung kami bukan pengamat film ataupun penonton yang baik, jadilah perbincangan tersebut seperti tebak-tebak buah manggis. Semua obrolan hanya berdasar pengalaman yang kami alami dan sisanya, tafsir acak atas berbagai pengalaman yang ada.

Ya, film Indonesia itu susah ditebak! Sampai sekarang belum ada indikator yang jelas, yang bisa menjawab kenapa film yang satu bisa lebih mudah diapresiasi pasar ketimbang film lainnya. Kualitas film, baik maupun buruk, tak selamanya berbanding lurus dengan jumlah penontonnya. Ada film yang tak layak tonton tapi berhasil menggaet jumlah penonton tinggi dan yang tak perlu diherankan, demikian pula yang sebaliknya terjadi. Kawan saya menggaruk kepalanya. Harap maklum, sebab nasib yang sama sebenarnya terjadi pada film besutan rumah produksinya.

Terakhir, jumlah penonton tertinggi diraih film Laskar Pelangi (2008). Kala itu, jumlah penonton mereka mencapai 4.606.785. Tapi yang patut dicatat, periode ini, rentang 2008-2009, film Indonesia memang mencapai klimaks. Jumlah penonton film Indonesia meningkat secara signifikan. Fenomena yang sama tidak terjadi pada The Raid (2012) yang sering disebut sebagai ‘awal bangkitnya kembali generasi film terbaik di Indonesia’. Dalam catatan Konfiden (06/12) yang ditampilkan dalam website mereka, http://www.filmindonesia.or.id, film karya sutradara  Gareth Evans yang sangat boombastis dan berhasil menembus Hollywood itu baru mencatat angka 1.844.817 saja. Menculik Miyabi (2010) yang berusaha didongkrak dengan mendatangkan bintang porno asal Jepang, Maria Ozawa juga bernasib sama. Lebih tragis, film ini hanya berhasil menggiring 447.453 penonton. [cek kompilasi data penonton film Indonesia 2007-2012]

Padahal, jika kita menggunakan logika dagang yang dipersenjatai dengan berbagai bentuk promo, hal ini tentu tak pernah luput untuk dilakukan. Setiap produksi film pasti memiliki budget promo dan biasanya nilainya tidak kecil. Sebab, apalah artinya berdagang tanpa suara. Kalau perlu, suara-suara itupun harus dibeli. Sama seperti pilgub atau pilpres, satu suara menentukan hajat hidup sebuah produksi film. Berbagai cara promo ditempuh, mulai dari cara konvensional atau cara-cara yang kontroversial. Untuk yang terakhir ini, meski tak seheboh Miyabi, Soegija adalah contoh yang baik.

Saya ingat, Paskah lalu, persis sebelum tablo alias visualisasi jalan salib dalam perayaan Jumat Agung, gereja dimana orang tua saya menjadi jemaatnya, memutar film tersebut. Saya tak ingat apakah film itu diputar utuh ataukah hanya thriller-nya saja. Yang pasti, jumat itu saya tak ingin datang mengantar terburu-buru lalu harus menghabiskan waktu sekedar untuk menyaksikan film itu sementara durasi misa juga tak kalah panjang. Akhirnya, saya memang datang tepat waktu dan itu artinya saya hanya menyaksikan credit title film tersebut.

Buntut dari pemutaran film dan propaganda (iman) yang terus didengungkan membuat film ini terlihat menarik. Satu hari lepas dari percakapan di atas, kami memutuskan untuk mencari tiket. Oalaaa… Beberapa bioskop yang kami tuju mengatakan jika tiket telah habis. Sold out, demikian kata suara merdu yang terdengar di ujung telefon sana. Begitupun pada jam tayang berikutnya. Setelah berusaha sedikit keras dan memastikan tiket yang tersisa, kami tak buang waktu untuk menuju 21 Tamini Square.

Datang lebih awal ternyata bukan jaminan. Kami tetap kehabisan tiket dan harus menunggu jam tayang ini lewat. Berhubung waktu masih cukup, kami segera menuju food court dan sejenak memanjakan perut yang bergemericik minta disapa. Di sana kami tertawa bersama dan kawan saya masih tetap menggelengkan kepala. Edun! Sold out terus! ujarnya tak percaya. “Gencar aja nih promonya…” lanjutnya lagi. Ya, jika Miyabi berhasil menjual erotisme sementara The Raid berhasil membaca keinginan pasar lewat aksi baku-pukul, lalu kira-kira dengan cara apakah Soegija menjual diri?

Waktu yang kami tunggu akhirnya tiba. Bersama kami, antri serombongan pemuda-pemudi. Jumlah mereka sekitar 10-15 orang. Teman saya kembali menggulirkan senyum, dia bilang pasti ini anak-anak mudika (muda-mudi Katholik). Ya, berdasar pengalaman orang tuanya, teman saya mengatakan kalau acara nonton bareng biasanya dikelola oleh lingkungan masing-masing. Jadi, selalu ada koordinator dari masing-masing lingkungan. Isu yang berhembus memang membuat para Katholiken seakan-akan harus membangun solidaritas untuk ‘menutup’ biaya produksi film ini, yang katanya, mencapai 12 Milyar rupiah, sebuah angka yang tak main-main. Ini belum ditambah ‘himbauan’ dalam selebaran gereja, yang pada intinya meminta umat agar menyaksikan film tersebut sehingga film tersebut tidak segera terdepak dari bioskop. Di Jogja, himbauan ini rupanya efektif. Hampir dua minggu lamanya, antrian untuk menonton Soegija masih terjadi. Himbauan ini sebenarnya bukan hanya keluar melalui selebaran tetapi juga melalui jejaring sosial dan info group pada smartphone.

Apa yang ditawarkan Soegija sebenarnya bukan hanya berlaku bagi mereka yang Katholiken. Bagi mereka yang non Katholiken, Soegija menawarkan plakat ‘manusia Indonesia yang toleran’ bagi mereka yang mau menyaksikan film ini; sebuah tawaran yang menggelitik rasa kebangsaan di tengah karut marutnya problem kehidupan beragama kita hari ini dan tentunya, penghargaan terhadap minoritas. Dalam koridor ini, Romo Kanjeng tidak dipandang sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia melainkan sebagai salah satu pahlawan nasional yang terkenal karena keberpihakannya pada republik. “100 persen Katholik, 100 persen Republik,” itulah ungkapan sang Romo Kanjeng diperankan oleh sastrawan aka kritikus seni, Nirwan Dewanto.

Menghabiskan waktu sepanjang 116 menit bukanlah sesuatu yang nikmat, terlebih apa yang kita saksikan demikian berjarak. Mungkin itulah yang dirasakan sahabat saya. Keluar dari ruangan, dengan wajah tak begitu cerah, ia berkata kalau film ini akan sulit dipahami jika para penontonnya tak memiliki bekal konteks sejarah pada jamannya. Selebihnya, sahabat saya berpendapat jika film ini bukan film tentang Soegija, melainkan sisi lain dari periode kemerdekaan Indonesia. Judul Soegija, baginya, cenderung menyesatkan.

Sepekan lewat penayangan Soegija, ada banyak apresiasi berkait dengan film tersebut, baik yang bernada positif maupun sebaliknya. Di lain sisi, ‘beberapa informasi’ kembali menyeruak lewat jaringan medsos. Salah satunya adalah pemberitahuan jika LSF (Lembaga Sensor Film) telah melakukan pemotongan gila-gilaan atas film tersebut. Istilah kata, penonton dimohon untuk tidak terlalu ‘berisik’ jika film yang disaksikan tak sesuai ekspektasi.

Ya, saya sendiri mungkin salah satu orang yang tak begitu puas menyaksikan film tersebut, di luar kegembiraan saya melihat banyak ornamen yang sangat khas Nusantara dalam film tersebut. Coba jenguk saja Bangongan yang dimainkan oleh tokoh Toegimin yang diperankan oleh Butet ataupun Banteng, remaja buta huruf sekaligus anggota laskar-laskar atau tentara gerilya, yang dimainkan oleh Andriano Fidelis. Itupun belum ditambah dengan racikan musik yang berasal dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia yang terus terdengar sejak awal hingga akhir film itu. Semua sungguh menghibur. Tapi kemudian, mana geliat Partai Katholik di masa-masa awal periode hidupnya? Mana pertentangan antara yang Republiken dan yang Kahtoliken? Mana yang antek dan mana yang… Saya nyaris tak percaya jika data-data yang setidaknya pernah kami (saya dan kawan-kawan) temui beberapa waktu lalu, dan akhirnya kami tuangkan dalam film dokumenter Ganjuran: Tanah Para Terjanji, sama sekali tak nampak dalam Soegija. Padahal, dari bahan yang pernah kami gali tersebut, peta pertentangan Katholik sangat nyata, termasuk bagaimana dua lokus Katholik, Van Lith di Muntilan dan Ganjuran, memainkan peran sangat besar kala itu. Sebab, satu-satunya yang ingin saya saksikan dalam Soegija adalah, bagaimana Katholik mau menampilkan wajahnya, wajah asalinya.

Mungkin memang kurang tepat dan tidak sepantasnya membandingkan Soegija yang digawangi arsitek film Indonesia sekelas Garin Nugroho, dan teamnya yang maha dahsyat, dengan film amatir yang kami buat. Dan memang bukan itu tujuan saya. Justeru, secara positif Soegija telah mengembalikan ingatan saya tentang bagaimana (asyiknya) kedudukan kelas menengah Kahtolik sepanjang republik ini berdiri dan bagaimana tingkah laku maupun keberpihakan mereka. Pada akhirnya film ini juga mengingatkan saya pada tidak disinggungnya salah satu tokoh kunci Katholik Hindia Belanda yang hidup sejaman dengan Romo Kanjeng, Joseph Schmutzer. Padahal, pemilik Pabrik Gula Gondang Lipoera itu sangat terkenal karena keberhasilannya menggubah wajah Katholik Eropa menjadi Katholik Jawa dengan cara membangun satu-satunya candi Katholik bergaya Hindu Siwa dengan Jesus sebagai figur utamanya. Selain itu, Joseph Schmutzer adalah juga Menteri Daerah Jajahan yang direkomendasikan oleh Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, van Mook. Saya benar-benar berterimakasih karena Soegija, setidaknya, telah berhasil mengundang saya untuk melakukan penelusuran yang lebih dalam walau dengan demikian ia sendiri sebenarnya tengah menggarisbawahi lubang-lubang yang ditinggalkannya.

Tapi ya sudahlah. Mungkin Garin dan team produksi Soegija berusaha memotret sejarah kekuasaan lewat sudut pandang yang berbeda, sudut pandang rakyat kebanyakan. Itupun harus diapresiasi karena sudut pandang tersebut masih belum lazim digunakan, bahkan dalam metodologi sejarah Indonesia sekalipun. Namun, ada hal yang tetap mengganjal dalam benak saya. Meski catatan dari http://www.filmindonesia.or.id bukanlah segalanya, tetapi angka-angka yang ada di sana sudah membuktikan, jika untuk sementara waktu ini, salah satu film yang laris manis adalah film-film yang memainkan sisi-sisi primordial kita. Tak percaya? Coba jenguk daftar box office pada rentang 2007-2012. Sila amati film-film mana saja yang mendapat respon pasar secara fenomenal, di luar karya-karya Andre Hirata.

Nah, jika anda bertanya apa salahnya dengan memainkan sisi-sisi primordial itu, saya akan jawab tak ada! Ya, tak ada yang salah selama promo film tersebut tak menggunakan sentimen agama untuk berdagang. Itu saja.

[] cin hapsari tomoidjojo

* sumber tabel: filmindonesia.or.id