Tags

, ,

“Dari pada main ngeluyur dan jadi hitam, lebih baik kamu ikut Festival Dalang bocah saja,” demikian pesan yang disampaikan kakek kepada Aditya Nugraha, perwakilan dari Kalimantan Tengah. Meski dengan nada sedikit protes dan komentar, Adit, demikian sapaan sehari-hari bocah kelahiran Palangkaraya, 15 Desember 2002, akhirnya menganggukkan kepala, menyatakan kesediaannya. “Tapi kalau soal hitam sih udah dari sananya,” ujar Adit diiringi tawa, “yang pasti aku mau ikut kalau ada hadiahnya,” lanjut Adit dengan dengan senyum malu-malu. Berbekal bakat dan kegemarannya berwayang itulah akhirnya Adit mengikuti Festival Dalang Bocah (FDB) kali ini.

Tampil sebagai penutup hari pertama, ini adalah kali pertama Adit mengikuti Festival Dalang Bocah. Sebelumnya, pengalaman berwayang Adit dimulai dari mengikuti sang kakak ketika sedang mendalang. Pada gilirannya, Adit kemudian turut memainkan wayang-wayang tersebut sementara sang kakak menuturkan lakon. “Dulu aku suka nangis kalo pas capek, kan aku masih kecil… Dan kadang-kadang aku juga minta gendong…” ungkap Adit dengan mimik lucu. Tapi pengalaman dengan sang kakak bukanlah persinggungan pertama Adit dengan wayang.

Awal perjumpaan Adit dengan wayang dimulai sejak ia balita. Hal ini tentu tak mengherankan sebab keluarga Adit kebetulan tinggal bersebelahan dengan sanggar milik sang kakek. “Istilah kata, sejak bangun tidurpun Adit, bersama kakak dan adiknya, langsung berpapasan dengan wayang dan gamelan, karena memang cuma itulah yang ada. Sebab kita nggak punya mainan lainnya,” jelas Joko Prayitno, ayah Adit. “Adit ini hafal banyak sekali tokoh wayang, padahal saya sendiri tidak,” ujar Pak Joko disertai gelak tawa.

Di Kalimantan Tengah dalang bocah sendiri terhitung sedikit. Kakak Adit yang kebetulan juga dalang, telah beranjak remaja, sementara adik Adit, walau sudah menyukai wayang tetapi baru berusia 3 tahun dan sudah tentu belum boleh mengikuti festival. Untuk terus mengembangkan wayang, beberapa sanggar di Kalimantan Tengah juga membuka hari-hari khusus dimana masyarakat umum boleh mengikuti latihan gabungan itu. Hanya sayangnya, mereka yang mengikuti latihan gabungan itu terhitung kurang konsisten sehingga perkembangan wayang, khususnya dalang bocah, tak berjalan maksimal.

Dalam festival kali ini Adit membawakan lakon Geger Manduro. Lakon tersebut menceritakan Raden Kangsadewa yang memiliki ambisi untuk menjadi penguasa di negeri Mandura. Namun, Prabu Basudewa sang raja Mandura merasa risih dengan cara-cara yang ditempuh Raden Kangsadewa. Untuk itu Prabu Basudewa mengirim Raden Arya Prabu dan Raden Ugrasena untuk menyelesaikan persoalan itu.

Adit sendiri mempersiapkan pagelaran ini hanya dalam tempo tiga hari. “Itu kalau dihitung total waktu ya… Sebenarnya sih, satu haripun saya sudah hafal,” terangnya dengan lugu. Ditanya cita-citanya, Adit dengan lantang menjawab, “aku mau jadi dalang! Tapi aku juga mau jadi polisi… Itu loh, biar kayak patung polisi…” Kami semua yang mendengar kata-kata Adit terbelalak. Hah, kepingin mirip dengan patung polisi?! “Patung polisi kan hebat, dia tetap tegak berdiri dalam cuaca apapun dan tak pernah menunduk,” jawab Adit masih dengan tatapan polos dan lugunya. Kami yang mendengar ucapan Adit pun tergelak bersama. [aovi l cin hapsari tomoidjojo untuk festivaldalangbocah.com]