Teman saya bertanya, “menurutmu, apakah menulis dapat menjadi terapi yang bisa menjaga kita agar tetap waras?” Saya tersenyum menyaksikan kata-kata yang tertera dalam layar ponsel saya. Dan tanpa sempat berpikir panjang, saya menjawab pertanyaan itu dengan seloroh kecil, “iya, lumayan buat senam otak, ngelurusin yang bengkok-bengkok.” Tapi sedetik kemudian saya menyadari sesuatu… Ah, berat sekali beban yang ditanggung dari aktivitas menulis itu, ‘menjaga agar kita tidak gila’. Fuuiihhhh, kerja macam apakah itu, sampai-sampai porsi dan kedudukannya demikian istimewa…

Seperti halnya surga, setiap manusia pasti memiliki jawaban yang berbeda atasnya. Demikian pula dengan waras, setiap manusia pastilah memiliki standarisasi bagi batas-batas kenormalan alias ketidakwarasan yang mereka pahami bersama. Sebenarnya, batas-batas kewarasan selalu dapat diperdebatkan sekaligus ditawar. Namun, masalah akan menjadi sangat rumit ketika kekuasaan ikut-ikutan menancapkan taji pada ruang ini… Nah, berhubung batasan waras sedang demikian samar, maka ijinkanlah saya untuk mengimajinasikan keterkaitan kata waras dengan keberadaan beberapa kelompok masyarakat.

Waras Dalam Khasanah Umum (konteks allay)
Bagi banyak orang, menjaga diri dalam kepatutan norma adalah hal mutlak. Dalam kasus ini, kepatutan akan norma tersebut tidak berada dalam rentang terkerasnya, namun ia lebih sederhana dari itu semua, yakni dalam arti mudah dimengerti dan dipahami liyan, umum. Ya, karena apalah artinya diri bila tak dapat memahami atau dipahami? Sebab, kita juga tahu dengan pasti jika kita tak akan selamanya dapat berkata, ‘terserah gue, donk!’ Nah, bagi banyak orang jenis ini waras sama artinya dengan tak ketinggalan TL atau TTWW (timeline/lini masa dan trending topic world wide). Waras juga berarti dapat bergaul dengan lingkungan sekitar dan di sana eksis adalah trophy bagi ketrampilan untuk menjadi karet sekaligus bunglon. Lalu bagaimana jika anda tak ingin disebut sebagai manusia kelas GE alias Gagal Eksis? Ya, minimal anda tak gagap dengan berita terbaru di tv dan koran ataupun kabar gadget termuktahir. Dan yang lebih penting dari itu, ada satu syarat tak tertulis jika anda tak ingin disebut gila oleh kalangan ini, biasakanlah lidah anda untuk berkata, ‘iya, eymmmm, dia tuh emang euwwwww banget ya…’.

Waras Dalam Terma Ummat yang (Sangat) Taat
Bagi para pendoa di tataran syariat, waras tentulah sebuah prestasi tertinggi dimana diri tidak lagi terombang ambing oleh situasi. Waras adalah sebuah kemampuan untuk berpegang pada iman dan keyakinan yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan religi yang cenderung bersifat privat; sholat lima waktu, pergi novena sembilan hari di luar jadwal ibadah mingguan gereja, dan banyak lainnya. Tanpa perlu berpanjang lebar, waras adalah bagian dari kesetiaan untuk menyerahkan kepercayaan kepada realitas tertinggi; sebuah kepercayaan tanpa pertanyaan dan sebuah keyakinan tanpa bimbang.

Waras Dalam Poros Para Penanya
Sebaliknya, bagi para ilmuwan maupun para akademisi, waras adalah sebuah kemampuan untuk mempertanyakan segala sesuatunya. Semakin dalam anda bertanya dan membuat masalah, maka harus semakin besar pulalah dasar argumen yang dapat anda berikan bagi pertanyaan yang anda buat sendiri; dengan demikian makin matang pulalah titik kewarasan anda.

Waras Dalam Syahadat Para Komedian
Sementara itu bagi para komedian, tertawa adalah sebuah penanda jika anda masih waras. Sungguh pun orang-orang yang terlalu banyak tertawa akan disebut gila oleh kalangan lain, tapi membuat orang tertawa tergelak adalah syahadat para komedian. Adapun rukun iman terakhir para komedian ini adalah membuat orang-orang menyadari parodi hidup; karena hidup yang kejam sekalipun adalah hidup yang dapat ditertawakan, sebab hidup yang paling manis sendiri bukan tak menyisakan kegetiran di dalamnya.

every laughter is prayer

Ya, tertawa adalah sebagian dari iman sebab sejatinya tawa membutuhkan kebersihan hati dan kejernihan akal budi. Para komedian ini benar-benar memahami nilai satu menit tawa sepadan dengan 45 menit olahraga. Dengan tertawa anda dapat melancarkan aliran darah, mengurangi resiko penyakit jantung, meningkatkan daya tahan tubuh, menghasilkan hormon penenang alami, memijat paru-paru dan jantung, menurunkan stres, meningkatkan kadar oksigen dalam darah, mengkontraksikan 80 titik saraf, melemaskan otot-otot, meringankan konstipasi dan menurunkan tekanan darah. Efek yang luar biasa ini membuat para komedian harus mempertaruhkan nyawa karena mereka telah dianggap menelikung kerja-kerja para dokter dan apoteker yang dicukongi industri farmasi dunia.

Demikian hebatnya dampak tawa bagi kewarasan jiwa dan raga manusia, maka tak heran jika para komedian kemudian meminta ungkapan ‘tertawa itu sehat’ untuk segera difatwakan. Para komedian ini mengerti betul jika tawa akan mengurai nor-adrenalin dan menggantikannya dengan beta-endorfin. Orang yang senang tertawa akan selalu nampak awet muda dan keberhasilan anda menyikapi berbagai tantangan yang ada dengan tawa a la Gus Dur sesungguhnya menegaskan jika anda tidak gila! Betul! Yakinlah, selama anda dapat tertawa dengan hati lapang, sesungguhnya anda telah dijauhkan dari goda ketidakwarasan.

Waras Bagi Penulis?
Lalu, bagaimana dengan mereka yang menulis? Benarkah menulis adalah jalan terakhir yang dapat menyelamatkan manusia dari jurang ketidakwarasan? Jika demikian, apakah kedudukan penulis atau aktivitas menulis menjadi lebih tinggi ketimbang orang kebanyakan, para ilmuwan, para komedian dan mereka yang membalur tubuhnya dengan jubah doa berwarna terang, terkecuali jika kemudian mereka menulis? Entahlah. Tapi saya ingat betul kalimat pertama yang disampaikan Herry Priyono dalam pengantar esai-esai budaya, katanya, “setiap tulisan yang  baik adalah kampanye melawan klise.”

Nah, membaca kalimat tersebut membuat saya kembali tertawa seorang diri. Sebab saya sadar betapa yang saya tuliskan ini juga adalah semacam klise. Lalu mengapa saya tetap menulis jika tulisan ini hanyalah klise belaka? Ya, sebab bagi saya menulis memang bukan sekedar kemampuan untuk menjaga agar manusia tetap waras, melainkan lebih dari itu, sejatinya menulis adalah keberanian untuk menyaksikan seberapa tidak warasnya kita, manusia.

Kata-kata ‘menjaga agar manusia tetap waras’ dan ‘menyaksikan seberapa tidak warasnya manusia’ telah meneguhkan konsep kegilaan manusia itu sendiri. Ya, dan siapa yang dapat menyangkal kegilaan manusia? Sejarah dan peradaban sudah membuktikannya. Oleh sebab itu saya sarankan, ada baiknya kita tak lagi sibuk memikirkan kata-kata Descartes, ‘aku berpikir maka aku ada’, karena kini, anda dan saya, sama-sama harus bertanya sekaligus merenungkan kata-kata ini, benarkah ‘aku menulis sebab aku gila?’

[] cin hapsari tomoidjojo