Tags

, ,

Muh Setyo Mukti, atau akrab disapa Mukti, sempat turun panggung dengan perasaan tak menentu. Tapi bukan lantaran ia tak hafal lakon atau lainnya, melainkan karena ia sempat melihat lampu merah telah menyala sementara ia masih belum selesai dengan lakon yang dibawakannya. Ya, lampu merah memang menjadi penanda jika waktu yang diberikan kepada para penyaji hampir usai.

Tampil sebagai pembuka di hari ketiga, atau hari terakhir Festival Dalang Bocah 2012 (7/7), Mukti yang menjadi wakil dari provinsi Lampung, membawakan lakon Wahyu Makutha Rama, gaya Surakarta. Kehadiran siswa kelas V SD Tiuhbalak, Way Kanan ini sedikit mengejutkan. Bagaimana tidak, Mukti sebenarnya baru saja menggeluti dunia ini. Kira-kira, delapan bulan lalu atau tepatnya medio November 2011.

Awal cerita, Mukti meminta seperangkat alat gamelan dan satu set wayang kepada sang ayah, sebagai hadiah khitan. Sang ayah, yang juga ketua Sanggar Mukti Budaya, menyanggupi permintaan anaknya tersebut dengan satu syarat, bahwa ia harus mendalang pada acara khitan tersebut. Alhasil, jadilah Mukti membawakan lakon Wahyu Jati Agung untuk kali pertamanya. Keberhasilan Mukti pada hari itu pada gilirannya mengundang banyak anak di sekitar untuk datang dan mengikuti latihan karawitan yang digelar tiap satu minggu sekali. Mayoritas anak-anak ini justeru bukan berasal dari Jawa, melainkan dari berbagai wilayah di Sumatera dan lainnya.

Perkembangan Mukti dalam tempo 8 bulan sendiri terbilang pesat. Pak Ganda Tukino, pembimbing Mukti, mengatakan jika dalam rentang waktu tersebut Mukti telah berhasil membawakan 16 kali pentas. Wow! Sebenarnya bakat Mukti dalam bidang kesenian tidak datang tiba-tiba. Selama ini Mukti memang terkenal karena kecintaannya pada dunia ini. Mulai dari menggambar, menyanyi, bermain drumband sampai memainkan jaran kepang, semua dilakoninya dan semua menjadi kesenangan utamanya.

“Sebelum kenal wayang, Mukti itu senangnya main jaran kepang. Dia pinter sekali dan nggak pernah bisa berhenti kalo sudah mainan jaran kepang. Lah, itu ya persis sama kalau dia sudah pegang wayang… Karena dia senengnya sabetan, dia itu nggak akan leren kalau wayang-wayangnya belum benar-benar hancur,” ungkap ibunda Mukti disambut gelak tawa beberapa beberapa rekan peserta yang kebetulan turut menyaksikan wawancara ini. Hebatnya lagi, meski bergelut dengan seni tradisi, tapi Mukti juga tak kehilangan kemampuan untuk menikmati game atau sekedar bermain bola.

Nah, kakaknya sekarang mulai ketularan… Dia juga kepingin main wayang, makanya nanti akan minta bimbingan Pak Ganda lagi,” tambah sang ibu. “Iya, nanti saya mau ikut Festival Dalang Remaja. Doakan ya…” jawab sang kakak dengan antusias.

Ditanya tokoh favoritnya, Mukti yang sedang asyik memainkan wayang dan membuat gerakan salto sontak berhenti dan dengan cepat menyebut nama werkudara serta sosok Puntadewa. “Soalnya mereka pemberani dan Puntadewa itu raja.” Terus, kenapa kalau dia raja? “Raja itu bisa mengatur rakyatnya dan saya ingin seperti Puntadewa,” jawab Mukti. “Saya mau menjadi presiden yang bisa mendalang,” tegas Mukti tanpa sedikitpun ragu. “Wah, nomor urutnya berapa? Nanti saya coblos deh,” seloroh ayah dalang Monik Dwi Rahayu yang kebetulan ada di samping Mukti.

Kesungguhan Mukti rupa-rupanya telah menginspirasi kawan-kawannya. Ia juga telah berhasil menularkan wayang kepada lingkungan terdekatnya, satu hal sederhana yang dapat kita contoh bersama. [aovi l cin hapsari tomoidjojo untuk festivaldalangbocah.com]