Tags

, ,

“Nah, coba itu diperhatikan… Kalau lampunya sudah warna kuning itu tandanya kamu harus hati-hati karena waktunya berarti tinggal sedikit. Jangan sampai bahan-bahanmu masih sisa banyak. Pokoknya temponya diatur dengan baik ya,” suara Pak Suryadianto terdengar diantara ramainya para penonton. Rupa-rupanya Pak Sur sedang mengarahkan Willy, putra keduanya yang kebetulan menjadi salah satu peserta Festival Dalang Bocah tahun ini.

Mewakili provinsi Jawa Tengah, Willy Setiabudi, demikian nama lengkapnya, sebenarnya belum terlalu lama menjadi dalang. Bocah kelahiran Purbalingga 4 April 1999 ini kira-kira baru tiga tahun lalu mengenal wayang dalam arti sesungguhnya. Perkenalan Willy dimulai ketika ia menyaksikan banyak pagelaran wayang pada saat bulan Ramadhan. Bagi Willy, pagelaran tersebut benar-benar memikat hatinya karena sangat menghibur dan penuh dengan tuntunan. Untuk mewujudkan keinginannya menjadi dalang, Willy tak perlu jauh-jauh berlatih di sanggar atau lain-lain tempat. Beruntung karena sang bapak adalah pembuat wayang, maka dengan mudah Willy memiliki pembimbing sekaligus teman ngobrol yang menyenangkan. Modal itu seterusnya dikembangkan Willy, bahkan pada gilirannya banyak teman-teman Willy yang tertarik untuk menekuni bidang pedalangan ini.

“Pengiring-pengiring saya juga teman-teman saya sendiri. Mereka itu masih kecil-kecil sekali. Usianya antara 7-8 tahun,” ujar Willy dengan suara agak lirih. “Kami juga sering main bareng, misalkan saja main PS, main bola atau lainnya…tapi itu kan cuma selingan aja. Nah, kalau sudah main wayang biasanya kita semua semangat dan selalu kompak.”

Pertumbuhan dalang cilik di Purbalingga belakangan waktu memang meningkat pesat. Pak Sur mengatakan jika mungkin saat ini masyarakat telah melihat potensi tersebut. “Biasanya kan kalau sudah ada contoh lalu lainnya tertarik untuk ikut mengembangkan… Jadi setelah mereka melihat oh, ternyata anak juga bisa menjadi dalang, maka mereka mulai termotivasi. Motivasi itu datangnya bisa dari anak itu sendiri atau bahkan berkat dorongan orang tuanya, karena kedua hal itu juga sama pentingnya,” tutur Pak Sur.

Pak Sur sendiri tak berpangku tangan melihat fenomena ini. Walau pada awalnya ia hanya seorang pembuat wayang tetapi Pak Suryadianto kemudian mendirikan sanggar yang dapat mewadahi potensi anak-anak ini. “Hati saya terketuk setelah menyadari bahwa anak-anak ini memiliki bakat yang sedemikian besar, oleh karena itu saya kemudian mendirikan sanggar pada tahun 2008 lalu,” tambah Pak Sur.

Festival Dalang Bocah kali ini adalah festival pertama dimana Willy terlibat di dalamnya. Pada festival ini Willy membawakan satu lakon kesukaannya, Jabang Tetuko. “Lakon ini ceritanya soal Gatotkaca waktu dia mengalahkan Prabu Kala Pracona dari Gilingwesi. Saya senang dengan tokoh Gatotkaca karena dia itu baik dan pemberani. Gatotkaca juga terkenal sebagai bayi suci,” ungkap Willy menjelaskan kenapa ia membawakan lakon ini.

Ditanya apa cita-citanya, Willy yang nge-fans berat dengan dalang senior, Ki Sugino Siswocarito, mengatakan jika ia ingin membahagiakan orang tuanya juga membanggakan keduanya. Oke deh, Willy, selamat berkarya dan semoga sukses ya. [aovi l cin hapsari tomoidjojo untuk festivaldalangbocah.com]