Persekawanan dan persahabatan, sebagaimana kita menikmati kopi, membutuhkan waktu… Sejumput waktu untuk mendidihkan air, membuat takaran yang pas dan akhirnya, menikmati aroma yang mengepul dari sebuah cangkir cantik, sebelum kita mulai mengecapnya di sebuah sore atau malam yang pekat. Setidaknya itu bagi saya…

Sebagaimana petang ini, saya tengah asyik menunggu kabar dari seorang kawan. Saya tahu, di tengah kesibukannya untuk mempersiapkan Idul Fitri dan malam takbir, ia pasti akan menghubungi saya, meski hanya sekedar memberi sapa dalam bentuk emotic berbentuk senyum. Saya menikmati ini karena saya sadar bahwa saya tak selamanya sanggup memberi balasan yang layak kepada sahabat saya. Selalunya, kita memiliki banyak alasan untuk menunda membalas sapa itu, entah karena waktu ataupun kesibukan.

Ya, membalas sapa atau memberi sapa, memang bukan hal mahal. Tetapi saya pribadi tak begitu menggemari jenis sapa yang ala kadarnya, sebuah sapa yang dibuat hanya untuk ‘menggembirakan’ hati sahabat atau ‘sekedar menunjukkan’ eksistensi keberadaan saya sebagai seorang sahabat. Saya pikir, seorang sahabat pastilah memahami apa atau bagaimana keadaan diri kita. Tak perlulah klarifikasi panjang lebar sekedar untuk men(y)enangkan hati. Oleh karena itu, ‘sebagai ganti’, saya selalu berusaha untuk menyediakan waktu luang yang cukup dalam kegiatan saling sapa itu; sama halnya seperti menikmati secangkir kopi, sebuah waktu untuk menikmati persekawanan dan persahabatan.

Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya mendapati sebuah ‘kopi baru’, kopi yang masih terasa asing pada lidah saya. Saya akan selalu berusaha untuk menikmati keasingan yang ada maupun tawa yang muncul dari perbincangan berbungkus tanya. Kita tengah mencoba, untuk saling mengenal dan saling mentertawai. Seiring waktu berjalan, kita akan menemui kenyataan, bahwasanya gambaran diri juga senantiasa berubah, bergerak dan ‘kopi asing’ memberi kesempatan bagi kita untuk kembali merefleksikan diri dalam rentang panjang perjalanan; sebuah upaya untuk mengaca.

Saya menikmati semua jenis kopi serta tiap proses untuk membuat kopi yang enak. Tetapi saya juga siap jika kelak, panasnya kopi membakar lidah saya sendiri atau rasa kopi yang ada ternyata ‘bukan selera’ saya. Tidak mengapa, karena pada akhirnya saya akan tahu jika hidup ini penuh dengan berbagai jenis kopi dan rasa yang bagaimanapun harus senantiasa dipahami. Tidak ada yang perlu ditakuti dari semua itu karena toh, setiap orang memiliki perjodohannya masing-masing, bahkan dengan secangkir kopi pun.

Untuk para sahabat dan handai taulan, ini secangkir kopi dari saya. Cara saya untuk menyapa dan menghayati keberadaan persekawanan dan persahabatan kita. Terimakasih untuk banyak hal dan maaf jika saya tak mengirimkan ucapan ini satu persatu kepada kalian. Tapi yakinlah, tanpa semua kopi ini, hidup saya tak akan pernah semenarik ini.

Selamat sore…
Yuk, kita kembali menikmati kopi ini dan semoga kalian semua berbahagia.

[] Cin Tomo