Sketsa Borobudur, diambil dari Bukit Dagi, Purnama Sidhi, 13 Mei 2006 [] cinhapsari tomoidjojo

Sketsa Borobudur, diambil dari Bukit Dagi, Purnama Sidhi, 13 Mei 2006 [] cinhapsari tomoidjojo

BHARA, BATU YANG BICARA
sebuah prosa lirik perjalanan melongok buddha

anak kecil itu tersenyum riang
hatinya penuh dengan kembang
papa berjanji mengajak jalan-jalan
selagi mereka di kota pelajar-pejuang

anak kecil itu tersenyum riang
ia tak dapat membayangkan
keajaiban dunia nan digdaya
yang sering disebut-sebut orang

hari yang dinanti akhirnya tiba
anak kecil itu berlari tak kurang
mencari pakaian yang tepat
tuk kunjungi sang maha dasyat

panjang perjalanan
tak sanggup ia kenang
hanya usia samar terpajang
bersama foto lusuh terpampang

aduh,
inikah rupanya?
cerita panjang yang harus digali?
gunung kaku yang harus didaki?
dan manusia dalam sangkar batu?

ajaib! ajaib!
siapa manusia itu?
kenapa dia diam saja?
kenapa dia diam di sana?
apakah dia dipenjara?
ataukah dikutuk ibunda?

kenapa dia tak cuma satu?
kenapa dia berundak keliling menuju satu?

ahhh,
kenapa orang-orang pada tertawa?
berkelakar hendak menjamah tubuhnya?
ada doa ada keajaiban, mukjizat diperebutkan…

aduh…
batu, batu dan batu lagi…
siapa yang mau menyusun batu berukir?
sampai tinggi menjulang menyentuh langit?
sampai awan saja suka bercanda dengannya?
dan burung-burung senang hinggap di  atasnya?

pulang berbekal senyum
riang langkah hati gumbira
walau galau ingat nasib si batu
yang cuma diam begitu melulu…

*

tahun berjalan
tak lagi kaki kembali kunjungi
tumpukan batu tatah berukir tinggi
padahal ada kabar ia selalu ramah menanti
mereka yang mau datang kembali

ya,
waktu berlari-lari
terkadang juga mentertawai
diri yang tak bisa mengimbangi
yang kanan dan yang kiri
hingga letih tak bisa dipungkiri

dan ternyata benar kata kabar
sang batu tua mau setia menanti
juga tak pernah segan menemani
tiap anak yang tak kecil lagi

anak kecil itu juga
ia sedikit dewasa dan datang kembali
menghampiri gunung batu berukir tinggi
meski ia tak kuasa menyangga diri

anak yang tak lagi kecil
tak sanggup jejakkan kaki
sebab rasa telah ternodai
ia pilih menyisir merayapi
menyaksi dari lain sisi
sendiri

dari pucuk bukit
dunia serasa terbalik
nun di depan mata
batu tua dikepung cakrawala
awan-awan berwarna hijau semata
meski batu tua diam terpenjam
kesetiaannya terpancar
kemuliaannya terpapar
rupa teduh terhantar
dalam balut begitu saja
yang nan sederhana

sepoi menghembus samar
anak yang tak lagi kecil ingat
dulu berita pernah bercerita
entah mengapa dan sebab apa
ada orang tak suka batu yang rila
direncana pada sebuah malam
kesetiaannya hendak diledakkan
kemuliaannya hendak dihancurkan

sepoi menghembus samar
gadis yang tak lagi kecil ingat
dulu berita juga pernah bercerita
masih tersisa orang yang percaya
hidup tatanan adil-sejahtera
dan mereka melantun doa
di hadap batu tua yang rila
sama seperti ia
yang datang lagi
di sini

jaman memang menghadang
dan batu tua tegar memandang
menatap empat penjuru semesta
ia dongengkan sengketa juga karma
segala kisah mahluk-mahluk yang ada

jaman memang menantang
dan batu tua tegar tanpa menentang
menarikan tantra, mantra, yantra
senangndung gita dan dharma
dengan kembang serta dupa
merti mewujud mandala

sang batu tua,
tak pernah pikir ia pernah diperah marah
tak pernah sedan sedang dibalur lumpur merah
tak pernah parau dihantam badai membuat basah
tak pernah tolak rasa terik berpekik mewabah

tetap,
ia diam
tak tersenyum
tak tertawa
tak menangis
tak nelangsa
tak juga belasungkawa

sunya…

gunung batu berukir hening
gunung batu berkalung bening
ia tak tinggalkan buih kata berpening
sekedar pesan kecil disisip dalam tiap hati
bagi mereka yang sanggup menyaksi

gunung batu tak banyak bicara
sekedar titipkan air bagi pelaut pemberani
sekedar lahirkan subur dari api dalam perut merapi
sekedar hidupkan ruh dalam nafas para diri
sekedar olahkan tanah untuk kaum tani

katanya,
biar air mengajar ikhlas bergulir-bulir
dan sang api mendidik kuasa tuk menerangi
sementara angin mengolah teguh berhembus
dan sang bumi menempa wadah berpasrah

gunung batu tak beku
gunung batu juga tak kaku
diam bukan karena tak bermutu
warisannya bukan sekedar buku
ia mau tak lagi ada sedu dan pilu
sebab manusia bukan siput malu
lebih-lebih bangsa yang benalu

gunung batu berukir hening
gunung batu berkalung bening
ia tak tinggalkan buih kata berpening
sebab jati ilmu adalah laku
yang tak boleh kaku
dan bukan beku

*

kini,
anak kecil itu
dan anak yang tak lagi kecil itu
sama bertemu, sama memandang
berbalik diam-menyaksi merti

sang gunung batu berukir hening
sang gunung batu berkalung bening

ia bhara yang bicara…

sunya…

rahsa…

karya…

***
[] cinhapsari tomoidjojo