“Pasar itu, khususnya saham, sepenuhnya adalah masalah persepsi. Kalau persepsi terus dibangun positif, nilai saham akan terus naik karena market merespon sinyal-sinyal tersebut. Begitupun sebaliknya.” Benni Sinaga, memaparkan pernyataan tersebut disela-sela pertemuan kami.

Pertemuan sore itu dikawal hujan sepanjang hari di Jakarta. Bahkan, tanggul di beberapa titik Jakarta pun dikabarkan sudah jebol. Perasaan was-was menghantui kegagalan pertemuan yang telah kami rencanakan semenjak akhir tahun lalu. Sebab dapat dipastikan, menembus Jakarta yang macet dan banjir bukanlah perkara mudah. Butuh energi dan tingkat kesabaran ekstra untuk menghadapinya. Beruntung, hujan tak menyurutkan perjumpaan dan cafe buku di bilangan Kemang cukup mengobati perasaan. Pertemuan dengan Benni Sinaga berjalan menyenangkan. Penulis buku “Hantu Saham” itu dengan gamblang menjelaskan seluk beluk dunia saham Indonesia, seperti yang kami harapkan, disertai dengan joke dan canda-tawa yang renyah.

Entah mengapa, di tengah perbincangan tentang saham, pialang, emiten, bandar saham, jaring pengaman, dll, pernyataan mengenai ‘persepsi’ tadi justeru menggiring kepala saya kepada “Shambala”, kepada “The Secret” dan sejenisnya. Dalam bayangan saya, persepsi positif itu merupakan supply energi yang menjadi anak kunci terciptanya sebuah peristiwa yang telah diyakini sebelumnya. Apakah ini rasional? Sayangnya, bukan masalah rasional dan irasionalitas yang akan kita bicarakan di sini. Tapi modal keyakinan pra kejadian, sebuah pembacaan yang bersifat post eventum.

matematika cintaLalu apa hubungan saham dengan Cinta? Tidakkah kita sedang mengada-ada di sini? Saya pikir tidak. Sama seperti halnya saham, cinta dibangun di atas keyakinan, kepercayaan. Persis seperti halnya keyakinan yang dibanggun seseorang saat ingin bermain saham, keluar ataupun terhubung dengan analisa fundamen maupun analisa teknik yang ada.

Analisa fundamen dalam saham, secara singkat dapat diartikan sebagai analisa yang menggunakan data-data historis perusahaan termasuk di dalamnya pertumbuhan bisnis perusahaan, kinerja, dll, sementara analisa teknik adalah telusur pergerakan perusahaan dengan menggunakan grafik maupun indeks harga saham yang telah berjalan. Dalam kasus Cinta, apakah mungkin meniadakan pembacaan sejarah sekaligus hamparan grafik perjalanan serta visi dimuka? Dua orang manusia yang hendak bersatu, pastilah terikat dengan itu semua, karena pertemuan hari ini adalah juga pertemuannya dengan masa lalu maupun masa depan secara bersamaan di titik yang ini, yang sekarang. Secara objektif tentu kita akan berkata tidak mungkin apabila seluruh materi pembacaan itu ditiadakan, tapi berhubung ini soal Cinta, adakah yang tidak mungkin di dalamnya?

Seorang sahabat saya pernah berkata bahwa Cinta itu demikian sederhana, bahkan sangat sederhana. Dia tidak menjelaskan apa maksud pernyataannya dan hanya menjawab rasa penasaran saya dan kawan-kawan lainnya dengan tawa sambil berujar, “coba saja, alami, pasti tahu.” Kalimat sederhana yang sangat tidak sederhana sepertinya. Tapi ungkapan itu menjadi sepadan dengan apa yang dikatakan Benni Sinaga, katanya, “main saham itu sebenarnya nggak susah-susah amat. Kita nggak terlalu butuh rumus yang njelimet karena nanti jatuhnya sama aja. Intinya main saham kan untung. Nah, lalu dari mana untung itu bisa didapat? Ya, pegang aja analisis fundamen dan tehniknya. Dan jangan lupa, belajarlah dari pengalaman orang lain. Itu kuncinya. Tapi, walau kita sudah pelajari analisa fundamental dan teknikal, ada waktunya juga untuk sesekali menjadi spekulan. Kekuatan spekulan itu adalah tanda, sinyal-sinyal yang ada di sekeliling. Asal pandai membaca tanda nasib kita pastinya tidak buruk-buruk amat.”

Menjadi spekulan, ya! Apakah itu jawabannya? Cinta butuh spekulasi? Ini Cinta atau judi? Sebenarnya tanya tersebut tak perlu dijawab lagi. Dalam kaidah Cinta yang tak mengenal kata tak mungkin, spekulasi justeru sudah menjadi satu dengannya. Cinta melegalkan spekulasi, dan hal itu senyatanya bersifat integral, telah menyatu secara otomatis di dalamnya. Persis seperti halnya para spekulan di lantai perdagangan bursa.

Cinta dalam aras itu—Cinta yang tak mengenal kata tak mungkin—tentu memiliki syarat bagi para pelakunya. Syaratnya tak lain dan tak bukan adalah mempercayai keajaiban sama halnya seperti kita mempercayai dongeng. Bukankah kita juga pernah mendengar adagium tentang dua cara menjalani hidup? Yang pertama, anggap keajaiban itu tak pernah ada, atau yang kedua, anggap bahwa segala hal yang ada adalah keajaiban. Nah, Cinta yang tak mengenal kata tak mungkin tentunya hidup dalam dimensi terakhir itu. Sebab jika tidak, rasionalitas bukan tak mungkin menjadi racun di kepala yang siap meluluhlantahkan segalanya, termasuk rahsa.

Dalam hidup, pembacaan memang senantiasa kita butuhkan. Faktor analisa memainkan peran penting untuk tak menjadikan kita manusia yang naif. Namun demikian, faktor analisa yang berlebihan dapat menjadi bumerang yang tiada duanya. Dalam dunia saham, fenomena itu (baca: kemampuan menganalisa secara tajam) dianalogikan Benni dengan jenaka. Katanya, “Orang pinter itu susah main saham. Profesi macam dokter dan pengacara itu kan profesi orang pintar ya…mereka bisa menganalisis dengan dalam dan tajam. Akibatnya apa? Sudah pengalaman di bidang sahamnya minim, eh, dikasih tahunya susah! Jadi, jarang untungnya deh mereka.”

Kami tergelak ketika mendengar kata-kata Benni Sinaga tapi ini menariknya! Di satu sisi, saham membutuhkan pembacaan, di sisi lain ketrampilan membaca yang tak disertai spekulasi yang berangkat dari sinyal-sinyal yang ada pun dapat membawa kita pada keadaan yang tak diinginkan. Cut loss, amputasi tanpa anestesi! Dalam saham, cut loss adalah penjualan saham ketika harga saham telah rontok alias turun drastis dari harga beli. Tindakan ini terpaksa ditempuh apabila nilai saham diprediksi akan terus mengalami bearish karena banyak faktor pernyebab. “Rasanya sakit,” ungkap Benni, “saya ibaratkan macam amputasi tanpa anestesi. Bisa bayangkan rasanya? Memenggal bagian tubuh tertentu tanpa bius sama sekali.”

Cinta yang tak terikat pada visibilitas atau harapan di masa depan, ada pada ruang yang sama seperti halnya kegagalan bermain saham; cut loss. Itu artinya, sejumlah investasi kepercayaan yang telah dilekatkan sebelumnya ternyata tak cukup kuat untuk menyangga (beban) masa depan. Masa depan, itulah masalahnya, bukan masa lalu. Sebab apa? Sebab masa lalu adalah kelok peristiwa yang tidak lagi dapat diubah namun dapat diperbaiki di masa depan. Tingkat perbaikan dapat diibaratkan dapat kita jenguk melalui analisa teknikal. Problemnya, bagaimana jika kita tidak dapat menerima kelok peristiwa yang pernah ada sekaligus tak mempercayai perbaikan yang mungkin diupayakan di masa depan?

Saran saya, jika analisa fundamental dan analisa teknikal tak cukup meyakinkan diri anda, janganlah bermain saham, lebih-lebih jatuh Cinta. Apalagi jika anda bukan seorang spekulan! Sebab apa? Sebab ternyata modal anda untuk meneruskan hidup sangatlah tak sebanding dengan dengan resiko dan pertanggungjawaban yang mungkin ada. Jadi, baiklah anda menjadi penggembira yang menyaksikan dunia yang sedang tumbuh ini melalui saluran televisi saja. Ingat, anda hanya boleh menjadi penonton. Jangan pernah menyentuh bunga, apalagi bicara pada batu, sebab mereka justeru mahluk-mahluk yang memberitahukan kabar gembira keajaiban; sesuatu yang tak pernah ada dalam kamus kaum-kaum tak bermodal keyakinan.

Bullish dan bearish atau kenaikan dan rontoknya harga saham adalah hal biasa dalam hidup, sesuatu yang fluktuatif karena nilai saham memang elastis. Demikian pula dengan rahsa dalam Cinta dan pasang surutnya dalam kehidupan. Satu hal yang harus dijaga adalah, jangan sampai bubble economic meledak dan akhirnya meninggalkan crash yang menyisakan duka bersama. Dan sudah pasti Cinta bukan soal untung-rugi, apalagi soal jual-beli. Kita semua tahu itu. Satu hal dari Cinta yang tak saya temui dalam logika pasar saham maupun rumus ekonomi lainnya adalah sebuah rumus sederhana matematika; bahwa satu dibagi nol adalah tak terhingga.

**Nah, sekarang ini, apakah saya dan anda, kita, siap bermain saham dan jatuh Cinta? Silakan berhitung jika memang dibutuhkan. Setidaknya jika itu dipercaya dapat menghindarkan kita dari jerat crash yang luar biasa. Sekali lagi, percayai keajaiban atau selamat berhitung…dan semoga kita semua adalah spekulan baik hati yang dinaungi kecerdasan tiada tara.

[] Cin Hapsari Tomoidjojo