luka dengan pita, apa namanya kalau bukan kebusukan yang dijaga? luka dengan pita, apa namanya kalau bukan lupa yang dipelihara?

luka dengan pita, apa namanya kalau bukan kebusukan yang dijaga? luka dengan pita, apa namanya kalau bukan lupa yang dipelihara?

Min,
tadi malam Luka mengunjungiku.
Wajahnya kuyu. Tubuhnya lesu.
Tatapnya juga sendu tanpa rona nan semu,
jauh lebih buruk dari terakhir kali kami bertemu.

Kami bicara sampai pagi.
Kami berdua, aku dan Luka.
Kami juga minum kopi, sambil terkadang berkelakar.
Ya, kami bahkan masih sempat terbahak, Min…
Sebab, seperti kau tahu, pedih juga bisa merubah wujud,
jadi apa saja yang dia mau, bahkan jadi sebongkah tawa…

Min,
Entah mengapa aku merasa,
tadi malam adalah malam rengekan Luka,
hal mana belum pernah terjadi sebelumnya.
Aku pun sedikit terkejut, tapi aku membiarkannya mengadu.
Aku anggap itu bahan aduan, meski aku bukan polisi jaga malam.

Min,
Luka bilang ini April…
Katanya, April mirip dengan Mei.
Mereka bersaudara dengan Agustus juga Oktober.
Ini bulan pilihan bagi lahirnya karya,
dan bulan keramat bagi tumbuhnya sastra.
Banyak orang mencipta, hanya pada bulan-bulan ini,
sebagaimana Ruwah mereka kunjungi makam para aulia.

Min,
Luka bilang ini juga bulannya anjangsana,
yang membuat cafe-cafe sesak,
dan membuat balai-balai pertemuan jadi padat.
Sebab pada itu bulan Luka tumbuh dengan gemerlap,
sebab pada itu bulan duka hidup dengan bersemangat.

Min,
bulan itu adalah bulan-bulan juta komentar.
Banyak laki-laki dan perempuan berebut minta didengar.
Entah mereka mau membuang serapah atau sekedar melempar ludah.
Tapi yang pasti mereka juga mau membelah Luka
dan mereka juga hendak mengorek dalamnya…
lalu berlomba mencari penawarnya…

Dalamnya Luka dicari…
Dalamnya Luka digali…
Bisa kau bayangkan, Min?
Bagaimana rasanya Luka?!
Ia yang sobek dan menganga…
Ia yang sendiri dan menyangga…

Sayangnya tawar, Min…
Luka bilang hatinya bukan mawar. Ia tawar. Dan kupikir ia benar.
Sebab penawar mana bisa kerja bila datangi Luka sekali tempo?
Sebab penawar apa bisa ampoh bila datangi Luka sekali berselang?
Luka tahu, dia tak kan pernah bisa sembuh pada akhirnya,
lebih-lebih jika hanya dibelai yang sekali-sekali itu…
Cidera yang melulu.

Ah, Luka yang minta dibelai melulu… Aku bilang dia manja!
Seonggok Luka yang merengek dan sialnya, dia meradang!
Jangan sebut aku manja, begitu katanya Min…
Aku ingat paras tua kesalnya,
kesal yang sudah beranak pinak.

“Aku ini Luka.
Aku bukan manja.
Aku luka jaman.
Jaman manja.
Dan tak dimanja jaman.
Jadi jangan sebut aku manja!”

Dan kata-katanya, Min…
Dia bilang ini jaman masih sama.
Jaman yang masih tak berpihak pada kita.
“Sebab anak-anak masih mati membangkai.
Sebab vagina perempuan masih sobek terburai.
Sebab gonggong kepala belum juga terbantai.
Sebab kepala hati belum tegak tak terkulai.
Dan aku Luka. Aku masih si Telaga Luka.”

Min,
lalu Luka bilang dia Luka yang ngeri…
Yang hidup terkepung di tengah pusara
yang bangkai, yang sobek dan yang terburai.
Dan dia bertanya mengapa tak ada yang sanggup melihatnya,
kecuali ia disampaikan dalam berita televisi yang bercampur igau mimpi?
Dan dia juga bertanya mengapa tak ada yang sanggup merasa,
kecuali mereka-mereka itu tak dapat mengelak menjadi korban?

Min,
tadi malam aku melihat Luka nanar.
Ia bicara. Suaranya parau tapi dalam.
“Ini pembiaran. Aku dibiarkan!
Lukaku dijadikan candi,
sedang lupa lagi jadi candu.”

Setelah itu, Min…Luka jatuh simpuh.
Ia bicara lagi, dengan nada teramat pelan.
“Semua bukan lantar aku manja,” katanya,
“yang minta dibelai apalagi sekedar cumbu-cumbu belaka.
Ini soal Luka. Ini soal derita. Ini soal kita!”

“Tak adakah yang tahu kalau Telaga Luka penuh bukan cuma pada bulan keramat?
Dan korban datang bukan cuma bulan April, Mei, Agustus dan Oktober?!
Yang disiksa, yang dihancurkan, yang ditindas, ada melulu,
melampaui bulan-bulan kharomah penuh hikmah,
berjejal tiap detik, berkerumun saban menit, dan menggelepar
tanpa perlu repot menghitung dentang jam.”

“Dari jaman ke jaman,
Aku menjadi tradisi, tradisi Luka.
Aku menjadi sejarah, sejarah lupa.
Dan aku adalah Luka yang tumbuh…
Aku Luka yang subur di sejarah lupa yang gembur…”

Tawar, Min…
Begitu Luka bicara. Dia bukan mawar.
Dia bilang hatinya benar-benar jadi tawar,
bila hanya mendengar komentar,
bila hanya melihat tawar-menawar,
yang tak miliki ujung pangkal.

“Aku ini Luka. Aku bukan manja.
Dan aku bilang aku tak butuh kebaya di bulan April,
walau bukan berarti aku bersepakat dengan panty dan bikini.
Dan aku bilang aku tak butuh palu pasal ataupun aturan,
meski bukan berarti aku bersepakat dengan masyarakat tanpa etika.
Tak adakah yang punya kesanggupan mengerti, meski ia hanya seuntai saja?”

Min,
percayakah kau kalau kubilang tadi malam Luka menggebrak meja?
dia bilang, “sejatinya itu apa arti kesadaran? Hakikatnya itu apa arti memanusia?
Apa kita butuh Luka baru untuk memula jaman? Apa kita butuh kitab bila sudah kenal cinta?”

Sapih, Min…Sapih!
Luka bilang dia butuh sapih,
dan sapih itu bernama cinta.

“Sejarah Luka butuh cinta.
Sejarah lupa butuh tresna.”

Luka mengerang, tangannya mengepal.
“Tapi apa cinta membuat kita mengenal hak?
Apa cinta membuat kita mengerti hak?
Apa cinta membuat kita memahami kwajiban?”

Dan aku tak bisa menjawab tanyanya, Min…
Aku hanya punya kesanggupan untuk diam.

“Aku Telaga Luka.
Lukaku punya akar.
Lukaku bisa berotasi.
Sayangnya dia tak bisa orasi.
Dan penawar yang bukan komentar tak jua datang,
meski jam bezoek sudah pulang masuk kandang.”
Luka menangis. Air matanya jatuh ke dalam asbak.

Min,
tapi bukan Luka namanya jika dia tak bisa tertawa.
Di saat yang sama ia malah teringat padamu.
Katanya, dia hanya mau percaya padamu.
Seperti namamu, kau itu memang miskin,
tapi kau tak memilih jadi rudin.
Kau pun bicara tak berpilin,
sedang langkahmu sudah jadi sarapan rutin.

Min, Luka bertanya padamu…
Katanya, hei kau yang miskin tapi tak rudin,
katakanlah dimana gerangan maha samudra itu?
Sebab hanya dia yang sanggup melarung Telaga Luka,
dan semata lantaran tresna belaka…

Min,
tadi malam aku berbincang dengan Luka,
sampai kami kehabisan kopi juga persediaan air mata.
Satu kalimatnya menjadi penerang ruang tidurku. Katanya,
“aku adalah si Telaga Luka. Aku masih Luka. dan Luka ini punya satu pinta untukmu…
Luka tak pernah boleh jadi lupa! Dan jangan pernah bacakan sajak untukku, di bulan keramat!”

2013
cin hapsari tomoidjojo