Tags

, , , , , , ,

pawonpotEpisode kali ini adalah soal bercocok tanam, atau tepatnya ‘terpaksa’ bercocok tanam. Kata terpaksa sebenarnya tidak terlalu tepat digunakan, aslinya saya adalah penikmat tanaman. Ya, saya suka melihat tanaman yang tertata maupun yang tumbuh bebas, saya juga suka melihat mereka yang bergerombol melahirkan gelombang hijau yang bergerak penuh gelora ataupun mereka yang lirih seorang diri saja. Tanaman selalu memberi kesan segar dalam benak saya dan setiap melihat tanaman kepala saya akan dipenuhi dengan imaji udara segar, tanah basah dan air yang bergemericik. Sialnya, kata orang tangan saya panas dan hal itu membuat saya harus menjaga jarak yang cukup konstan dengan para tanaman, kecuali berlaku sebagai penikmat saja.

Tapi dalam hidup, pasti ada yang pertama kali. Dan kali ini, saya mencoba mengadu untung, saya terpaksa berduel dengan tangan panas saya dan mari kita lihat, saya atau tangan panas saya yang akan menang! Sudah pasti ada sebabnya mengapa saya harus berduel dengan tangan panas saya dan sebabnya tak lain dan tak bukan adalah mereka, si anak-anak gang itu…

Saya memang tidak tinggal di komplek perumahan, namun di sebuah perkampungan di perbatasan Jakarta dan Bekasi, atau tepatnya di sebuah gang kecil, sebut saja namanya Gang Goyang. Dan sebagaimana wilayah perbatasan lainnya, gang dipenuhi dengan rumah-rumah yang saling berdempetan dan menjadi penghubung antar wilayah yang satu dengan yang lain. Gang Goyang, tempat saya tinggal, bukan sejenis gang tikus, dia lebih besar dari pada gang tikus dan entah apa nama yang pantas dilekatkan untuknya.

Gang jenis ini tak kalah sibuk dari jalan besar lainnya. Tiap detik, tiap menit, selalu ada saja kendaraan yang lewat. Tak ada jadwal libur pasti untuk gang terkecuali salah satu penghuni gang sedang punya gawe alias sedang mengadakan hajatan. Syukuran jenis itu juga tidak akan berlangsung lama, paling-paling hanya satu malam saja karena biaya untuk menutup jalan tidaklah sedikit jumlahnya. Payahnya, malam yang jelas-jelas merupakan waktu beristirahat pun tidak kemudian membuat gang menjadi sepi. Tetap selalu ada saja kendaraan yang lewat, apalagi jika malam itu adalah weekeend! Segerombolan remaja meraung-raung dengan knalpot bocor pada jam dua dini hari adalah fenomena yang biasa.

Nah, bisa bayangkan bagaimana padatnya gang jenis itu, bayangkan pula bagaimana temperamen orang-orang yang tinggal di gang jenis itu dan bagaimana interaksi mereka. Hampir setiap orang punya hobi bicara kelewat lantang alias berteriak. Mungkin mereka pikir mereka harus bersaing dengan suara kendaraan bermotor, suara televisi dan juga suara tetangga sebelah rumah yang sama kerasnya dan itulah yang membuat hobi mereka tumbuh subur. Anehnya, meski sebenarnya bisa sama-sama mendengar bahkan desahan tetangga sebelah rumah, tetapi mereka ini mendadak tuli jika mendengar anak-anak Gang Goyang ramai berkumpul di tengah malam! Ya, dan inilah yang menjadi masalah saya!

Anak-anak Gang Goyang, adalah anak remaja usia sekolah. Meski mayoritas dihuni anak yang duduk di bangku sekolah menengah atas tetapi terkadang anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun turut kongkow-kongkow bersama mereka yang lebih dewasa. Mereka ini, berkumpul mulai sedari pagi atau siang, yang pasti sebelum jam masuk sekolah, lalu sore setelah selesai dan kemudian berkumpul lagi malam lepas adzan Mahgrib atau Isya! Dahsyat bukan?! Mereka berkumpul melebihi apapun, bahkan terik maupun hujan lebat tak menyurutkan minat mereka! Dan hebatnya lagi tak ada yang pernah menegur mereka, tidak orang tua, tidak pak ustad, dan tidak pula pak RT! Wwwaaaaaa! Dan bagaimana dengan jam malam pelajar? Ah, sudahlah… Begitu jika mengutip Babe Cabita atau Ficocacola.

Pernah pada suatu malam, saya terpaksa menyatroni mereka karena kebetulan keponakan saya yang masih berusia kurang dari lima bulan datang dan terus menangis. Saya sengaja berdiri di depan pintu dan sekedar memasang tampang angker sambil mendengar obrolan mereka. Tak ada obrolan yang menarik. Semua sekedar ulasan perilaku mereka ketika bertemu teman atau lawan atau ejekan-ejekan diantara mereka. Saya malas menegur dan saya pikir tangis keponakan saya ditambah wajah angker yang saya pasang akan membuat mereka risih dan segera angkat kaki, tapi ternyata… Jauh panggang dari api! Alhasil, saya pun harus menggunakan jurus seribu mulut untuk mengusir mereka dan jurus ini pada akhirnya bukan yang terakhir. Saya harus mengulang-ulang jurus ini sampai saya sendiri merasa putus asa.

Ah, jangan bayangkan saya bicara dengan nada kasar penuh jeritan dan amarah. Tidak! Saya tidak bicara dengan bahasa itu. Saya pikir saya pernah muda dalam arti pernah memiliki pengalaman kongkouw-kongkouw yang sama (psstttt! saya sekolah di STM jadi tahu persis arti kata nongkrong!) dan saya pikir saya bisa memahami kondisi yang ada dan lantaran hal itulah saya selalu mengingatkan diri saya untuk mencoba bicara baik-baik kepada mereka. Dan seperti biasa, niat baik tak selamanya bersambut. Tak ada pengertian dan mereka pun lebih menjadi-jadi. Jam dua dini hari, jam empat dini hari, menjadi waktu kepulangan yang biasa tuk anak-anak Gang Goyang. Keriuhan mereka pun membuat papa saya gerah, terkadang dia keluar dengan tongkat di tangan sebagai ancaman.

Situasinya semakin buruk dan harus ada jalan keluar yang lebih pintar. Alhasil, setelah berdiskusi sana-sini, khususnya dengan Pepa alias si spesial, maka diputuskan untuk menaruh jajaran pot di muka teras rumah saya yang selama ini dijadikan ‘posko’ anak-anak Gang Goyang. Dulu, ide ini pernah disarankan mama tapi saya tolak mentah-mentah dengan alasan saya ingin berbagi sedikit ruang mengingat lahan tuk bermain semakin kurang. Melihat orang bisa berteduh di bawah teras saya ketika hari hujan menimbulkan rasa senang di hati, demikianpun ketika melihat para ibu dengan bayi-bayi mereka berkumpul di depan teras untuk sunbathing. Perasaan yang sama datang ketika menyaksikan tukang sayur ataupun para penjaja makanan yang saling berlomba menawarkan dagangan di depan teras saya. Kesenangan kecil itu terpaksa saya kebas dan saya mulai was-was berpikir apakah project ini akan berhasil.

pawonpotAkhirnya, pada sebuah hari minggu, setelah berbelanja beberapa pot, tanaman dan beberapa perlengkapan lain dengan Pepa, pot-pot cantik pun mulai berjajar di muka teras. Awalnya tak seberapa, tapi ditambah sumbangan tanaman dari tangan dingin ayah Pepa, pot yang ada segera bertambah banyak. Teras menjadi rimbun. Pisuhan anak-anak Gang Goyang pun sempat terdengar dan terkadang mereka pun tak engan menggeser pot yang ada. Satu, dua pot malahan juga sempat terjatuh ntah tersenggol apa, tapi niat pantang surut! Meski sedih hati melihat tanaman patah atau pot pecah tapi tanaman-tanaman itu segera menjadi bagian keseharian yang tak menakutkan apalagi merepotkan, dan saya akan segera kembali merapikan pot-pot itu dengan senang hati.

Kini, meski harus merelakan posko berbagi itu tapi saya pikir saya berbagi hal lainnya; hijau dedaunan yang segar. Terkadang ada pujian mampir ketika saya sedang menyirami tanaman dan itu sudah dari cukup untuk membayar perasaan bersalah saya. Ya, meski untuk sementara waktu ini saya berhasil mematahkan mitos tangan panas tetapi hati kecil saya masih juga tercekat. Pada kenyataannya saya gagal memberi ‘pengertian’ kepada anak-anak itu. Saya hanya berhasil mengusir mereka. Dan setelah berpindah-pindah untuk mencari posko baru, mereka pun tertambat di parkiran Indomaret yang baru saja di buka tak jauh dari tempat kami tinggal. Mereka, anak-anak Gang Goyang, menghabiskan waktu di depan swalayan, meniup pluit dan menarik recehan dari para pengunjung yang mampir. Ya, mereka lebih memilih menjadi tukang parkir. Dan sekolah??? Lah, sudah ahh…

[] c