Tags

,

pawonpotYa, urusan tanam menanam memang menjadi hal baru yang cukup menyenangkan di tahun ini, meski harus diawali dengan perasaan gemas setiap malam (lih. Episode Terpaksa Bercocok Tanam dan Anak-anak Gang Goyang). Dan inilah pengalaman saya, klan tang-panas alias si tangan panas, yang nekat untuk bercocok tanam…

Ya, saya adalah sebagian dari klan tang-panas alias si tangan panas. Entah siapa yang memberi label itu kepada saya tetapi yang pasti mitos menyebutkan jika klan tang-panas tidak berbakat dalam perkara tanam-menanam–mungkin terkecuali tanam menanam perkara dan masalah *lol…

Dan hal itu sangat membekas dalam benak saya semenjak saya kanak-kanak. Alhasil, meski menyukai rerimbunan berwarna hijau, seumur-umur saya tidak pernah berniat mengurus tanaman berpot. Jangankan merawat tanaman, membeli pun tak pernah terbayang dalam benak saya, meski hal itu pernah saya coba-lakukan. Saya pikir, saya bakal susah hati kalau mendapati tanaman saya mati lantaran tangan panas saya dan karena hal itulah saya tak pernah mau punya tanaman. Clear enough, isn’t?! :)

Sebenarnya, saya bukan tak pernah tak bersinggungan dengan tanaman. Dulu, jaman saya masih kecil, kami mendiami rumah dengan beberapa pot. Meski tak banyak namun mama saya telaten mengurusnya dan tanaman itu cukup rimbun menyejukkan mata. Tapi sekali lagi, itu tanaman mama saya, bukan milik saya dan saya sama sekali tak punya kewajiban apapun tuk merawat dan membesarkan tanaman itu. Saya hanya menyiram tanaman sesekali dan akhirnya kegiatan itu saya hentikan sama sekali ketika saya mulai merasa jika tanaman yang saya siram tak bertambah besar dan malahan menjadi layu lalu mati. Setelah masa-masa itu, kalau ada tanaman mama yang mati, saya hanya tertawa menggoda mama dan tawa itu akan dibalas omelan panjang tiada henti.

Ujicoba pertama saya terhadap tanaman dimulai dengan tanaman air. Ya, saya memang hanya berani menanam pohon yang hidup di dalam air. Saya pikir tanaman itu mudah beradaptasi dengan diri saya yang tak telaten dan bertangan panas *hei, tanaman yang beradaptasi dengan saya dan bukan sebaliknya; hahaa… Dan beberapa dari tanaman itu memang mampu bertahan. Meski tak pernah benar-benar mengurusnya tapi saya suka membanggakan tanaman-tanaman air itu. Bukan semata-mata lantaran tanamannya saja tetapi lebih karena pot-pot yang saya buat, saya hias sendiri dan kemudian saya tempel di dinding kamar kost-kostan saya yang ala kadarnya. Alhasil, pot-pot itu membuat kamar saya menjadi cukup nyentrik karenanya.

Melihat hobi saya, pernah satu kali saya mendapat hadiah ulang tahun berupa tanaman dari Tita Eev, sahabat saya. Tanaman itu dia beli di sekitar Bundaran UGM dan saya sendiri sudah lupa apa namanya, walau Tita menyebutnya dengan nama ‘Cinta’ (sebenarnya sebutan ini datang dari jarwodosok nama saya dan saya tak akan pernah mau menyebut nama lengkap saya untuk kepentingan ini). Menerima hadiah ini, sontak hati saya ketar-ketir! Ya, sejauh ini saya hanya menanam tanaman air dan tanaman dari Tita tidak menggunakan air sebagai mediumnya. Ah, kegelisahaan hati saya terjawab sudah… Dan benar, pada akhirnya ‘Cinta’ dari Tita pun kandas meski saya sudah berusaha merawatnya dengan hati-hati. Pengalaman pahit kembali berulang!

pawonpotUjicoba kedua saya terapkan ketika saya menempati sebuah rumah kontrakan di utara Jogja. Berhubung rumah tersebut lumayan lapang maka eksperimen saya pun bisa berjalan. Saya dan adik saya kemudian membeli beberapa tanaman, dan sisanya, kami mendapat tanaman dari pinggir jalan atau bagian kebun yang tak terawat. Akhirnya, untuk pertama kali dalam hidup saya memiliki pot tanaman saya sendiri. Jenis tanaman yang ada di sana tidak terlalu menawan tapi tak mengapa, sebab jenis tanaman adalah perkara nomor dua. Yang terpenting bagi saya yang termasuk klan tang-panas, punya keberanian untuk mengurus dan merawat tanaman sendiri sudah merupakan hal yang luar biasa! Ujicoba ini berhasil sampai akhirnya saya dan adik saya memilih kembali ke Jakarta. Hibah tanaman sedikit melipur lara karena setidaknya saya tahu kalau mereka tak kan terlantar dan tanaman-tanaman itu pun segera berpindah tangan.

Dan sekarang, setelah beberapa waktu lamanya, saya kembali berurusan dengan para tanaman dan sejauh ini, meski minim pengetahuan tentang tanam-menanam, saya berhasil menjaga kelangsungan hidup mereka. Tanam-menananam sendiri sebenarnya tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Memang ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, tapi itu pun sebenarnya jenis pengetahuan tingkat dasar, seperti dimanakah tanaman akan diletakkan; di dalam ruangan atau di luar ruangan; di dalam pot (lahan terbatas) ataukah di lahan luas; terkena sinar matahari langsung ataukah tak langsung. Setelah mengetahui hal tersebut kita bisa mencocokkan jenis tanaman yang akan kita pilih. Selebihnya, apakah jenis media tanamnya, bagaimana penggunaan pupuknya dan bagaimana metode penyiramannya akan mengikuti jenis tanaman yang ada dan semua itu bisa dipelajari bersamaan dengan kita merawatnya setiap hari.

Pastinya akan ada satu dua tanaman yang tewas mengenaskan dan tak saya pungkiri, terkadang itu membuat nyali saya kecut, tapi setidaknya sebahagian besar dari mereka masih ada bersama saya, hingga hari ini. Ya, mereka, para tanaman dalam pot kecil saya, telah berhasil bertahan dan mereka layak mendapat applause karenanya!

Saya klan tang-panas dan saya berhasil merawat tanaman! :)

[] c